
Kini Ais tidak bisa berbuat apa-apa, ketika telah sampai di rumah sakit. Tangannya bergemetar diiringi dengan keringat panas dingin. Degup jantungnya terus berdetak lebih kencang, seakan dirinya sedang ikut lomba maraton.
Hanafi menatap heran pada perubahan wajah Ais, seolah membenarkan dugaan jika Ais sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
“Ais, kamu enggak papa?” tanyanya.
Ais hanya menggelengkan kepalanya dengan bahan karena saat ini dirinya benar-benar sangat gugup. Entah jawaban apa yang akan dikatakan kepada Hanafi ketika nanti dia mengetahui jika saat ini ada nyawa yang sedang menghuni rahimnya.
“Aku enggak apa-apa kok, Mas.”
“Tapi aku lihat kamu keringatan. Katanya lagi gelisah. Kamu tenang aja, apapun penyakit yang kamu derita aku akan tetap bersamamu dan tak akan pernah untuk meninggalkanmu. Aku akan tetap mencintaimu. Jadi kamu enggak usah takut.”
Setelah beberapa menit menunggu nomor antrian kini tiba giliran Ais untuk masuk ke dalam ruang pemeriksaan. Tubuhnya semakin bergetar bahkan kali ini keringat jagung mulai. Rasa gugup dan rasa takut telah menyelimuti hatinya.
“Mas .... ” Ais menahan lengan Hanafi ketika hendak diajak masuk ke dalam ruangan.
Satu alis Hanafi pun terangkat. “Iya, ada apa?”
“Mas ... Ais benar-benar enggak menyembunyikan sebuah penyakit apapun. Ais itu sehat, Mas. Hanya saja saat ini Ais sedang .... ” Terasa berat untuk mengungkapkan kata hamil. Helaan napas panjang pun terdengar begitu berat.
“Hanya apa, Ais?” tanya Hanafi dengan rasa penasarannya.
Ais menggigit bibir bawahnya. Jantungnya terus berdegup dengan sangat kencang.
“Ais ... katakan, sebenarnya kamu kenapa?” desak Hanafi.
Tidak ada pilihan lain selain berkata jujur, karena Ais tidak mau Hanafi kecewa saat mendengar keterangan yang sesungguhnya dari dokter nanti. Lebih baik menggagalkan rencana ibu mertuanya daripada suaminya kecewa, karena sebelumnya Hanafi telah mengatakan jika dia tidak menyukai sebuah kebohongan, sekalipun itu adalah kebohongan yang terkecil.
__ADS_1
“Sebenarnya Ais hamil, Mas,” ucapnya sambil menunduk. “Maaf jika telah menyembunyikan kehamilan ini. Semua ini atas perintah Ibu, Mas. Sebenarnya ibu ingin memberikan sebuah kejutan untuk Mas Hanafi nanti ketika kita pulang ke Jogja Tolong jangan marah, ya!”
Seketika tubuh Hanafi langsung mematung untuk beberapa saat. Bola matanya masih membulat dengan lebar karena rasa keterkejutannya. Rasanya hampir tidak percaya ketika sang istri mengatakan jika saat ini dia telah hamil.
“Ais ... kamu serius? Kamu hamil?” tanya Hanafi untuk memastikan lagi.
Kepala Ais mengangguk dengan pelan. “Iya, Mas. Ais enggak bohong. Itu sebabnya Ais enggak mau diperiksa, karena Ais sudah berjanji kepada ibu untuk tidak memberitahu Mas Hanaf terlebih dahulu.”
“Ais ... kamu bener-bener keterlaluan tahu! Kamu sudah membuatku sangat khawatir, karena aku sangat takut jika kamu benar-benar menyembunyikan sebuah penyakit yang serius. Dan satu lagi, aku juga sangat takut jika kamu sedang kerasukan penunggu kampus. Untung saja aku belum membawamu ke tempat kyai untuk meruqyahmu. Entah apa jadinya jika aku benar-benar sampai membawamu ke sana.” Hanafi langsung menonton Ais untuk duduk di bangku. Bahkan di mengabaikan saat nomor urut Ais di panggil berkali-kali oleh dokter.
“Sekali lagi maafkan Ais, Mas.”
Hanafi tidak bisa berkata apa-apa lagi selain mengucap kata syukur karena begitu cepat Allah menitipkan amanah kepada dirinya. Mungkinkah ini adalah jawaban atas doa-doa yang telah dia dan Aisyah panjatkan setiap malamnya?
