Aisyah Bukan Istri Mandul

Aisyah Bukan Istri Mandul
BAB 94


__ADS_3

Meskipun Hanafi paling dekat dengan Iza, tetapi dia tidak tahu jika hari ini Iza tidak datang, karena sejak pagi Hanafi hanya terfokus pada istrinya saja. Dia pun juga baru mengetahui jika ternyata beberapa hari yang lalu Iza pernah meminta surat pengunduran diri. Sungguh Hanafi ketinggalan banyak kabar berita.


“Mungkin dia masih dalam masa liburannya. Kamu kenapa panik seperti itu? Apakah kamu mempunyai masalah pribadiannya?” tanya Hanafi.


“Enggak ada, Pak. Saya enggak punya masalah apa-apa dengan Bu Iza. Hanya saja saya ingin menanyakan apakah masih mau mengajar les atau tidak,” kilah Sabian.


“Syukurlah jika kamu tidak membuat masalah apapun dengannya. Bapak pikir kamu membuat ulah lagi dengan sehingga Bu Iza ngambek,” celetuk Hanafi.


Sabian terdiam untuk beberapa saat karena menyadari kesalahan apa yang telah dibuatnya. Sabian yang pernah berpikir untuk menyingkirkan Bu Iza dari sekolah dan dari kehidupannya. Namun, kenyataannya lain. Sabian malah merasa tidak rela jika Bu Iza benar-benar pergi menjauh dari hidupnya.


Karena sudah tidak ada lagi yang ingin dipertanyakan kepada Hanafi, Sabian pun memilih untuk permisi. Baru saja membuka pintu, ternyata sosok wanita cantik juga muncul di depan pintu hendak masuk ke dalam.


Dada Sabian kian berdebar tak menentu saat jarak keduanya sangat dekat. Tubuhnya pun tak berkutik karena ditatap oleh wanita itu. Siapa lagi wanita itu jika bukan Ais.


“Kamu lagi,” ucap Ais yang kemudian melewati Sabian begitu saja.


Sabian hanya bisa menelan kasar salivanya. Bahkan aroma parfum yang dipakai oleh wanita itu mampu mengguncangkan syarat-syarat di otaknya.


“Astaga ... apa yang sedang aku pikirkan, sih! Ingat, dia udah ada yang punya!” tepis Sabian dengan degup jantungnya yang tidak karuan.


Namun, karena Sabian merasa penasaran dengan siapa pemilik wanita cantik itu, dia memilih untuk mengamati terlebih dahulu kearah mana langkah wanita itu berjalan. Dan ketika dilihat, ternyata langkah wanita itu menuju ke arah meja Pak Hanafi.


Jangan bilang kalau wanita itu adalah istrinya Pak Hanafi. batin Sabian yang kemudian memilih untuk berlalu meninggalkan ruang kantor.


**

__ADS_1


Kini hampir satu harian Sabian tak hentinya untuk terus menghubungi Bu Iza, berharap gurunya itu mau membalas pesannya. Jujur Bian semakin merasa bersalah ketika guru itu benar-benar akan pergi dari pandangan matanya.


“Sabian!” panggil ayah sambil mengetuk pintu kamar.


Sabian yang sedang duduk di meja belajarnya langsung berjalan gontai untuk membuka pintu, karena pintunya dia kunci. Saat pintu dibuka, Bian langsung menautkan kedua alisnya, karena melihat wajah ayahnya yang terlihat sangat kacau.


“Ayah! Ayah kenapa kok wajah ayah lecek kayak gitu?” tanyanya.


“Sabian .... ayah mau tanya, apakah tadi pagi Bu Iza masuk sekolah?”


Mendengar pertanyaan dari ayahnya Sabian langsung menelan kasar salivanya. Ternyata sang ayah juga sedang mengkhawatirkan gurunya itu.


“Kenapa emangnya, Yah? Apakah dia adalah buronan polisi?” celetuk Sabian yang mengasal.


“Sembarangan kamu! Dari kemarin Ayah menghubungi Bu Iza tetapi, sama sekali tidak ada jawabannya. Bahkan pesan ayah tidak dibaca olehnya,” jelas ayah Bian.


Apakah benar jika ayah memang telah mempunyai perasaan kepada Bu Iza? Jika itu benar lalu bagaimana denganku? Ayah pasti akan lebih memperhatikan Bu Iza dari pada aku anak kandungnya sendiri.


“Bian enggak tahu, Yah! Soalnya Bian enggak memperhatikan tadi. Ini masih hari pertama masuk sekolah jadi belum belajar dengan normal,” jelas Bian dengan kebohongan.


“Seharusnya tadi kamu perhatikan, Bian! Ayah takut jika telah terjadi sesuatu kepada Ibu Iza, telat dia hanya tinggal seorang diri yang jauh dari keluarganya. Apakah kamu tahu alamat rumahnya, Bi?” tanya ayahnya yang semakin memperlihatkan rasa kekhawatirannya.


Entah mengapa pertanyaan itu tentu saja membuat hati sekian mungkin kesal. Sekalipun Sabian mengetahui alamat rumah gurunya itu, tetapi dia tidak akan memberitahukan kepada ayahnya.


“Bian enggak tahu, Yah! Coba ayah cari tahu sendiri aja, sana! Bian mau mabar!”

__ADS_1


Ayah Bian hanya bisa menghela napas beratnya. Dia tidak menyadari jika beberapa minggu yang lalu Sabian pernah menjemput Ibu gurunya ke alamat rumahnya. Beruntung saja sang ayah sama sekali tidak pernah menggoda Iza sama sekali?”


“Sebenernya Bu Iza kemana, sih? Apakah aku juga harus turun tangan untuk menemukannya. Argh ... kenapa malah bayangan Bu Iza sih yang mencuci otakku! Dasar sialan!”


Sabian tidak ingin tinggal diam di rumah pun memutuskan untuk mencari Bu Iza ke rumahnya. Entah ada apa dengan wanita itu sehingga mengabaikan semua pesan dan panggilan yang masuk.


“Bian ... kamu mau ke mana?” tanya ayahnya yang melihat Sabian telah menyabar kunci motornya.


“Mau nongkrong, Yah! Ayah mau ikut?”


“Enggak! Ngapain ayah ikut nongkrong? Eh, Bi ... nanti pulangnya jangan malam-malam, ya! Ayah mau ajak kamu sama nenek makan bersama dengan keluarganya pak haji Abdullah. Kamu masih ingin kan? Itu lho ... guru ngajimu dulu. Sekarang beliau udah haji dan udah punya pesantren.”


“Iya, nanti Bian usahain kalau enggak lupa, ya!” balas Sabian dengan rasa malasnya.


“Enggak ada kata lupa jika masih ingin menggunakan semua fasilitas yang ayah berikan!” ancam ayahnya.


Sabian acuh, dia pun memilih untuk segera berlalu, tanpa ingin mengiyakan ucapan ayahnya.


“Dasar anak itu!” gerutu ayahnya saat diabaikan oleh Sabian.


Hampir 15 menit Sabian menempuh jarak dari rumahnya hingga sampai ke alamat rumah Iza.


...


__ADS_1


Hanafi...


__ADS_2