
Terdiam dalam kebisuan, meratapi nasib yang seolah sedang tak berpihak padanya. Menjadi orang ketiga dalam hubungan orang lain bukanlah keinginan dari Iza, karena sejak awal Iza tidak mengetahui jika orang yang akan menikahinya telah beristri.
“Iza, apakah mama salah jika mama sangat menginginkan cucu diusia mama yang sudah tidak muda lagi? Mama hanya takut jika mama tidak bisa menggendong cucu mama sampai waktunya malaikat datang untuk menjemput mama lebih awal. Iya, mama memang egois karena telah memaksakan keinginan Mama. Mama egois, Iza.” Isak tangis Mama Maya memecahkan keheningan.
Sebagai seorang ibu, pasti sangat menginginkan apa yang terbaik untuk anaknya. Hanya saja cara yang digunakan mama Maya sedikit salah karena harus memisahkan Ais dengan Azam. Padahal usia pernikahan mereka berdua baru seumur jagung, tetapi mama Maya telah menganggap jika Ais tidak bisa memberikan cucu untuk dirinya.
“Ma ... Iza tahu bagaimana perasaan Mama, tapi, apakah Mama juga bisa merasakan bagaimana perasaan Ais saat itu dan bagaimana perasaan Iza saat ini? Ais pasti sangat terpukul dengan pilihan yang mama berikan untuknya saat itu. Berpisah dengan orang yang dicintainya karena belum bisa memberikan apa yang diinginkan oleh mama dan dengan mudahnya mama menikahkan mas Azam dengan Iza yang saat itu Mas Azam masih berstatus sebagai suaminya Ais. Iza sangat merasa bersalah sama Ais, Ma.” Iza pun ikut terisak ketika harus membahas waktu yang telah berlalu. Dimana dia menikah dengan suami orang.
“Ma, maaf jika Iza harus melawan Mama, tapi jujur Iza tidak sanggup untuk bertahan lagi. Iza memutuskan untuk mundur, Ma. Percuma saja Mama berharap jika Iza bisa memberikan cucu untuk Mama, tapi mas Azam sama sekali tak ingin sedikitpun untuk menyentuh Iza. Iza sudah putuskan ingin berpisah dengan mas Azam,” lanjut Iza dengan tegas. Bahkan Iza juga sudah siap untuk menanggung konsekuensi atas keputusannya, karena tidak ada yang bisa dia pertahanan dari pernikahannya dengan Azam.
Mama Maya langsung mendongak untuk menatap Iza. Sorot matanya langsung menatap Iza dengan tajam. Tentu saja Mama Maya tidak terima dengan keputusan Iza yang sepihak. Dengan gelengan kepala Mama Maya tersenyum tipis pada Iza.
“Apa kamu bilang, Iza? Kamu ingin mundur dan ingin berpisah dengan Azam? Kamu pikir kamu bisa? Tidak semudah itu, Iza! Kamu dan keluarga kamu sudah terikat dengan sebuah perjanjian. Jika kamu meninggalkan Azam sebelum memberikan cucu untukku, maka jangan salahkan mama jika kedua orang tuamu Mama laporkan atas tindakan penipuan. Kamu yakin ingin melihat kedua orang tuamu berada di penjara?”
Iza terperanjat dengan ucapan mama mertuanya. Bagaimana bisa di saat seperti ini wanita itu masih bisa mengancam dirinya Pantas saja jika Azam kini melawan pada dirinya. Itu semua karena keegoisan yang terus bertahan.
“Ma ... jika Mama akan melaporkan ayah dan ibu, Iza akan siap untuk menggantikan mereka. Mereka tidak bersalah. Semua ini hanya jebakan mama, karena dari awal mama tidak pernah mengatakan semua pemberian dari mama itu adalah hutang. Jika tahu akan dianggap hutang, Iza yakin jika ayah dan ibu akan berpikir lagi saat ingin menerimanya. Iza tahu bagaimana caranya untuk membalas budi, tetapi tidak dengan cara seperti ini, Ma. Mama memaksakan keinginan Mama tanpa memikirkan bagaimana keinginan Mas Azam. Ma, tolong mama sadar dan jangan hanya memikirkan diri mama sendiri.”
