Aisyah Bukan Istri Mandul

Aisyah Bukan Istri Mandul
BAB 88


__ADS_3

Malam panjang berlalu begitu saja. Rasanya baru saja tidur dan kini harus terbangun lagi, karena Adzan telah berkumandang. Jika hari-hari biasa Ais hanya akan melaksanakan sholat berdua dengan suaminya, tetapi pagi ini dia sholat berjamaah bersama dengan seluruh keluarga yang ada di rumah, termasuk juga dengan Iza.


Karena sudah terbiasa menjadi seorang imam di masjid Hanafi dipersilakan untuk menjadi imam pagi ini. Dan lagi-lagi Ais hanya bisa menahan rasa sesak di dalam hatinya, ketika Iza menjadi salah satu makmumnya.


Astaghfirullahaladzim, Ais! Apa yang sedang kamu pikirkan? Jangan mencampur adukkan urusan hati dengan urusan beribadah kepada Allah. Buang rasa cemburu itu, Ais! Mas Hanaf hanya melakukan tugas dan kewajibannya.


Ais mencoba untuk menepis perasaan yang bersarang di dalam hatinya. Ais sendiri merasa bingung karena akhir ini perasaannya begitu sensitif dan mudah tersinggung. Mungkin karena hormon kehamilannya, sehingga Ais mengalami mood naik turun.


Acara resepsi akan digelar dari pukul 9 pagi hingga jam 10 malam. Dan pagi ini setelah melakukan sholat subuh semuanya juga sibuk untuk mempersiapkan acaranya, kecuali Ais dan juga Hanaf yang sudah mulai diperlakukan seperti raja dan ratu, sekalipun acara belum dimulai. Bahkan Raka yang sama sekali tidak mengenal Hanaf dan Ais juga turut membantu untuk acara mereka berdua.


“Ais ... kamu kenapa? Sakit? Aku lihat dari kemarin kamu seperti tidak bersemangat?” tanya Hanafi saat hanya tinggal berdua dengan Ais.


“Ais enggak apa-apa kok, Mas. Mungkin cuma sedikit keluhan aja.”


“Benarkah? Tapi aku melihat kamu jika kamu sedang merasa tidak baik-baik saja-saja. Apakah kamu berubah pikiran dan merasa menyesal telah menikah denganku?”


Ais langsung mendongak. Sungguh tidak ada pemikiran Ais seperti apa yang dikatakan oleh suaminya. Bagaimana bisa Ais merasa menyesal, sementara suaminya sangat mencintainya dan selalu menghujani penuh cinta kepadanya. Tak ada alasan Ais untuk menyesal.


“Mas ... sudah berapa kali Ais mengatakan jika Ais tidak pernah menyesal dengan pernikahan ini. Ais merasa sangat bahagia bisa menikah dengan Mas Hanaf hingga membuat Ais egois, karena ingin memiliki Mas Hanaf seorang diri.”


“Lalu kamu kenapa? Jika ada masalah, berceritalah! Aku siap membantumu untuk keluar dari masalah itu. Bukankah kita adalah pasangan suami istri yang harus saling berbagi?”


Ais mengangguk dengan pelan dan tak seharusnya Ais terlalu cemburu dengan masa lalu Hanafi, karena dia sendiri juga punya masa lalu.


“Mas ... Ais tuh baik-baik aja. Mungkin karena gerogi untuk acara ini. Dulu kan nikahnya hanya sekedarnya sah, karena saat itu Ais masih SMA dan belum sempat dibuatin acara seperti ini, ternyata pisah,” jelas Ais, berharap Hanafi tidak mengkhawatirkannya lagi.


Seketika Hanafi merasa bersalah karena telah berpikir berlebihan. “Ais, maaf aku terlalu berlebihan.”

__ADS_1


***


Acara berlangsung begitu meriah karena banyak para tamu yang turut hadir dalam acara resepsi Ais dan juga Hanafi. Dari mulai sanak saudara yang dekat dan jauh mereka turut merapat untuk meramaikan acara resepsinya.


Rasa bahagia yang dirasakan oleh kedua orang tua Ais tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata saat melihat anaknya berada diatas pelaminan dengan pria yang benar-benar mencintai dan menerima masa lalu putrinya. Terlebih acara bisa sebesar ini juga karena dukungan dari besannya.


Begitu juga dengan Adam yang kini merasa lega ketika Ais telah berada di tangan orang yang tepat. Dia berharap jika Hanafi dan keluarganya akan memperlakukan Ais dengan baik, terlebih saat ini Ais sudah sudah bisa mematahkan tuduhan atas dirinya yang dianggap tidak bisa memiliki anak.


Namun, detik kemudian mata Adam teralihkan pada sosok wanita yang membuatnya sama sekali tak bisa mengenalinya. Padahal baru sekitar tiga bulan Adam pindah, tetapi sudah banyak perubahan yang terjadi. Dari mulai Ais yang udah bunting, hingga Jelita yang culun berubah menjadi sangat cantik.


"Dam!” panggil bapaknya.


