Aisyah Bukan Istri Mandul

Aisyah Bukan Istri Mandul
BAB 87


__ADS_3

Setelah mendapatkan alamat rumah Ais, Raka pun langsung menuju ke alamat tersebut, meskipun harus dibantu dengan Google map. Berharap Google maps tidak membawanya masuk ke jurang, karena untuk menuju ke alamatnya harus melewati jalan bukit.


Saat ini hati Iza sudah lega karena telah keluar dari belenggu pernikahan palsunya. Untuk kedepannya Iza akan lebih berhati-hati lagi pada pria yang akan meminangnya. Dia tidak ingin kegagalan yang telah dialami akan terulang lagi. Iza berharap suatu saat berjodoh dengan pria yang benar-benar mencintainya dan menerima Iza apa adanya.


Rumah yang jauh dari pusat kota dengan suasana yang masih asri. Bahkan butuh waktu hampir 2 jam untuk sampai rumah itu, tetap tak membuat Raka dan Iza mengeluh leleh.


Pemandangan yang masih asri dan sejuk, membuat Raka menikmatinya, karena selama di ibukota jarang sekali dia menghirup udara segar.


“Iza ... apakah masih jauh lagi?” tanya Raka, karena saat ini Google mapsnya sudah tidak berfungsi, karena sinyal yang tidak bagus.


“Enggak tahu, Pak. Aku sendiri juga belum pernah kesini. Tunggu aku tanya sama Hanafi dulu.” Iza pun segera mengirim sebuah pesan pada Hanafi. Detik kemudian Iza bertanya pada Raka, “Pak, kita udah sampai dimana?”


“Kok malah tanya sama aku, sih? Aku enggak tahu, karena ini adalah kali pertamanya aku ke sini. Kamu gimana sih, Za!”


Iza langsung nyengir. Keduanya sama-sama tidak tahu telah sampai dimana. “Coba kita minggir dulu dan tanya sama warga, Pak. Mudah-mudahan mereka tahu alamat rumah Ais.”


Raka pun langsung mengangguk dengan pelan dan menampilkan mobilnya untuk bertanya kepada salah satu pemilik warung yang ada di pinggir jalan.


“Kamu tunggu sini aja biar aku yang turun!” kata Raka.


Iza mengangguk dengan pelan. “Iya, Pak.”


***


Di sisi lain saat mengetahui jika ayah dan gurunya pergi ke luar kota, Bian sangat marah. Entah atas dasar apa tiba-tiba dia ingin melampiaskan gejolaknya dalam hatinya pada samsak yang ada di dalam hatinya.


Sesuai dengan sebuah kesepakatan yang telah dibuat, seharusnya gurunya itu pergi menjauh seorang diri bukan malah membawa ayahnya. Namun, kenyataannya dia malah pergi ke luar kota bersama dengan ayahnya.

__ADS_1


Semakin lama ritme meninju samsak semakin tak beraturan membuat seorang pelatih yang ada di tempat gym langsung menahan samsak yang sejak tadi menjadi sasaran atas emosinya Bian.


“Bukan seperti ini cara melampiaskan sebuah kekecewaan. Apakah kamu tidak naik kelas?” tanya pelatihnya


“Apakah kamu kira aku terlalu bodoh sehingga tidak bisa naik kelas. Aku naik kelas. Apakah kamu akan percaya jika aku mengatakan akulah yang meraih tingkat pertama? Tentu tidak kan? Iya, aku bodoh telah percaya dan nurut dengan wanita itu!”


Reymond, yang tak lain adalah pelatihnya di gym, langsung menertawakan ucapan Sabian, karena dia memang tidak akan percaya jika sabyan mendapatkan peringkat pertama, karena selama ini Reymond tahu bagaimana kualitas Sabian di sekolahan. Namun, tiba-tiba tawanya pudar saat menyadari kalimat terakhir.


“Apa kamu bilang? Wanita? Hei ... apakah aku tidak salah dengar jika kamu tunduk pada seorang wanita? Apakah dia begitu berarti dalam hidupmu sehingga kamu tunduk dengannya? Sejak kapan kamu pacaran, Bi? Memangnya ada wanita yang mau sama anak brandal yang sering bikin ulah ini?” cibir Reymond dengan rasa tidak percayanya.


Sudah bisa dipastikan jika Reymond tidak akan percaya dengan apa yang dia katakan. “Reruslah tertawa sampai puas!”


Reymond yang merasa penasaran dengan apa yang terjadi kepada temannya itu memilih terus mengikuti langkah kaki Sabian untuk ke ruang ganti.


“Bi ... jelaskan apa yang telah terjadi. Aku pikir kamu lama tidak berkunjung ke sini karena lagi kena hukuman dari ayah kamu, ternyata malah sibuk pacaran! Cerita, anak mana yang telah meluluhkan hati seorang Sabian ini! Apakah dia cantik dan seksi?”


“Buang jauh pikiran itu! Dan asal kamu tahu, aku sama sekali tidak tertarik untuk berpacaran dengan siapapun. Jadi tidak usah berpikir macam-macam!” tegas Sabian.


