
Dengan penuh rasa sabar Zura menunggu sang kakak hingga selesai mengerjakan sholatnya, karena Zura ini segera memecahkan rasa penasarannya. Jika memang kakaknya telah menyimpan satu nama untuk selamanya, berarti dia memang sangat terpaksa saat menerima perjodohannya, karena cintanya telah disimpan untuk Yusuf.
“Ra, kamu mau ngomong apa sih? Kayaknya kok penting banget. Kenapa? Ada masalah dengan pembuatan skripsinya?” tanya Aluna yang kini juga telah naik keatas tempat tidur.
Bola mata Zura menatap lekat pada wanita yang berstatus kakak kandungnya. Sejak kecil keduanya saling berbagi suka dan dukanya. Namun, ternyata dalam diam sang kakak menyembunyikan sesuatu yang sangat penting darinya. Entah sudah berapa lama sang kakak menjalin hubungan percintaan dengan Yusuf.
“Kak Luna, apakah Kak Luna yakin dengan perjodohan itu? Jika kakak keberatan, kakak ngomong dong sama Abah! Jika Kakak enggak berani setidaknya Kakak ngomong sama Zura, agar Zura bisa membantu Kak Luna keluar dari perjodohan ini! Kak, Zura tau kakak ingin berbakti kepada orang tua, tetapi kakak juga harus bisa menyuarakan isi hati Kakak yang sesungguhnya. Zura yakin jika Kak Luna ngomong sama Abah jika Luna udah mempunyai calon imam, mungkin Abah tidak ada menyetujui perjodohan itu. Kak Luna, tolong jujur dengan perasaan kak Lun, sebelum terlambat!”
Aluna langsung menautkan kedua alisnya, karena tidak tahu maksud dari ucapan Zura yang tiba-tiba membahas perjodohan yang telah ditentukan oleh Abahnya. “Kamu ngomong apa sih, Ra? Kakak gak ngerti.”
“Kak, Zura udah tahu semua, jadi Kak Luna enggak usah menutupi lagi dari Zura. Sebenarnya Kak Luna hanya terpaksa aja kan menerima perjodohan itu. Jika Kak Luna keberatan, kenapa Kak Luna enggak ngomong sama Abah, Kak? Kak Luna berhak untuk menolak dan Kak Luna juga berhak bahagia.”
Seketika Luna menunduk lesu. Sekalipun Luna menolak, tetap tidak akan mengubah keputusan Abahnya untuk tetap menjodohkannya dengan Sabian, karena itu sudah kesepakatan antara keluarganya dan juga keluar Sabian saat itu.
“Zura juga tahu jika sebenernya Kak Luna sama Kak Yusuf ternyata mempunyai hubungan yang sepesial. Iya kan? Pantas aja selama ini terlihat dekat, ternyata sama-sama saling memiliki perasaan,” lanjut Zura lagi.
Aluna kini langsung mendongak dan membulatkan matanya dengan lebar. Entah darimana Zura bisa mengetahui sebuah kenyataan yang dipendamnya. “Ra, kamu ... kamu tahu darimana, Ra?” Aluna bertanya dengan suara bergemetar karena dia benar-benar sangat terkejut dengan ucapan Zura.
“Tidak perlu Kak Luna tahu aku mengetahuinya darimana. Kam, kenapa Kak Luna menyembunyikan ini dari Zura? Apakah Kak Luna sudah tidak mempercayai Zura lagi? Bukankah sejenak dulu kita sudah terbiasa saling berbagi kisah suka dan duka kita? Lalu mengapa kenyataan seperti ini Kak Luna malah memendam seorang diri, Kenapa Kak, kenapa?”
Seketika Luna langsung memeluk Zura untuk menumpahkan perasaannya saat ini. Bukan ria tidak ingin berbagi, hanya saja Luna tidak ingin membuat Zura dan yang lainnya merasa kecewa dengan perasannya yang telah jatuh cinta pada Yusuf.
“Ra, tolong jangan beritahu Abah. Kakak belum siap melihat Abah kecewa, Ra.”
Zura masih tak habis pikir jika sang Kakak masih tetap ingin menyembunyikan perasaannya yang sesungguhnya. Dengan cepat Zura langsung melepaskan pelukannya Aluna. “Maaf Kak, Zura tetap akan memberitahu Abah tentang masalah ini, karena Zura tidak mau melihat Kak Luna tertekan.”
“Ra ... enggak Ra! Enggak boleh! Jika kamu mengatakan pada Abah, bagaimana dengan Mas Yusuf. Dia akan merasa sangat bersalah, karena menganggap dirinya tidak bisa mengemban amanah dari Abah.”
__ADS_1
“Kalau Abah sampai merasa kecewa dengan Kak Yusuf berarti Abah sangat egois. Kak Luna tenang aja, Zura akan membantu Kakak untuk keluar dari masalah ini!” tegas Zura, yang kemudian memilih untuk beranjak meninggalkan kamar Aluna.
“Ra ... jangan Ra!” teriak Aluna. Namun, sayang Zura sama sekali tidak peduli. “Astaghfirullahaladzim, Zura! Darimana dia tahu tentang semua ini?”
***
Sesuai dengan janjinya, malam ini keluarga Bian datang ke pesantren. Sebenarnya bukan untuk melihat Bian, tetapi untuk membicarakan masalah perjodohan Bian dengan Aluna.