Seketika Adam menoleh kesamping. “Iya, Pak. Ada apa?”


“Kamu ini dipanggil dari tadi malah bengong aja! Lihatin apa, sih?”


“Bapak manggil Adam ada, apa?”


“Enggaknada sih! Bapak cuma mau ngetes kamu aja. Ternyata kamu lagi ngelihatin temennya Ais kan?” goda bapaknya, yang sejak tadi terus memperhatikan anak sulungnya.


“Ah, Bapak ini! Adam kira ada apa. Siapa bilang Adam lagi ngeliatin temennya Ais? Adam tuh lagi ngelihatin Ais, Pak! Adam merasa sangat bersyukur karena saat ini Ais berada di tangan orang yang tepat. Semoga saja kelak mereka tidak berubah dan akan tetap menyayangi Ais tanpa pudar,” jelas Adam untuk mengelakkan diri.


Sang bapak hanya mengangguk dengan pelan saat melihat anaknya benar-benar dicintai dengan penuh kasih sayang dan diterima dengan apa adanya sekalipun Ais bukankah wanita yang masih tersegel, tetapi orang tua Hanafi tetap memperlakukan Ais dengan sangat baik.


Sebenarnya kedatangan Iza tidak begitu diperhatikan oleh keluarga besar Ais, karena mereka tahu jika Iza adalah wanita yang dinikahi oleh Azam. Bisa dikatakan Iza adalah pihak ketiga dalam rumah tangga Ais. Namun, masih beruntung karena pihak keluarga Ais tidak mengetahui jika Iza adalah wanita dari masa lalu Hanafi. Andaikan mereka tahu, mungkin keluarga besar Ais akan merasa sangat kecewa kepada Iza.


Menyadari jika kedatangannya tidak begitu di tanggapi, Iza memutuskan untuk pamit pulang. Namun, sebelum pulang, Iza menyempatkan diri untuk memberikan kata selamat untuk Ais dan juga Hanafi.

__ADS_1


“Sekali lagi selamat atas pernikahan kalian. Semoga menjadi keluarga yang sakinah mawadah warohmah until Jannah dan selamat juga atas kehamilanmu, Iza. Semoga lancar sampai waktunya. Maaf jika kedatanganku ini sebagai tamu yang di undang, karena aku memang ada sedikit urusan dan Pak Raka mengajak untuk singgah di acara kalian,” ucap Iza sebelum meninggalkan acara.


“Iza ... Pak Raka, terima kasih karena kalian telah datang di acara kami. Sungguh sebuah kehormatan untuk kami dengan kedatangan Pak Raka di tengah-tengah acara kami,” ucap Hanafi.


“Tidak usah perhatian seperti itu, Pak Hanaf. Anggap saja saya mewakili Bian, murid bapak. Sekali lagi selamat atas pernikahannya dan semoga menjadi keluarga yang sakinah mawadah warohmah,” sambung Raka.


Ais tersenyum tipis untuk mengiyakan doa yang telah dipanjatkan oleh dua orang yang hendak meninggalkan acaranya.


“Iya, terima kasih atas doanya,” balas Ais dengan pelan.


Setelah meninggalkan acara resepsi, Raka berinisiatif jalan-jalan di kota tersebut sebelum pulang ke ibukota. Sebenarnya Iza menolak, tetapi Raka terus memaksa, karena ini adalah kesempatan langka. Belum tentu dalam waktu satu tahun dia bisa meluangkan waktunya untuk mengunjungi kota ini. Karena merasa iba, akhirnya Iza menyetujui keinginan Raka untuk mengelilingi kota pelajar itu.


Dalam perjalanannya, Ais mendapat sebuah pesan dari Sabian yang mengingatkan akan sebuah kesepakatan yang telah mereka buat sebelumnya. Iza pun mengingat dengan jelas dengan apa yang pernah diucapkan. Bahkan Iza sudah siap untuk pergi menjauh. Hanya saja untuk saat ini dia masih harus menyelesaikan urusannya terlebih dahulu.


“Siapa?” tanya Raka.


Iza segera menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas. “Ah ini hanya tetangga yang menanyakan aku sedang kemana. Mungkin karena tidak terlihat di kontrakan,” kilah Iza diiringi dengan helaan napas panjang.


“Pak, apa tidak sebaiknya kita pulang aja. Aku takut kebersamaan kita hanya akan menjadi sebuah fitnah,” lanjut Iza lagi.


“Apa yang kamu takutkan? Asal kamu tahu, sebelum mereka menyebarkan fitnah, mereka akan berpikir dua kali lipat siapa yang akan dia fitnah, karena saat ini fitnah bisa berujung pidana, lho!”


Iza terdiam untuk sesaat. Entah apa yang akan terjadi jika Raka mengetahui sebuah kesepakatan yang telah dia buat bersama dengan Bian.


“Kamu enggak usah khawatir, selagi kamu bersamaku, tidak akan ada orang yang berani untuk menyentuh ataupun menfitnahmu.”


...###...

__ADS_1


__ADS_2