Aisyah Bukan Istri Mandul

Aisyah Bukan Istri Mandul
S—2 : Cinta Untuk Sabian


__ADS_3


“Ra, kamu ngapain disini?”


Zura tersentak saat mendengar sebuah pernyataan dari belakangnya. Siapa lagi jika bukan suara Abahnya.


“Abah,” gumamnya dengan rasa gugup. “Abah ngapain disini?”


“Lho, kamu ini gimana sih? ditanya kok malah ganti nanya! kamu sendiri ngapain disini? Jangan bilang kamu mau menyelinap ke asrama pria, iya kan?” tebak Abahnya.


“Eng—enggak kok, Bah! Tadi Zura mau—”Zura menjeda ucapannya dengan gugup. Tidak mungkin dia mengatakan yang sesungguhnya pada Abahnya jika ingin menagih hutang Sabian. Bisa-bisa ceritanya akan semakin panjang.


“Tadi Zura mau nyari Kak Yusuf. Tapi sekarang enggak jadi, karena Zura baru ingat kalau ini jam istirahat. Pasti kak Yusuf ada di rumah utama. Udah ah, Zura duluan ya, Bah! Assalamualaikum.” Zura pun memilih untuk meninggalkan Abahnya karena tidak ingin ditanya macam-macam olah Abahnya.


“Waalaikumsalam,” balas Abahnya yang masih penasaran dengan sikap putrinya. “Aneh!” gumamnya.


***


Entah mengapa bayangan Sabian terus saja menghantui pikiran Zura. Padahal sudah jelas jika pria itu adalah calon untuk kakaknya. Namun, dia tidak bisa membohongi hati dan perasaannya yang ingin terus memperhatikannya. Mungkinkah itu hanya perasaan ibanya saja atau memang ada perasaan khusus untuk anak itu.


“Astaghfirullahaladzim! Bian, keluar kamu dari pikiranku! Jangan terus menyiksaku seperti ini! Kamu itu calon yang telah ditentukan untuk kak Luna, bukan untukku!” Zura mencoba untuk mengusir bayang-bayang Sabian yang terus-menerus muncul di dalam pikirannya.


Zura tidak tahu bagaimana cara untuk mengusir bayang-bayang Sabian dari kepalanya. Bahkan semakin diusir malah semakin sulit untuk dibuang.


“Astaghfirullahaladzim, ya Allah. Tolong bantuan kamu ini untuk mengusir bayang-bayang Sabian dari pikiran ini. Sabian itu jodohnya kak Luna!” Zura mencoba untuk menepis pemikirannya tentang Sabian.

__ADS_1


Anak SMA yang saat ini baru menginjak usia 18 tahun dan dijodohkan dengan kakaknya yang saat ini sudah berusia 28 tahun, membuat Zura sempat menertawakan karena selisih umur keduanya. Entah apa yang merasuki Abahnya sehingga mencarikan jodoh untuk kakaknya anak yang masih ingusan. Seharusnya Sabian itu untuknya, bukan untuk kakaknya. Ya meskipun pada kenyataannya selisih usianya dengan Sabian terpaut hampir empat tahun, tapi setidaknya tidaklah terlalu jauh.


“Astaghfirullahaladzim! Dosa gak sih kalau aku menentang perjodohan Kak Luna dengan Bian? Yang bener aja selisih umur mereka tuh 10 tahun. Sebenarnya ini nggak adil untuk Kak Luna. Aku yakin Kak Luna sangat terpaksa untuk menerima perjodohan ini. Aku harus cari cara untuk membantu Kak Luna.” Tanpa pikir panjang, Zura setelah meninggalkan kamarnya untuk menuju ke kamar Aluna.


Entah mengapa rasanya tidak terima saat Sabian harus berjodoh dengan kakaknya. Padahal hubungan antara dirinya dengan Sabian juga tidaklah terlalu baik, tapi hatinya berdenyut saat membayangkan sang Kakak menikahi Sabian.


Tookk ... tokk ...Tokkk


“Kak Lun? Kak Luna!” panggil Zura. Namun, tak ada suara balasan dari dalam membuat Zura yakin jika sang kakak sedang tidak ada di dalam kamarnya.


“Apakah kak Luna masih di dapur ya? Kesana enggak ya? Ah, enggak mau! Nanti kalau aku kesana pasti aku disuruh bantuin masak.” Zura yang paling malas untuk turun ke dapur memilih untuk menunggu kakaknya di dalam kamar. Tanpa meminta persetujuan dari kakaknya, Zura pun langsung masuk ke dalam kamar begitu saja.


