Aisyah Bukan Istri Mandul

Aisyah Bukan Istri Mandul
BAB 84


__ADS_3

Kedatangan Iza ke rumah Bian langsung di sambut oleh neneknya. Wanita 67 tahun itu sudah tidak sabar lagi untuk memperkenalkan Iza kepada keluarga besarnya. Namun, pada saat melihat Iza dijemput menggunakan motor, wanita itu langsung marah kepada cucunya. Seharusnya Bian menjemput menggunakan mobil, bukan motor.


“Aduh Sabian ... kenapa malah naik motor sih! Nenek tadi udah bilang jemput pakai mobil!” gerutu neneknya.


Sabian yang baru saja melepaskan hanya bisa mendengus dengan kasar. Bukannya berterima kasih, malah kena sembur.


“Masih untung Bian jemput dan Bian temani di salon, Nek! Kalau bukan karena Nenek yang memohon, Bian males banget jemput Bu Iza. Mending Bian tidur si kamar!”


“Sabian!” tegur neneknya. “Bu Iza tidak usah dimasukkan ke dalam hati Sabian, ya. Anaknya memang suka ceplas-ceplos.”


Iza tersenyum kecil. Baginya yang sudah terbiasa menghadapi Bian di kelas, sama sekali tidak merasa tersinggung dengan ucapan Bian. “Iya Bu, enggak apa-apa. Saya gurunya Bian, jadi saya bisa memahaminya.”


“Alhamdulillah kalau Ibu Iza bisa memahami Sabian. Ya udah, ayo masuk!”


Iza langsung di bawa masuk kedalam rumah yang sudah hadir beberapa anggota keluarga besar nenek Rika ( nama neneknya Sabian )


Semua mata terpana akan kedatangan sosok Iza yang datang bersama dengan nenek Rika, termasuk juga sebagai Raka, ayah Sabian yang merasa sangat terhipnotis dengan penampilan Iza malam yang. Wanita itu terlihat sangat cantik, apalagi dia mengungkapkan pakaian pilihannya yang dia titipkan pada Sabian.


Masya Allah, ternyata tidak sia-sia usahaku untuk mencari pakaian itu. Ternyata sangat cocok dengan tubuhnya.


“Semuanya, perkenalkan ini adalah guru les Sabian. Namanya Azizah, tetapi sering di panggil Bu Iza. Ibu Iza ini kedepannya akan menjadi anggota keluarga kita, karena aku berencana untuk menjodohkan Ibu Iza dengan Raka. Untuk kali ini aku yakin dengan pilihanku, karena semua yang dibutuhkan oleh Sabian ada padanya,” jelas nenek Rika di depan keluarga besarnya.


Raka yang mendengar pengakuan ibunya langsung membulatkan matanya dengan lebar. Bagaimana bisa ibunya begitu cepat mengambil sebuah keputusan sepihak tanpa ingin berdiskusi terlebih dahulu dengannya.


“Ibu!” tegur Raka yang merasa tak enak hati kepada Iza. Begitu juga dengan Iza yang sangat terkejut dengan apa yang diucapkan oleh neneknya Bian. Sekalipun tidak menyebutkan dengan jelas tetapi Iza sudah tahu ke mana arah pembicaraan nenek Rika.


“Bu Iza, tadi usah diambil hati! Ibu bercanda, kok,” ucap Raka pada Iza.


“Ibu, tolong jangan bikin malu Raka di depannya. Raka tahu ibu berharap jika Iza menjadi ibu sambung untuk Bian, tapi enggak seperti ini, Bu. Dia itu masih punya suami,” bisik Raka pelan pada ibunya.


Sontak sang ibu langsung terbelalak dengan lebar saat mendengar penjelasan Raka. Dengan cepat, dia pun minta maaf pada Iza.


