Aisyah Bukan Istri Mandul

Aisyah Bukan Istri Mandul
BAB 63


__ADS_3

Meskipun sibuk mengajar di sekolahan tetapi Hanafi masih menyempatkan diri untuk menghubungi Ais. Disela-sela istirahatnya, Hanafi memilih untuk menelepon sang istri daripada mengisi perutnya. Rasanya belum lega jika belum mendengar bagaimana keadaan sang istri saat ini, terlebih tadi pagi masih muntah-muntah.


“Halo, assalamualaikum,” kata Hanafi saat panggilannya diangkat oleh Ais.


[ Waalaikumsalam, Mas. Ada apa? ]


“Ais, bagaimana keadaan kamu? Masih sakit? Kamu udah makan atau belum? Apakah ibu datang ke rumah?”


[ Alhamdulillah Ais udah baik-baik aja, Mas. Ais baru aja selesai makan siang. Alhamdulillah tadi bapak sama ibu ke rumah dan untuk berobat. Alhamdulillah Ais enggak sakit apa-apa. Katanya Ais hanya kelelahan aja, terus dikasih vitamin ]


Mendengar penjelasan dari balik telepon membuat Hanafi langsung bernapas dengan lega, karena tanpa diminta ternyata orang tuanya langsung gerak cepat untuk membawa istrinya berobat.


“Alhamdulillah kalau begitu. Ya udah kamu istirahat aja, enggak usah ngerjain kerjaan rumah. Biar nanti aku yang ngerjain. Oh iya, kamu mau nitip apa?”


Mendapat tawaran dari sang suami membuat Ais langsung memikirkan makanan yang ingin dia makan. Sekilas bayangan bebek panggang melintas di pikirannya. Dengan senyum yang melebar Ais pun langsung memberitahu Hanafi jika dia menginginkan bebek panggang.


[ Ais pengen makan bebek panggang ya, Mas ]


Tanpa pikir panjang, Hanafi pun langsung mengiyakan keinginan Ais.


“Baiklah, nanti aku belikan.”


Panggilan pun akhirnya terputus dan bawaannya pas panjang pun keluar begitu saja. Meskipun permintaan yang sedikit aneh, tetapi Hanafi yakin pasti ada yang jualan bebek panggang di siang hari. Biasanya bebek panggang hanya ada di tempat angkringan pecel lele yang buka pada sore hari.


Jam istirahat yang hanya 30 menit pun telah berakhir dan kini waktunya kembali masuk ke dalam kelas untuk melanjutkan pelajaran. Seperti biasa, kelas akan riuh sebelum guru masuk ke dalam kelas. Akan ada banyak tingkah yang dilakukan oleh para anak-anak untuk menunggu guru datang. Dan biang kerok dalam kelas adalah Bian.


“Bian, kembalikan!” teriak salah seorang teman perempuan yang tasnya diambil oleh Bian.


“Tunggu sebentar, aku hanya ingin tahu apa isinya. Pelit amat, sih!” sentak Bian.


“Isinya cuma buku, Bian! Kembalikan!”

__ADS_1


Tak ada satu orang pun yang berani untuk melawan Bian, karena jika dilawan pasti hidup temannya tak akan tenang dan selalu akan menjadi target kejahilan Bian selanjutnya.


“Bohong! Enggak mungkin kalau cuma buku aja wajah kamu tegang kayak gitu. Pasti kamu sedang menyembunyikan sesuatu di dalam tas ini. Hayo ngaku!”


Hanya pasrah, begitulah saat berhadapan dengan Bian, karena apapun yang dilakukan oleh Bian tak akan ada satu orang pun yang berani untuk menegurnya. Bahkan para guru pun tak sanggup untuk menegur Bian, karena hanya akan masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri.


Belum sempat Bian mengeluarkan isi dalam tas tiba-tiba sebuah tangan telah menyambar tas itu dari tangan Bian. Bola matanya langsung mendelik dengan lebar ketika menyadari ada seseorang yang berani merampas sesuatu dari tangannya. Dan pada saat memberikan tubuhnya, Bian hanya menghela napas panjang saat mengetahui siapa pelakunya.


“Ibu lagi ... Ibu lagi. Sebenarnya mau itu apa sih? Mau cari masalah sama saya? Sadar Bu, Ibu hanya guru baru disini, jadi enggak usah cari masalah!” cibir Bian dengan sombong.


“Saya tidak sedang mencari masalah dengan siapapun, Bian. Disini saya guru, jadi sudah sepantasnya saya melindungi murid saya yang sedang ditindas. Jika kamu merasa keberatan dengan kehadiran saya, silahkan tinggalkan kelas ini, tapi jangan salahkan saya jika saya akan memanggil orang tua kamu secara langsung. Kamu pikir saya tidak tahu alamat kantor ayah kamu?”


Seketika Bian terdiam tanpa bisa berkutik lagi dengan ancaman yang diberikan oleh Iza. Tentu saja Bian tidak mau jika orang tuanya sampai dipanggil untuk datang ke sekolah hanya karena ulahnya. Bisa-bisa semua fasilitas yang dia miliki akan langsung ditarik begitu saja oleh sang ayah.