Kali ini Iza benar-benar berani untuk melawan pada mama Maya, karena dirinya sudah tidak sanggup lagu untuk menghadapinya. Bahkan Iza sama sekali tidak merasa takut dengan ancaman yang diberikan oleh mama mertuanya.
“Iza ! Apakah seperti ini cara kamu berbicara pada orang yang telah membantumu? Jika bukan karena kebaikan Mama, kamu tidak akan pernah bisa merasakan kuliah di Cairo. Iza, kamu jangan lupa darimana kamu berasal!”
Iza mencoba untuk tetap kuat, meskipun rasanya sudah tidak sanggup lagi. Dia tidak ingin menunjukkan kelemahan didepan orang lain, terlebih dihadapan mama mertuanya.
“Iza tidak akan pernah lupa dengan apa yang telah mama lakukan untuk keluarga Iza. Iza sangat berterima kasih, Ma.” ucap Iza dengan suara yang bergemetar karena sejak tadi sudah berusaha untuk rasa sakitnya.
__ADS_1
***
Semua orang pasti mempunyai sepenggal kisah masa lalu. Hanafi tidak pernah mempermasalahkan jika dia berjodoh dengan Ais, seorang janda. Namun, dia juga tidak habis pikir mengapa wanita yang menjadi istri dari mantan suami Ais adalah Iza, wanita dari masa lalunya.
Seberapapun Hanafi menyayangkan keputusan Iza, tetap saja dia tak berhak atas pilihan Iza. Hanafi hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk Iza dan berharap jika kelak Azam bisa mencintai Iza sepenuh hatinya, tanpa ada bayang-bayang Ais dalam hatinya.
“Mas Hanaf,” panggil Ais saat melihat Hanafi termenung di dalam kamar. “Udah sholat?”
Hanafi langsung membuyarkan lamunannya tentang Iza. Dia pun langsung menatap Ais dengan senyum di bibirnya. “Belum. Aku nungguin kamu,” ujarnya.
“Oh gitu. Maaf ya agak lama, karena aku tadi lagi siapin makan malam. Katanya malam ini mas Adam mau pulang.”
Hanafi hanya mengangguk dengan pelan dan menunggu Ais untuk bersiap. Semenjak menikahi Ais, Hanafi selalu menyempatkan diri untuk sholat bersama dengan Ais. Baginya siapapun wanita yang menjadi jodohnya semoga bisa menerima akan kekurangan dalam dirinya.
Hampir sepuluh menit pasangan suami-isteri itu melakukan sholat Maghrib bersama. Sebagai seorang istri, Ais berusaha untuk menjadi istri yang baik untuk Hanafi, meskipun pernikahan mereka berdua tidak dilandasi dengan kata cinta. Namun, Ais yakin jika mereka berdua bisa membuka hati, cinta itu bisa tumbuh dengan mudah. Terlebih saat ini Ais sudah memutuskan ingin memiliki anak agar hidupnya tidak diganggu oleh Azam, mantan suaminya.
“Enggak tahu juga jam berapa. Hanya saja tadi mas Adam bilang kalau udah dalam perjalanan pulang,” jawab Ais apa adanya.
“Ais ada yang ingin aku bicarakan padamu. Bisakah kita berbicara untuk sebentar saja?”
Ais hanya mengangguk pelan untuk mengiyakan permintaan Hanafi. Entah apa yang ingin dibicarakan oleh pria yang berstatus sebagai suaminya saat ini.
“Mas Hanaf ingin bicara apa? Kok kayak serius banget. Apakah ada masalah?”
Hanafi menggeleng dengan pelan. “ Tidak ada . Hanya saja aku ingin mengatakan sesuatu padamu, agar kamu tidak menyesal di kemudian hari. Aku sudah memikirkannya dengan matang.”
