Aisyah Bukan Istri Mandul

Aisyah Bukan Istri Mandul
BAB 62


__ADS_3

Tak butuh waktu lama mobil yang dikendarai oleh bapaknya Hanafi telah sampai di rumah Ais. Dengan cepat sang ibu mertua langsung turun sambil menenteng dua kantong plastik yang berisi buah-buahan segar khusus untuk menantunya.


“Assalamualaikum.”


Ais yang berada di meja makan langsung bergegas untuk membukakan pintu, karena dia telah hafal suara siapa yang baru saja mengucapkan salam.


“Waalaikumsalam,” jawab Ais sambil membuka pintu.


Melihat dua orang mertuanya telah berada di depannya, Ais segera menyalami mereka berdua dan menyuruhnya untuk masuk.


“Ibu, Ais udah bilang kalau Ais enggak apa-apa. Jadi ibu sama bapak enggak usah mengkhawatirkan keadaan Ais.”


“Siapa juga yang mengkhawatirkan kamu? Ibu sama Bapak kesini karena ingin membawamu periksa ke dokter,” ujar Ibu mertuanya.


“Ke dokter?” cicit Ais. “Tapi Ais enggak sakit, Bu. Ais udah sembuh, cuma butuh istirahat aja.”


“Kamu ini mbok ya nurut kenapa sih sama ibu. Ibu cuma mau memastikan keadaan kamu aja, kok. Udah cepetan sana! Ibu tunggu disini. Oh iya, ini ibu bawakan buah-buahan.”


Tangan Ais segera mengambil dua kantong plastik yang diserahkan oleh ibu mertuanya. Kening mengerut ketika dia melihat ternyata dua kantong itu isinya buah-buahan segar semua, hingga membuatnya menelan ludah.


Ya ampun ... banyak banget sih? Tapi ngomong-ngomong kenapa ibu bisa tahu apa yang sedang aku inginkan. Apakah ibu memang bisa membaca pikiran seseorang. Ah, sudahlah mending aku langsung simpan saja sebelum Ibu membaca pikiranku lebih dalam.


“Makasih, Bu. Tapi ngapain sih repot-repot bawa buah-buahan banyak seperti ini? Kalau Mas Hanaf tahu nanti ibu kena marah lagi.”


“Selagi ingat surga, Hanafi tidak akan marah sama ibu. Udah sana, nanti keburu siang lama antriannya!”


Dengan anggukan kecil Ais langsung meninggalkan kedua mertuanya untuk mengganti pakaiannya. Karena tidak mungkin Ais pergi ke dokter hanya menggunakan daster rumahan.


***

__ADS_1


Hanya butuh waktu 20 menit dari rumah Ais ke rumah sakit terdekat. Sebelumnya ibu mertua Ais telah mendaftarkan Ais sehingga setelah mereka sampai Ais tak butuh mengantri lama lagi. Namun, kali ini bapak mertuanya tidak menemani istri dan menantunya untuk periksa. Dia memilih untuk menunggu di parkiran.


“Bu, Ais itu enggak sakit, kenapa Ais harus di periksa, sih? Ais hanya kecapekan aja.” Untuk kesekian kalinya Ais mencoba untuk menolak keinginan ibu mertuanya. Namun, Ais tak berdaya, ketika wanita tengah baya itu tetap bersikukuh dengan keinginan.


“Cuma sebentar kok. Ibu cuma ingin memastikan aja!”


Setelah masuk ke ruangan dokter, sang ibu mertua langsung menyuruh dokter itu untuk memeriksa menantunya. Tanpa ada pertanyaan apa-apa, Ais langsung disuruh untuk berbaring di atas ranjang yang telah disediakan.


“Dok, saya mau diapain? Saya enggak sakit,” ucap Ais yang merasa takut karena tiba-tiba dia harus di suruh untuk berbaring.


“Iya, saya tahu. Sebelumnya ibu Maryam sudah memberitahu keluhan kamu, jadi saya hanya ingin memastikan saja.”


“Memastikan? Memangnya saya sakit apa, Dok?”


Dokter yang hendak menangani Ais hanya tersenyum kecil. Mungkin karena pasiennya adalah pengantin baru sehingga dia tidak mengetahui bagaimana tanda-tanda sebuah kehamilan.


“Terakhir datang bulan kapan?” tanya dokter tiba-tiba.


“Kayaknya dua bulan yang lalu, Dok. Karena setelah menikah saya hanya mendapatkan satu kali datang bulan dan kini usia pernikahan kami sudah menginjak bulan ketiga,” jelas Ais.


Setelah mendengarkan penjelasan Ais, dokter pun langsung menyiapkan alat untuk melakukan USG pada Ais untuk memastikan lebih jelas lagi.


“Bisa di naikan sebentar pakaiannya? Biar saya bisa memastikan keberadaan janinnya.”


