
Kini Sabian duduk lesu di hadapan para guru termasuk Iza juga. Beberapa menit yang lalu setelah melihat rekaman cctv, para guru langsung menuju ke kamar mandi untuk memastikan apakah benar Iza memang masih berada di dalam kamar mandi. Dan benar saja, Iza ditemukan di salah satu kamar mandi dengan sebuah palang yang mengatakan jika kamar mandi itu sedang rusak. Sudah bisa pastikan jika itu memanglah sebuah kesengajaan dari seseorang dan satu-satunya orang yang masuk ke dalam kamar mandi itu adalah Sabian.
“Sabian, katakan apakah kamu yang telah mengunci Bu Iza di damar mandi?” tanya pak Burhan selaku kepala sekolahnya.
Bian masih memilih bungkam dengan kepala yang menunduk. Bukan karena dia menyesali apa yang telah dia lakukan, tetapi dia kecewa mengapa para guru begitu cepat menemukan ibu guru yang dikuncinya didalam kamar mandi.
“Sabian ... sebenarnya apa yang kamu pikirkan sehingga kamu tega untuk mengunci Bu Iza di dalam kamar mandi. Jika tadi sampai terjadi sesuatu kepada beliau bagaimana? Kamu ini sebenarnya anak apa sih? Setiap hari kerjaannya cuma bikin kerusuhan. Jika kamu memang sudah tidak mau sekolah, tolong bicara baik-baik, jangan seperti ini!” celetuk Bu Indah, salah satu guru yang sudah jika harus menghadapi Sabian.
Iza hanya hanya bisa menghela napas panjangnya. Dia tidak tahu mengapa Bian sampai menguncinya di kamar mandi. Mungkinkah ada sesuatu kesalahan yang membuatnya tersinggung sehingga itu adalah bentuk balas dendamnya? Namun, saat Iza mencoba mengingat kesalahan apa yang telah dia lakukan, tetapi dia sama sekali tidak mengingat jika menyinggung ataupun memberikan hukuman yang berat pada Bian. Jika hanya karena masalah ciuman kemarin, seharusnya yang marah itu dirinya, bukan Bian.
“Jika kamu tidak mau mengaku, maka bapak akan menelepon orang tua kamu!” ancam Hanafi yang juga ikut geram dengan apa yang dilakukan oleh Sabian.
Seketika Sabian langsung mendownload untuk menatap satu persatu guru yang ada di hadapannya. Dengan kalau anak panjang, sekilas Bian melirik kearah Iza yang duduk di sampingnya.
“Saya harus mengaku apa lagi, Pak? Bukankah rekaman CCTV sudah jelas untuk membuktikan jika saya pelakunya? Lalu untuk apa saya harus mengaku lagi?”
“Tapi kami butuh pengakuan dari kamu mengapa kamu sampai tiga mengunci Ibu Iza di dalam kamar mandi. Apakah kamu mempunyai dendam pribadi dengannya? Bian ... Bapak ini sudah capek setiap hari mendengar pengaduan dari para guru dan juga teman-teman kamu tentang kelakuan kamu. Bisa tidak 1 detik saja kamu tidak membuat masalah?” timpal Pak Burhan.
Sebenarnya Iza ingin marah ketika mengetahui jika dia sengaja dikunci di dalam kamar mandi. Namun saat mengetahui jika yang mengunci dirinya adalah Sabian, Iza mencoba untuk melupakan perasaannya.
__ADS_1
Sabian adalah satu-satunya murid yang tidak bis disentuh oleh siapapun. Bahkan, bisa dikatakan dia adalah penguasa sekolah, karena tak ada satupun guru yang berani untuk mengadu kepada orang tuanya. Itu semua karena orang tua Bian adalah donatur tetap di sekolah itu. Mereka tidak mau jika aduan tentang keburukan Bian akan membuat orang tuanya tidak terima dan tidak mau untuk menjadi donatur tetapi sekolahnya.
Sekalipun Sabian dipaksa untuk mengatakan alasannya mengunci Bu Iza, tetap saja anak itu tidak mau mengungkapkannya. Bian memilih bungkam dan seolah tidak bersalah atas apa yang telah dia lakukan.