“Em .. Bu Iza, tolong jangan salahkan dulu dengan ucapanku tadi ya. Maksudku Ibu akan menjadi bagian dari keluarga ini karena telah ikut serta mendidik Sabian. Ya .. syukur-syukur berjodoh sih dengan ayahnya.”

__ADS_1


Karena tak ingin melihat suasana menjadi tegang, Raka segera mengajak keluarga besar dari ibunya untuk langsung menyantap makan malamnya. Semua yang datang pun menyambut Iza dengan positif. Bahkan semuanya sangat menyetujui apa yang diucapkan oleh ibunya Raka. Sudah cukup 17 tahun menjadi seorang duda dan kini Raka harus membuka lagi lembaran hidup baru, karena dia juga butuh teman hidup.


Dalam lingkungan meja makan yang besar, Iza tak bisa berkata-kata apa-apa lagi. Jika tahu di rumah ini akan ada acara keluarga, lebih baik dia tak datang.


“Kakek ... Nenek ... sudahlah, jangan bahas seperti itu! Kasihan Bu Iza menjadi risih! Lagian nenek ngapain sih jodoh-jodohin ayah sama Bu Iza? Kayak ayah enggak laku aja! Toh kalau ayah mau nikah juga udah dari jaman dulu. Buktinya ayah enggak nikah berarti ayah menikmati dudanya. Jika malam ini masih membahas masalah jodoh perjodohan, Bian enggak mau lagi les sama Bu Iza. Titik!” Sabian mengeluarkan semua unek-unek yang ada di dalam hatinya. Entah apa yang ada di pikirannya sehingga dia mau turut menanggapi topik pembicaraan malam ini.


“Tapi Ayah kamu itu pria normal, Bian! Dia butuh seorang Istri untuk mendampingi hidupnya dan juga merawat kamu. Yang diharapkan oleh nenek kamu itu juga demi kebaikanmu. Bukankah selama ini kamu sangat ingin memiliki seorang ibu. Mungkin saja saat ini Allah telah mengirimkan Ibu Iza untuk menjadi ibu kamu,” timpal Rama, adik dari nenek Bian.


“Tapi Bian enggak bakalan pernah setuju jika Bu Iza menjadi Ibu sambung Bian! Ayah bisa cari wanita lain tapi enggak boleh sama Bu Iza! Di dunia ini banyak wanita yang mau menerima ayah, sekalipun Ayah juga tetap ayah duda kaya. Bian yakin dengan jari telunjuknya ayah bisa memilih wanita yang diinginkannya, tetapi nggak boleh sama Bu Iza!” Sabian yang merasa tidak terima akan rencana perjodohan antara ayahnya dengan gurunya memilih untuk meninggalkan meja makan sekalipun belum selesai.


“Sabian!” teriak ayahnya, tetapi Sabian tak peduli.


Pada akhirnya Raka pun meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada Iza, karena telah membuat suasana menjadi tidakn nyaman. Raka tidak berharap lebih kepada Iza, sekalipun di dalam dadanya ada getaran-getaran tak menentu jika menatap wajahnya.


Untuk kali pertamanya Sabian menolak seorang wanita yang hendak dijodohkan dengan ayahnya. Entah mengapa hatinya sangat tidak terima jika wanita itu adalah gurunya sendiri Mungkinkah karena sebuah kesepakatan yang telah mereka buat atau Bian yang telah merasa nyaman dengan gurunya itu.


“Argh ... kenapa juga ini harus berencana menjadikan Ayah dengan Bu Iza, sih? Apakah tidak ada wanita lain selain Bu Iza? Pokoknya ayah enggak boleh nikah sama Bu Iza!” Entah mengapa kali ini Bian tidak bisa mengendalikan emosionalnya.


***


Hanafi terlihat sangat panik ketika istrinya memuntahkan isi dalam


perutnya. Entah sudah berapa kali Ais keluar masuk ke kamar mandi hanya untuk mengeluarkan cairan bening dari perut. k


Karena sudah malam dia tidak berani untuk menghubungi ibunya dan memilih untuk merawat Ais, seorang diri karena Ais sama sekali tidak mau saat diajak ke rumah sakit.