Rasa haru tak bisa dibendung. Tak terasa air mata Hanafi menetas begitu saja. Tangannya pun terulur untuk memeluk Ais.
Untuk kali pertama seorang Hanafi menitihkan air matanya karena dia benar-benar sangat terharu dan sangat bersyukur atas sebuah amanah yang telah diberikan untuk Ais. Padahal jika mengingat dari sepenggal masa lalu Ais, Hanafi tidak berharap diberikan amanah dalam waktu yang begitu cepat.
“Alhamdulillah, Mas. Ais juga enggak nyangka jika Allah akan ngasih amanah ini secepatnya. Mungkin ini adalah jawaban atas doa-doa Ais selama ini, Mas. Ais enggak mandul Mas.” Tak terasa air mata Ais pun membasahi pipinya. Tidak peduli sedang berada dimana dia saat ini, toh jikapun mereka berdua berpelukan, mereka sudah sah dan sudah halal.
***
Bagaimana bisa Hanafi marah kepada Ais karena dia memang bukanlah pria yang bisa marah kepada perempuan. Terutama ibu dan istrinya. Meskipun sang istri telah melakukan persekongkolan dengan ibunya untuk menyembunyikan kabar besar itu, tetap saja Hanafi tidak bisa marah, sekalipun ada sedikit rasa kecewa.
Karena telah mengetahui jika sang istri tengah hamil, Hanafi tak mengizinkan Ais untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Bahkan Hanafi memutuskan untuk memakai jasa pekerjaan paruh waktu untuk membersihkan rumahnya. Kini Ais benar-benar tak diizinkan lagi untuk melakukan aktivitas yang akan melelahkan, karena ini adalah kehamilannya yang pertamanya.
“Mas ... ” panggil Ais dari dalam kamar mandi.
__ADS_1
Hanafi yang masih memainkan ponselnya langsung bergegas menuju kamar mandi. “Ais, ada apa? Kamu kenapa?” Hanafi mencoba untuk membuka pintu kamar mandi tetapi pintunya masih terkunci.
“Mas ... Ais lupa membawa handuk. Minta tolong ambilkan, dong. Handuknya ada di balkon!” seru Ais dari dalam kamar mandi.
Tanpa banyak kata, Hanafi pun langsung berlari kecil untuk mengambil handuk yang masih dijemur di balkon. Biasanya dirinyalah yang sering melupakan handuk, akan tetapi akhir-akhir ini kebiasaan itu malah diikuti oleh Ais.
“Coba aja kalau aku yang lupa handuk, pasti udah ngoceh-ngoceh dia!” gerutu Hanafi.
Tak berapa lama Hanafi pun memanggil Ais untuk membuka pintunya. Dan pada saat Ais membuka pintu, Hanafi tak menyia-nyiakan kesempatan untuk dirinya masuk ke dalam.
“Aaaaa .... ” teriak Ais dengan rasa terkejut karena Hanafi yang nyelonok begitu saja masuk ke dalam. Dengan cepat dia pun langsung menutupi tubuhnya dengan handuk yang baru saja diberikan oleh Hanafi Hanafi “Mas Hanaf ngapain masuk?”
Hanafi tertawa saat melihat bibir Ais yang telah mengerucut. Sudah hampir satu Minggu setelah dia mengetahui jika sang istri hamil, saat itulah dia ikut berpuasa karena takut jika hanya akan menyakiti calon buah hatinya di dalam sana. Namun, beberapa menit yang lalu dia baru saja membaca sebuah artikel di dalam internet bahwa melakukan hubungan suami istri tidak akan berpengaruh apa-apa kepada janin selagi mereka melakukan dengan cara normal.
“Mas Hanaf ngapain ketawa kayak gitu? emangnya ada yang lucu?” tanya Ais dengan ketus.
Namun, bukannya menjawab Hanafi malah berusaha untuk menarik handuk yang telah menutupi tubuhnya. “Eh ... Mas Hanaf mau apa?” teriak Ais lagi sambil berusaha untuk mempertahankan agar handuknya tak terlepas.
“Mau minta jatah,” bisik Hanafi dengan senyum smrik.
Bola mata Ais langsung membulat dengan lebar. “Mas ... sejak kapan kamu mempunyai pikiran messum kayak gini! Keluar, aku mau ganti!”
“Enggak mau! Aku mau minta jatah disini. Kata pak Burhan main di kamar mandi itu lebih nikmat, lho!”
“Mas Hanaf .... keluar!”
...###...
__ADS_1