“Liana, ini tas kamu.” Iza pun langsung memberikan tas milik salah satu siswinya.


“Karena sebentar lagi kita akan menghadapi ujian akhir semester, maka hari ini kita akan adakan ulangan. Mungkin selama satu minggu ke depan kita akan melakukan ulang untuk persiapan sementara akhir. Ibu tidak mau kalian tidak naik kelas, terutama kamu Bian! Jika kamu masih mendapatkan telur rebus juga, jangan harap kamu bisa tidur nyenyak!”


Iza pun hanya tersenyum tipis ketika bisa membungkam Sabian yang hampir setiap hari membuat naik tensi para guru. Entah mengapa Bian hanya tak bisa melawan berlebihan saat dihadapkan oleh Iza, yang berstatus guru baru. Apakah mungkin karena Iza bisa mengetahui kelemahannya?


***


Sudah hampir satu jam Hanafi berkeliling untuk mencari bebek panggang pesanan Ais. Namun, hingga kini dia belum menemukan penjual bebek panggang. Bahkan beberapa restoran dan rumah makan telah disinggahi, tetap saja dia tak menemukan bebek panggang.


“Heran deh, kalau lagi dicari enggak ada satupun yang menjual bebek panggang. Ais pun juga ada-ada aja, nyari siang-siang pesan bebek panggang. Mana enggak bisa ditunda nanti malam lagi. Coba aja kalau lagi enggak sakit, aku gak bakalan nawarin dia mau dibelikan apa. Kalau kayak gini kan jadi repot sendiri!” gerutu Hanafi dengan helaan napas panjang. Entah kemana lagi dia harus menemukan bebek panggang pesanan istrinya.


“Apakah aku minta bantuan ibu aja, ya?” Seketika Hanafi langsung teringat akan ibunya yang jago masak memasak. Hanya sang ibu yang bisa membantu dirinya saat ini, karena sang ibu adalah super hero untuknya. Bisa diandalkan kapan saja dibutuhkan.


Tak ingin membuang waktu Hanafi anak perempuan langsung meluncur ke rumah ibunya dengan seorang bebek yang telah dia beli di peternakan bebek. Untung saja ada yang jual bebek sehingga dia tinggal meminta bantuan ibunya untuk memanggangnya saja.


Tak butuh waktu lama mobil yang dikendarai oleh anak pun telah masuk ke pekarangan rumah ibunya. Dengan cepat dia langsung bergegas untuk masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


“Assalamualaikum,” teriak Hanafi yang langsung nyelonong masuk ke dalam rumah.


“Waalaikumsalam.”


Sang ibu mendelik saat melihat anaknya pulang sambil membawa seekor bebek. Dengan heran ibunya pun bertanya, “Han ... kamu ngapain bawa bebek? Mau ternak bebek?”


“Gak ada untungnya ternak bebek cuma satu ekor. Kalau bukan karena keinginan menanti kesayangan ibu, Hanafi juga enggak mau beli bebek.”


Setelah menyalami ibunya, Hanafi pun langsung menuju ke dapur. “Pisau mana, Bu?”


“Pisau? Untuk apa?”


“Untuk menyembelih bebek ini, Bu. Menantu kesayangan ibu lagi pengen bebek panggang. Jadi ibu panggangin, ya! Masakan ibu kan gak diragukan lagi,” jelas Hanafi yang sedang sibuk mencari pisau untuk menyembelih bebeknya.


Seketika sang ibu langsung memanggil suaminya, karena dia tidak mengizinkan jika Hanafi yang menyembelih bebek, karena saat ini Ais sedang hamil. Dan menurut mitos kepercayaannya jika seorang istri sedang hamil, maka suaminya dilarang untuk membunuh hewan.


“Pak ... sini dulu!”


Pak Subha yang mendengarkan panggilan istrinya langsung bergegas menuju ke dapur. “Ada apa, Bu?”


“Tolong potong dulu bebek itu! Ibu mau buat bumbunya!”


“Ibu mau masak bebek? Tumben, Bu? Ada acara apa ini?”


“Kan ada Hanafi, Bu. Biar Hanafi aja yang motong. Hanafi bisa kok, kan udah sering motong ayam,” timpal Hanafi.


“Udah, enggak usah banyak protes. Kasih bebeknya ke bapak kamu! Mending kamu beli lalapan ke warung terdekat. Keburu Ais nunggu lama! Lagian kenapa enggak bilang dari tadi sih kalau mau bebek panggang. Kan bisa dikerjain dari tadi!” ujar Ibunya.


Hanafi hanya melongo ketika sang ayah meninta bebek yang dipegangnya. Bahkan sang ibu sama sekali tidak mengomel ketika harus direpotkan. Apakah karena Ais yang memintanya, sehingga sang ibu tidak marah?


Aneh! Biasanya ibu sambil ngomel-ngomel. Apakah karena Ais yang minta? Jadi sebenarnya anak kandung ibu itu aku atau Ais sih?

__ADS_1


...###...


__ADS_2