“Ais, sebenarnya kamu kenapa sih? Apakah kamu lupa tidak meminumnya?”


Tubuh Ais sudah terasa lemas karena perutnya melihat seperti sedang diremmas-remmas.


“Enggak tahu, Mas. Perut Ais sakit banget kayak diremmas-remmas. Aduh ... sakit, Mas ... ”


“Aduh ... gimana dong, Ais? Kita Ke rumah sakit ya! Aku enggak mau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.”

__ADS_1


“Enggak mau, Mas! Ais enggak mau ke rumah sakit! Di sana bau obat-obatan, sama aja membunuh Ais, Mas! Ais enggak tahan sama sama bau rumah sakit!”


Karena Ais tidak mau, Hanafi hanya bisa mengelus-elus perut istrinya, berharap rasa sakit itu hilang. Bahkan Hanafi sempat memohon kepada Allah untuk menggantikan rasa sakit yang tengah dirasakan oleh istrinya.


“Ais ... bagaimana? Apakah perutku masih sakit?”


Kepala Ais mengangguk dengan pelan sambil menahan rasa sakit disertai rasa yang terjadi gejolak ingin muntah.


Hueek ... Ais menutup mulutnya dan segera berlari ke kamar mandi. Namun, setelah sampai di kamar mandi rasa ingin muntah itu perlahan hingga.


“Mas, apakah aku harus tidur di kamar aja, ya? Soalnya rasa sakit dan rasanya itu akan hilang kalau aku masuk ke kamar mandi,” ucap Ais dengan mata yang telah mengembun. Entah apa yang tengah terjadi kepada dirinya malam ini sehingga rasanya sangat tersiksa.


Hanafi juga tidak tega dengan apa yang sedang dirasakan oleh istrinya. “Hus .. enggak boleh putus asa seperti itu!”


“Terus Ais harus gimana lagi, Mas? Tiap Ais masuk kamar mandi rasa sakit itu hingga.”


Hanafi langsung menarik pelan Ais dan langsung membawanya ke dalam pelukan. “Jika rasa sakit itu bisa berpindah ke dalam tubuhku, maka aku ikhlas agar kamu tidak kesakitan seperti ini.”


Ais langsung menumpahkan air matanya di dalam pelukan Hanafi, karena tidak tahu apa yang harus dia lakukan agar perutnya tidak menyiksanya.


“Ais ... apakah ini karena pelayaran kita tadi malam sehingga menyakiti anak kita di dalam sana?” celetuk Hanafi sambil mengelus rambut Ais.


Ais hanya terisak, tiba-tiba langsung mengusap air matanya. “Mas Hanaf gak usah aneh-aneh! Enggak ngaruh, Mas!”


“Tapi buktinya selama kita tidak melakukan pelayaran perut kamu baik-baik aja. Aku takut jika pelayaran tadi malam benar-benar menyakiti anak kita.”


“Mas ... sebenarnya lulusan SD atau S1, sih? Enggak ada teori yang mengatakan jika pelayaran anak menyakiti janin yang sedang tumbuh. Emangnya Mas Hanaf mainnya kasar? Kan enggak? Terus kenapa sakitnya baru sekarang?”


“Ya, kali aja, Ais. Aku kan juga enggak tahu. Kalau seperti aku jadi takut untuk melakukan pelayaran lagi sebelum janin kita kokoh.”


Ais yang sedang menangis langsung menabok punggung Hanafi. “Sudahlah enggak usah dibahas lagi! Sekarang gendong Ais untuk keluar, mumpung perut Ais udah enggak sakit!” titahnya.


Dengan cepat Hanafi langsung mengiyakan perintah istrinya dan langsung membopong tubuh untuk kembali ke kamar.

__ADS_1


...###...


__ADS_2