Kedatangan keluarga Sabian pun juga menggandeng Iza, yang saat ini telah resmi untuk menjadi bagian dari keluarga Sabian.
"Assalamualaikum,” sapa Raka saat kedatangannya disambut hangat oleh keluarga Aluna.
Tak lupa Aluna dan Sabian pun juga turut menyambut kedatangan ayah dan juga sang nenek. Namun, sosok wanita membuat pandangannya tak lepas untuk terus memperhatikan wanita yang turut serta bersama dengan keluarga Sabian. Dan saat diingatnya kembali, ternyata Aluna memang pernah melihat sosok itu saat pertemuan pertamanya dengan keluarga Sabia beberapa waktu yang lalu.
Sepertinya aku tidak asing dengan wanita itu. Tapi siapa ya? Mengapa aku tidak bisa mengingatnya. gumam Aluna yang masih memperhatikan langkah Iza.
“Wassalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh. Mari silahkan masuk!” Umi menyilahkan keluarga Sabian untuk masuk kedalam rumah utama. “Silahkan duduk!” lanjutnya lagi.
Umi langsung tersenyum saat mendapatkan pertanyaan dari keluarga Sabian. “Alhamdulillah Sabian selama disini tidak membuat masalah. Anaknya baik dan penurut kok.”
Ya ... puji aja terus Sabian karena Umi belum tahu siapa Sabian yang sesungguhnya. Besok kalau udah tahu kartu as-nya baru deh Umi sama Abah kelabak ngurusin anak itu. Bisa-bisanya bilang anak baik dan nurut! gerutu Zura dalam hati. Sungguh dia tidak terima saat Uminya memuji Sabian.
“Alhamdulillah jika Sabian disini bisa merubah sikapnya. Saya berharap Sabian benar-benar bisa berubah,” lanjut neneknya lagi.
Berubah? Dipikir Sabian itu powerrengger apa? batin Zura lagi.
Setelah panjang lebar membicarakan Sabian, Aluna memberanikan diri untuk sedikit menyela pembicaraan karena rasa penasaran yang semakin dalam. Sejak pertama kali melihat Iza, Aluna merasa jika sebelumnya Aluna pernah melihat sosok Iza, akan tetapi Aluna lupa dimana tepatnya.
“Oh iya, Maaf Luna sedikit menyela. Luna hanya ingin bertanya apa Om Raka sudah menikah lagi?” tanya Aluna seraya menatap kearah Iza.
__ADS_1
Sadar karena belum mempersiapkan Iza pada keluarga Aluna, sang nenek tertawa pelan. “Oh ... maaf, nenek sampai lupa untuk memperkenalkan Iza. Jadi ini namanya Azizah, gurunya Sabian sekaligus calon ibunya. Karena sudah hampir delapan belas tahun ayahnya Sabian menduda, jadi tidak ada salahnya kan kalau dia memulai hidup baru. Ya itung-itung biar ada yang ngurusin masa tuanya nanti,” jelas nenek Sabian.
Sabian yang mendengar penjelasan neneknya langsung tersentak dengan keterkejutan. Bola matanya langsung membulat dengan lebar. “Apa? Bu Iza mau nikah sama ayah? Kok gitu! Enggak! Pokonya enggak boleh!” protes Sabian.
Semua mata pun tertuju pada Sabian, termasuk Abah dan Umi yang tercengang, ternyata suara Sabian bisa lebih tinggi.
“Sabian!” tegur neneknya dengan cepat.
“Nek, kenapa harus Bu Iza yang akan dinikahi ayah? Apakah tidak ada wanita lain selain Bu Iza!”
“Sabian cukup! Ini bukan di rumah kita! Tolong jaga sikap kamu!” tegas Ayahnya yang merasa sedikit malu.
“Pak Abdullah, maafkan Sabian, mungkin dia merasa shock karena sebelumnya dia belum mengetahuinya. Oh iya, apakah kami bisa meminta waktu sebentar untuk berbicara dengannya?” timpal sang nenek.
“Oh tentu saja bisa. Silahkan, Bu!”
Zura dan Aluna hanya saling melempar pandangan sebelum meninggalkan Sabian dan keluarganya. Dalam hati Aluna merasa sangat bersalah karena telah memancing keributan dengan menanyakan hal sensitif. Namun, Aluna benar-benar penasaran dengan Iza yang turut bergabung di keluarga Sabian.
“Ra, sepertinya kakak kenal deh sama wanita itu,” bisik Aluna pada Zura.
“Benarkah? Dimana kak Luna kenalnya?”
Aluna kini bisa mengingat dengan jelas jika dia dan Iza pernah satu sekolah semasa duduk di bangku SMA. Dan ingatannya tidaklah salah, setelah mendengar nama Azizah.
“Ra, di itu teman kakak semasa SMA.”
Zura yang mendengar langsung terkejut dengan pengakuan kakaknya. “Apa? Teman kak Luna semasa SMA? Kok bisa?” Zura langsung menggelengkan kepalanya karena tidak habis pikir, ternyata calon ibu mertuanya adalah temannya sendiri semasa SMA.
“Takdir macam apa ini!” gumam Zura yang masih merasa shock.
__ADS_1
...###...