
Sebenarnya ibu Hanafi tidak ingin ikut campur dengan kehidupan anaknya. Namun, saat mendengar cerita Adam tentang kisah Ais, wanita tengah baya itu hatinya tersentuh. Bisa-bisanya Ais sosok yang cantik dan masih muda diperlukan tidak baik oleh keluarga mantan suami. Bahkan pernikahannya yang masih seujung kuku Ais sudah dikatakan wanita yang tidak subur. Sungguh mertua sangat kejam.
Padahal diluar sana banyak pasang yang sudah bertahun-tahun menikah, tetapi belum diberikan kepercayaan untuk memiliki seorang momongan, tetapi mereka tetap buat ikhtiar serta berusaha dengan segala cara meskipun hasilnya masih saja nihil. Sementara Ais yang memang tidak memiliki ganggu kesuburan malah langsung diberikan dua pilihan yang paling berat. Padahal usia pernikahan masih berjalan satu tahun.
"Ibu kok jadi kesel sendiri sih sama mantan mertua Ais! Bisa-bisanya dia membuang berlian seperti Ais. Ibu yakin jika suatu saat nanti mantan mertuanya Ais akan merasa sangat menyesal karena telah menyia-nyiakan wanita sebaik dan secantik Ais," ucap Ibu Hanafi saat sedang berkumpul dengan suami dan anaknya.
"Ya, mungkin belum jodoh, Bu," balas suaminya.
"Ya sudah jelas gak jodoh, Pak. Kan Ais udah bercerai," timpal sang istri.
__ADS_1
"Han ... meskipun seorang janda, ibu sangat merestui jika kamu ingin menikahi Ais."
Hanafi sudah bisa menebak arah pembicaraan ibunya. Memang diusianya yang hampir menginjak kepala tiga, seharusnya Hanafi sudah berkeluarga, tetapi pria itu masih menikmati masa sendirinya, seraya mengumpulkan modal untuk menjadi seorang suami.
Bukan hanya dari segi materi saja yang harus dipikirkan, tetapi dari segi lahir dan batin serta kedewasaannya saat menjadi seorang imam.
Menikah berarti siap berbagi suka dan duka. Menyatukan dua pemikiran yang berbeda untuk menjadi satu pemikiran yang sama. Sungguh bukanlah hal yang mudah. Terlebih setelah menikah semua tanggung jawab akan berpindah pada suami.
"Nah, Bu. Dengerin tuh penjelasan Hanaf," timpal bapaknya Hanafi yang sangat menyetujui penjelasan sang anak.
__ADS_1
"Tanpa Hanaf jelaskan Ibu sudah tau, Pak. Dan ibu akan terus mendoakan agar Hanafi berjodoh dengan Ais!" Ibu Hanafi yang merasa tidak didukung oleh suaminya, langsung memilih untuk meninggalkan anak dan suaminya.
"Loh, Buk! Kok malah pergi!" teriak suaminya. Namun, sang istri acuh karena merasa kecewa dimana Hanafi terus-menerus menolak untuk menikah.
"Han, bapak tidak ingin menekan ataupun menuntutmu untuk segera menikah. Tetapi saat ini usiamu sudah tidak muda lagi, apalagi usia bapak sama ibu. Kami berdua hanya ingin melihat kamu bahagia bersama dengan keluarga kecilmu disisa akhir usia kami. Bapak percaya kamu tidak ingin salah pilih, tapi jika kamu terlalu lama memilih itu juga tidak baik. Han, jika memang kamu tidak ingin melakukan pendekatan, alangkah baiknya kamu ta'aruf dengan Ais. Toh dia adalah wanita baik-baik. Kamu juga sudah mengenal dengan baik keluarganya. Dan saat ini Ais juga sudah terlepas dari masa indahnya." Nasehat dari bapaknya dengan panjang lebar.
Hanafi masih merasa ragu dengan hatinya sendiri. Munafik jika dia tidak tertarik pada wanita seperti Ais, tetapi saat ini Hanafi hanya menganggap Ais layaknya seorang adik, tidak lebih.
Ya Allah, hanya pada-Mu lah hamba meminta petunjuk. Jika jodoh hamba masih jauh, tolong dekatkanlah. Jika sudah dekat, maka rapatkanlah. Hamba tau jika saat ini Engkau telah menyiapkan jodoh untuk hamba-Mu ini. Ya Allah jika memang sudah waktunya hamba menikah, maka pertemuan hamba-Mu ini dengan jodoh yang telah Engkau siapkan.
__ADS_1
"Pak, beri Hanaf sedikit waktu. Hanaf berjanji akan segera menikah dengan jodoh yang telah ditetapkan oleh Allah."
...****...