Sudah lama Zura tidak masuk ke dalam kamar kakaknya dan ternyata banyak perubahan yang terjadi di dalamnya. Dari mulai letak tempat tidur dan juga meja tempat buku. Meskipun tidak mewah, tapi saat masuk kedalamnya seperti ada sebuah magnet yang menarik untuk tetap tinggal di dalam kamar.


Zura pun langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur dan alasannya sangat empuk. Namun, tanpa sengaja matanya menangkap sesuatu yang berada di bawah bantal. Dengan cepat tangan Zura menyingkirkan bantalan tersebut untuk melihat apa yang di sembunyikan dibawahnya.


“Astaghfirullahaladzim.” Mata Zura ketika melihat sebuah bingkai yang disembunyikan kakaknya di bawah bantal. Zura tak pernah menyangka jika sang kakak akan menyimpan foto seorang pria dibawah bantal.


“Tunggu ... ini maksudnya apa sih? Kenapa fotonya Kak Yusuf ada dibawah bantal Luna?” Zura langsung mengambil foto Yusuf. Dan tanpa di duga, dibalik foto Yusuf ada tulisan tangan kakaknya. Dengan seksama Zura membacanya dalam hati.


Aku tidak pernah berharap kamu datang, tapi aku tidak bisa melawan takdir Allah. Kamu datang dengan membawa apa arti cinta dalam diam. Jangan salahkan hati jika rasa ini akan selalu menyimpan satu nama untuk selamanya. Entah sampai kapan kisah kita akan terus tertutupi seperti ini, karena aku yakin jika kamu tidak akan pernah bisa memperjuangkanku.


Zura langsung terbelalak dengan lebar. Dengan cepat dia meletakkan kembali foto Yusuf ke bawah bantal tempat semula. Dadanya masih berdegup dengan kencang seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja dibacanya.


"Astaghfirullahaladzim, jadi ternyata kak Luna dan kak Yusuf selama ini menjalin sebuah hubungan asmara. Ternyata kedekatan mereka bukan layaknya kakak dan adik? Tapi seperti .... ” Zura langsung menangkup bibirnya dengan kedua telapak tangan karena merasa sangat shock.

__ADS_1


Belum juga Zura menetralkan detak jantungnya tiba-tiba saja pintu kamar telah dibuka dan menunjukkan sosok Aluna yang masuk kedalam kamar. Aluna sangat terkejut dengan Zura yang sudah berada di atas tempat tidurnya.


“Zura, Kamu ngapain di sini?”


Zura tersentak. Bahkan detak jantungnya malah semakin kencang untuk berdetak. “ Kak Luna!” gugupnya.


Luna langsung mengernitkan dahinya saat mendekati Zura yang seperti sedang ngos-ngosan. “Ra, kamu kenapa? Kok kayaknya dikejar hantu gitu. Ada apa?”


Kepala Zura menggeleng dengan pelan. “Eng—enggak ada apa-apa, Kak. Zura cuma lagi mengkhayal eh, tiba-tiba Kak ngagetin,” ucapnya dengan berkilah.


“Kamu lagi mengkhayal apa, Ra? Dosa tahu mengkhayal yang enggak-enggak. Daripada menghayal mending kamu bantuin Umi di dapur buat kue. Kakak mau sholat dulu.”


“Ah ... kak Luna tahu gak sih, Zura tuh alergi sama dapur. Mending Zura nyambutin rumput dihalaman daripada disuruh masuk dapur.”


Aluna hanya menggelengkan kepalanya sambil menghela napas panjang. Meskipun satu produksi akan tetapi dia dan juga Zura sangat bertolak belakang. Zura cenderung lebih seperti tomboi, ya mungkin karena saat hamil Zura Abah dan Uminya sangat mengharapkan anak laki-laki.


“Kak Lun ... Zura mau ngomong sesuatu sama Kka Luna. Ini penting banget kak!”


Namun, Luna yang hendak menyegerakan sholat memilih untuk menolak keinginan Zura yang ingin berbicara dengan saat ini. “Ra, Kakak sholat dulu, ya!”


“Tapi ini penting banget kak!”


“Tapi sholat juga lebih penting, Ra! Udah, kamu tunggu bentar ya! Enggak sampai satu jam, kok!”


...####...

__ADS_1


__ADS_2