__ADS_1
Ais semakin penasaran dengan apa yang diinginkan dibicarakan oleh Hanafi. Dengan sabar Ais mencoba untuk mendengar apa yang akan dikatakan oleh suaminya itu. “Katakan, Mas! Ada apa?”
Mata Hanafi menatap dengan lekat pada wanita cantik yang ada dihadapannya saat ini. Wanita yang nyaris sempurna di matanya.
“Ais ... aku bukanlah pria yang sempurna. Aku memilih banyak kekurangan bahkan aku sangat lemah. Mungkin aku tidak bisa melindungimu. Aku takut kelak kamu menyesal telah menikah denganku. Tetapi bagiku pernikahan itu cukup sekali saja dalam hidup ini. Jika kelak aku tidak bisa menjadi suami yang kamu idamamkan, tolong bantu aku untuk bisa menjadi seperti yang kamu inginkan. Tolong jangan tinggalkan aku ketika aku tidak bisa menjadi pria yang sempurna. Meskipun pernikahan ini terjadi begitu saja, tetapi aku akan berusaha untuk mencintaimu hingga akhir hayatku. Ais ... maukah kamu berjanji padaku?”
Hanafi mencoba untuk menjeda ucapannya yang panjang lebar dan meminta persetujuan Ais untuk menyetujui permintaannya.
“Mas Hanaf, bukankah sebelumnya kita sudah membahas masalah ini? Dan aku sudah mengatakan jika aku tidak akan pernah menyesali keputusan menikah denganmu. Menikah adalah ibadah, Mas. Aku telah ikhlas menikah denganmu, asalkan kamu tidak menduakanmu, karena bagiku lebih baik berpisah jika harus berbagi suami dengan wanita lain,” jelas Ais sambil menghembuskan napas beratnya.
“Bukan begitu Ais. Sampai akhir hayat, aku tidak akan pernah menduakan kamu. Aku hanya takut, kamulah yang berpaling dariku, karena segala kekurangan yang aku miliki. Ais ... berjanjilah jika kelak kamu tidak akan meninggalkanku?”
“Iya, aku berjanji tidak akan meninggalkanmu, Mas. Tapi kamu juga harus berjanji padaku untuk tidak menduakanku!” pinta Ais.
Dengan anggukan kepala Hanafi mengiyakan ucapan Ais. Kedua bola mereka saling menatap dengan dalam. Jantung mulai beredar dengan sangat kencang ketika wajah keduanya semakin dekat.
Ais hanya mampu memejamkan mata ketika tangan Hanafi telah menyentuh pipinya. Ada getaran yang tak menentu, hingga pada akhirnya seluruh tubuh membeku ketika merasakan sentuhan hangat di bibirnyanya. Sebuah ciuman yang tak terduga dari Hanafi meluncur begitu saja. Namun, tidak bertahan lama karena Hanafi segera menyudahinya dan membuat Ais langsung membuka matanya.
“Ais, maaf jika aku tidak terlalu pandai, karena aku memang tidak berpengalaman,” ujar Hanafi dengan wajah memerahnya.
Ais yang mendengar hanya bisa membulatkan matanya saat mendengar pengakuan Hanafi.
“Ais, aku hanya takut jika kamu kecewa karena aku pasti tidak akan bisa untuk mengimbangi Azam,” lanjut lagi.
“Mas Hanaf ngomong apa, sih? Mas Hanaf pikir aku akan membandingkan mas Hanaf dengan mas Azam? Jika memang begitu, Mas Hanaf salah besar karena aku tidak akan pernah membandingkan mas Hanaf dengan siapapun. Jadi tolong jangan pernah berpikir seperti itu, Mas!”
__ADS_1
Ya, Hanafi yang sekali belum pernah berpengalaman tentu saja merasa takut jika dirinya tidak bisa memuaskan Ais sebagai istri.
...###...