“Janin?” cicit Ais. “Maksud Dokter di perut saya sudah ada janinnya?”


Lagi-lagi sang dokter tersenyum kecil saat hendak memeriksa bagian perut Ais. Entah terlalu polos atau bagaimana sehingga pasiennya tidak bisa mengenali tanda-tanda kehamilannya, padahal sudah telah hampir dua bulan.


“Semoga saja sudah ada ya, Bu. Tapi menurut gejala dan terakhir kali Ibu datang bulan sepertinya memang sudah ada janin yang bersemayam di perut Ibu.”

__ADS_1


Ais hampir tidak percaya dengan penuturan dokter yang mengatakan jika kemungkinan besar di dalam perutnya telah ada janin. Dadanya naik turun karena merasa sangat terkejut dan hampir tidak percaya jika janin telah persemayaman di dalam rahim.


“Dok ... benarkah jika di dalam perut saya sudah ada janinnya?” tanya Ais dengan mata yang berkaca-kaca. Dia tidak bisa lagi menahan air mata karena merasa sangat terharu.


“Kita lihat dulu ya, untuk memastikan lebih jelas.”


Melalui sebuah alat yang telah terhubung ke monitor, dokter langsung menunjuk pada satu titik di mana sebuah janin memang sudah berkembang di rahim. Bahkan dokter juga memanggil Ibu mertuanya Ais untuk menunjukkan jika ada janin yang sedang berkembang di rahim menantunya.


“Ibu bisa lihat, ini adalah janin yang saat ini menghuni rahim menantu Ibu. Selamat untuk Ibu Maryam, sebentar lagi Anda akan menjadi seorang Nenek. Dan selamat juga kepada Ibu Ais, sebentar lagi akan menjadi ibu yang sesungguhnya.”


Ais tak bisa lagi untuk membendung air mata yang terus berkaca-kaca. Sungguh sebuah keajaiban di luar dugaan, dia langsung bisa hamil hanya dalam waktu yang cepat.


“Alhamdulillah ya Allah, Engkau segera mengabulkan apa hamba yang inginkan. Sungguh besar kuasa-Mu,” ucap Ais sambil menyeka air matanya.


“Alhamdulillah Ais, kamu benar-benar hamil. Jadi kamu jangan pernah berpikir jika kamu itu mandul. Allah pasti akan memberikan apa yang kita inginkan asal kita mampu bersabar untuk menunggu waktu itu. Dan ini adalah buah kesabaranmu, Ais.”


“Ibu ... terima kasih atas dukungan dan kepercayaan ibu selama ini untuk Ais. Ais benar-benar merasa bersyukur memiliki ibu mertua seperti ibu. Semoga kelak suatu saat cinta Ibu untuk Ais tidak akan berubah.”


“Tentu saja tidak Ais. Selamanya kamu akan menjadi anak menantu ibu. Apapun yang terjadi ibu akan tetap mempertahankan kamu. Tapi bisakah Ibu meminta tolong kepadamu untuk merahasiakan terlebih dahulu kehamilanmu ini? Ibu ingin memberi kejutan untuknya saat kalian pulang ke Jogja nanti.”


Tanpa pikir panjang Ais langsung menganggukkan kepala sebagai tanda persetujuan. entah apa yang akan direncanakan oleh ibu mertuanya tetapi Ais yakin jika apa yang dilakukan oleh ibu mertuanya itu adalah sesuatu yang baik untuk dirinya dan juga Hanafi.


Hampir 15 menit menjalani pemeriksaan kini Ais dan ibu mertuanya sama-sama bernapas dengan lega. Mulai titik ini mereka bisa menepis semua tuduhan yang pernah diterima oleh Ais, karena nyatanya Ais bisa hamil dan dia tidak mandul.


Ibu mertua Ais tidak sabar lagi ingin melihat bagaimana reaksi mantan Mama mertuanya Ais yang mengatakan jika Ais adalah wanita yang tidak bisa memberikan keturunan. Nyatanya saja baru menikah dengan Hanafi, Ais langsung bisa hamil. Lalu apakah yang sebenarnya tidak bisa memberikan keturunan itu adalah Azam?


“Ais ... sekali lagi selamat atas kehamilanmu. Ibu benar-benar merasa sangat bersyukur karena Allah begitu cepat untuk menjawab atas doa-doa ibu selama ini.”


“Iya, Bu. Ais juga merasa sangat bersyukur. Rasanya masih seperti mimpi. Tapi apakah mas Hanaf tidak akan marah jika Ais menyembunyikan berita kehamilan ini, Bu?”

__ADS_1


Ibu mertuanya menggeleng dengan pelan. “Hanafi tidak akan marah, selagi kamu mengatakan jika ibu yang memintanya. Sebab, dia masih mengingat dimana letak surganya.”


( Mana yang minta Ais hamidun? jangan ngilang ya! )🤭


__ADS_2