
...Kamu hanyalah masa lalu, jangan berharap bisa menjadi masa depan. Karena kegagalan yang pernah aku rasakan, akan ku jadikan pelajaran....
Pertemuannya dengan Azam membuat rasa yang berada di dalam hati Ais, mulai bergejolak kembali. Susah payah dia berusaha untuk melupakan mantan suaminya itu tetapi mengapa saat ini dia harus berhadapan dengannya setiap hari lagi.
Ais mencoba untuk menutup kembali sayatan yang menggores hatinya dengan mengikuti kegiatan bersama dengan Hanafi di masjid. Dengan begitu, Ais bisa melupakan rasa sakit yang menggores hatinya.
Malam ini Ais hadir dalam pengajian rutin bulanan yang diadakan di masjid tempat Hanafi mengajar. Begitu juga dengan Adam yang tidak akan pernah tertinggal dengan kegiatan Hanafi, karena hubungan keduanya memang sangat dekat.
Ais yang sudah lama tidak pernah mengikuti pengajian, merasa takjub dengan orang-orang yang turut hadir. Meskipun mereka sibuk, tetapi mereka masih menyisahkan waktu luang untuk mengikuti pengajian rutin.
Ais juga mendengar sedikit cerita dari kakaknya, meskipun usia Hanafi masih muda tetapi dia sudah memiliki banyak penggemar, khususnya pada ibu-ibu muda yang sangat mengagumi kewibawaan dan ketampanan Hanafi. Namun, tak lantas membuat Hanafi menjadi orang yang takabur. Dia tetap menjaga pandangannya dengan baik.
Karena acara dimulai setelah shalat isya maka semua yang hadir pun melaksanakan sholat Isya' terlebih dahulu. Ais yang baru saja membuka mukenanya, merasa sangat terkejut saat melihat sosok yang dia kenali. Meskipun baru satu kali Ais melihat, tetapi dia sudah bisa menandai wajahnya.
"Iza," gumamnya.
Iza yang juga turut hadir dalam acara tersebut tidak pernah menyangka jika dia akan bertemu dengan Ais, mantan istri dari suaminya.
Jarak keduanya hanya berselang satu orang orang, sehingga Ais dan Iza bisa sama-sama saling mengenali.
Tak bisa dipungkiri dada Iza terus bergerumuh dengan sangat kencang, ketika dia bisa menatap Ais tanpa celah. Tiba-tiba saja timbul rasa bersalah pada Ais, karena kehadirannya telah menghancurkan pernikahannya dengan Azam.
"Ais," sapa Iza dengan pelan.
__ADS_1
Ais yang sejak tadi mencoba untuk mengabaikan Iza, tiba-tiba harus menoleh karena Iza memanggilnya. Ingin pura-pura tidak tahu, tetapi nyatanya Iza malah memanggilnya. Dengan terpaksa Ais pun langsung menoleh kearah Iza.
"Iza .. kamu Azizah, kan? Suaminya mas Azam? Kok bisa ada disini?" tanya Ais dengan pura-pura.
Ah, iya. Aku istrinya mas Azam. Beberapa hari yang lalu Mas Azam telah dipindah tugaskan untuk mengajar di salah satu universitas yang ada di kota ini. Dan kami pun akhirnya pindah ke sini. Kamu tinggal di disini juga?" tanya Iza dengan prasangka yang kuat, jika kepindahan Azam ada kaitannya dengan Ais.
"Oh iya. Kok aku enggak tau ya?" Ais mencoba tetap berpura-pura tidak tahu apa-apa. "Apakah kamu juga tinggal di dekat sini?" tanya Ais lagi.
Kepala Iza menganguk dengan pelan. "Iya. Aku tinggal di perumahan Mawar. Kamu sendiri tinggal di dekat sini? Sama siapa?"
"Wah .. ternyata kita satu kompleks, ya. Tapi kok aku enggak tau. Kamu tinggal di nomer berapa?"
Ais dan Iza pun terlibat perbincangan ringan. Keduanya saling bertanya jawab, meskipun dengan denyut jantung yang tidak beraturan.
Iza mencoba untuk tetap biasa saja, sedangkan Ais mencoba untuk tetap berpura-pura seolah tidak tau apa-apa.
Saat Hanafi telah berdiri di mimbarnya, banyak ponsel yang hendak mengambil foto dan video pria itu. Ais yang melihat merasa sangat terkejut, ternyata Hanafi bukalah sembarang orang. Dan hampir yang datang semuanya adalah penggemarnya.
"Masya Allah, ternyata saat ini dia sudah terkenal. Semoga saja ilmu yang dimiliki bisa bermanfaat untuk semua orang," gumam Iza yang juga merasa terkejut dengan ponsel-ponsel yang hendak mengambil gambarnya.
Sekilas Ais yang duduk tidak jauh masih bisa mendengar apa yang diucapkan oleh Iza.
"Tunggu! Jangan bilang kalau Iza kenal sama Mas Hanaf," batin Ais dengan mata yang terfokus pada Iza.
__ADS_1
...****...
Hampir satu jam lamanya Hanafi berceramah di atas mimbar dan kini acara pun harus usai. Malam Minggu yang bisanya hanya digunakan untuk menghabiskan waktu di luar sana, tetapi tidak dengan para penghuni kompleks yang sengaja menggelar siraman hati, meskipun hanya satu kali dalam satu bulannya.
"Iza, tunggu!" Ais memanggil Iza, saat wanita itu hendak berdiri untuk meninggalkan tempat duduknya.
"Iya Ais, ada apa?" tanya Iza dengan kedua alis yang menaut.
Bibir Ais terasa sangat kelu untuk bertanya apakah saat ini Iza sudah hamil atau belum, mengingat jika pernikahan keduanya telah berjalan satu bulan lebih. Namun, rasanya Ais tak pentas untuk mempertanyakan kehamilan Iza.
"Ais, ada apa?" ulang Iza saat melihat Ais terdiam.
"Ah, enggak apa-apa. Aku cuma mau bilang lain kali kita jalan bareng ya. Aku ada hadiah untukmu, karena aku tak bisa hadir dalam pernikahanmu dengan mas Azam saat itu," ujar Ais dengan rasa sesak di dadanya.
"Ais, gak usah repot-repot. Aku dan Mas Azam hanya .... " Belum sempat Iza melanjutkan penjelasannya tiba-tiba seseorang telah Ais.
"Ais, kamu dicariin mas Adam," ujar seorang wanita yang memang sudah mengenal Ais dan juga Adam.
"Oh iya, Mbak," balas Ais.
"Iza, aku duluan ya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsallam," balas Iza dengan pelan. Bahkan mata Iza masih memperhatikan langkah Ais saat meninggalkan masjid.
__ADS_1
"Ais .. maafkan aku. Andaikan saja aku tidak pulang ke Indonesia mungkin aku tidak akan menjadi orang ketiga diantara kamu dengan mas Azam. Maafkan aku yang tidak termasuk untuk merebut mas Azam darimu. Semua ini terpaksa aku lakukan demi orang tuaku. Ais, maafkan aku."
...***...