“Lalu? Bukankah kamu tadi mengatakan jika kamu menyesal telah percaya dan menuruti wanita itu. Lalu yang kamu maksud dengan wanita itu siapa? Tidak mungkin itu nenek Rika, kan?”


“Mond, sudahlah! Aku sedang tidak ingin membahas tentang wanita itu!” Sabian pun langsung terlalu meninggalkan Reymond begitu saja.


“Heii ... Sabian ... tunggu!”


***


Seharusnya Ais merasa esok akan ada besar di rumahnya. Bahkan lebih besar dari sebelumnya. Semua ini karena pihak keluarga Hanafi yang memintanya. Namun, karena kehadiran seseorang tiba-tiba mood-nya hilang begitu saja, meskipun dia percaya jika suaminya sudah tidak memiliki perasaan apapun kepada wanita itu tetap saja hati Ais masih belum bisa menerimanya. Ada dua alasan yang membuat Ais belum bisa menerima kehadiran Iza dengan baik.

__ADS_1


Pertama, Iza adalah wanita yang telah menghancurkan rumah tangganya dengan Azam. Sekalipun Iza tidak mengetahui apa-apa tentang rencana yang telah dibuat oleh mamanya Azam, tetap saja hatinya masih berdenyut jika melihat wajah Ais.


Kedua, Iza adalah wanita dari bagian masa lalu suaminya. Meskipun saat ini mereka berdua sudah tidak memiliki perasaan apapun tetapi jika dibiasakan terus bersama, Iza takut rasa yang telah mati itu terpupuk dan menghijau kembali.


Ketiga, entah mengapa Aismerasa tidak senang jika melihat kedekatan antara ibu mertuanya dengan Iza yang terlihat sangat akrab. Namun, Iza tidak berani untuk mengungkapkan alasan itu kepada siapapun, termasuk dengan suaminya sendiri.


“Ais, kamu kok disini, sih? Kamu dicariin sama Pak Hanaf, lho!” Tiba-tiba saja Jelita membuyarkan lamunan Ais.


“Lita,” gumam Ais dengan pelan. “Kamu ngapain kesini?”


Jelita langsung menautkan kedua alisnya. “Lho, kok malah tanya seperti itu, sih? Ais, kamu kenapa terlihat tidak semangat dan tidak bahagia? Besok adalah acara besar kamu, Ais! Apakah kamu merasa menyesal telah menikah dengan Pak Hanaf?” celetuk Jelita tiba-tiba.


“Astaghfirullahaladzim, Lita! Kamu ngomong apa sih? Siapa juga yang menyesal telah menikah dengan Pak Hanaf? Aku sangat bahagia bisa menjadi istrinya, karena dia mencintaiku sangat tulus.”


“Lalu mengapa kamu bersembunyi di sini? Tahu nggak dari tadi tuh Pak Hanaf nyariin kamu. Ais, kalau ada masalah itu tolong dibicarakan baik-baik, jangan bikin orang khawatir. Kamu enggak kasihan lihat Pak Hanaf mondar-mandir nyariin kamu dari tadi? Kalau gak ingat siapa pemiliknya, mungkin udah aku tangkap dan aku kantongi Pak Hanaf,” seloroh Lita untuk mencairkan suasana hati Ais.


Helaan napas panjang terdengar begitu berat. Matanya menatap sang sahabat dengan lekat. “Lit, aku tuh lagi kesel karena dia!”


Lita yang merasa penasaran dengan kata dia langsung menggeser tubuh Ais agar dia bisa duduk di sampingnya. “Dia siapa?” tanya Jelita yang semakin penasaran. “Ais, bukankah kita sekarang adalah sahabat? Lalu apa gunanya sahabat?”


Dengan helaan napas panjang, Ais pun langsung menceritakan apa sebenarnya yang sedang menganggap pikirannya saat ini. Mungkin dengan mengeluarkan semua unek-unek dalam hatinya bisa membuatnya lebih lega, karena untuk saat ini Ais tempat untuk bercurah.


Jelita sebagai seorang sahabat, berusaha untuk mendengarkan keluh kesah yang sedang Ais curahkan, karena tidak baik jika wanita yang sedang hamil muda terlalu banyak beban pikiran, terlebih esok Ais ada acara di rumahnya.


“Ais, aku tahu bagaimana perasaanmu saat ini, tapi percayalah jika Bu Iza itu bukan wanita jahat yang mau merebut suami orang. Aku yakin jika saat itu dia mengetahui pria yang akan dinikahkan dengannya telah beristri, pasti dia tidak akan setuju. Sekarang kamu adalah masa Pak Hanaf, aku yakin sekuat apapun pada yang datang kamu akan menjadi prioritas utama untuknya. Sudah ya, jangan berpikir yang macam-macam. Kasihan ponakan aku yang lagi bobok di dalam perut.”


Ais mencoba untuk tersenyum. Terasa berat untuk menepis perasaan takut dan khawatirnya, karena Ais pernah merasa terluka.

__ADS_1


...###...


__ADS_2