Cukup lama sabyan berada di ruang guru, tetapi dia masih kukuh dengan pendiriannya, hingga membuat beberapa guru merasa geram dan memilih meninggalkan ruangan, untuk mencari pasokan udara segar.
“Em ... Pak, bisakah saya berbicara empat mata dengan Sabian? Mungkin dengan cara seperti itu dia mau mengungkapkan alasannya, karena saya yakin Bian sedang mempunyai rasa dendam kepada saya, sehingga mengunci saya di kamar mandi,” ucap Iza.
Pak Burhan tidak merasa keberatan dengan ide yang dicetuskan oleh Iza. Mungkin ada sebenarnya ada benarnya, karena Pak Burhan sudah sangat hafal dengan sifat Sabian.
“Ya, sudah silahkan! Bawa saja dia ke ruang pembimbing konseling!”
Meksipun merasa berat, Sabian pun berjalan ke ruang BK. Banyak pasang mata dari teman-teman yang melihat dirinya tanpa berkedip.
“Apa lihat-lihat? Mau di congkel matamu?” sentak Sabian pada teman yang menatapnya.
Seketika semua orang yang menatap Sabian langsung ngacir, karena tak ingin menjadi target kejahilan Bian selanjutnya.
Iza yang berjalan di belakang Sabian hanya bisa menggelengkan kepalanya. Sebenarnya Iza hanya merasa kasian dengan keadaan Sabian, dimana dia tumbuh tanpa kasih sayang orang tuanya. Pasti banyak hal yang ingin diungkapkan, tetapi tertahan, terlebih hanya tinggal bersama dengan seorang ayah dan nenek yang pasti terus belanjanya sehingga lupa jika mereka harus mencurahkan cinta dan kasih sayangnya.
__ADS_1
“Udah deh Buk, kalau niatnya cuma mau kasih hukuman kasih aja! Enggak usah pakai ceramah panjang lebar lagi jika tidak mau aku cium lagi!“ ketus Sabian ketika mereka berdua telah masuk ke ruangan BK.
Iza hanya bisa membuang napas kasarnya. Namun, dia tetap harus tenang dan sabar untuk menghadapi murid modelan seperti Sabian ini. Anak semacam sabyan tidak bisa dihadapi dengan kemarahan agar bisa tidak merusak suasana hatinya.
“Memangnya siapa yang mau memberi hukuman? Ibu tidak akan memberi hukuman kepada kamu, karena Ibu rasa semua hukuman telah kamu jalani dengan baik dan kamu tidak jera. Itu hanya percuma, iya kan?”
“Terus ngapain Ibu ngajakin aku ke sini? Apakah ibu mau balas dendam untuk mengujiku di ruangan ini?” tebak Bian dengan sinis.
“Astagfirullahaladzim Sabian ...! Kamu pikir Ibu pendendam seperti kamu? Tidak Bian! Ibu hanya ingin mengobrol sebentar kepada kamu. Ya, anggap aja ini adalah hukuman, karena sebelumnya kamu belum pernah mendapatkan hubungan seperti ini kan?”
Iza segera menarik sebuah kursi untuk diberikan kepada Sabian. Matanya masih menatap dengan lekat untuk membaca aura wajahnya. “ Sebenarnya kamu itu adalah anak yang baik, tetapi kamu merasa kesepian sehingga kamu menciptakan sebuah keributan untuk menyenangkan hatimu. Benar atau tidak?” tebak Iza dengan senyum tipis.
“Dan Ibu yakin pasti ada sesuatu yang membuat hatimu kesal kepada ibu sehingga kamu mengurung ibu di kamar mandi. tapi kamu tenang saja Ibu tidak akan marah sama kamu. Coba katakan apa kesalahan apa yang telah membuat kamu merasa kesel kepada ibu? Kita buat santai aja, enggak udah formal karena disini hanya ada kita berdua” lanjut Iza lagi.
Seketika mata Bian menyapu setiap sudut ruangan untuk mencari sebuah kamera CCTV, karena Bian tidak mau jika ini hanyalah sebuah jebakan untuknya saja.
“Tutup dulu cctvnya, setelah itu aku akan memberitahu alasanku mengunci Ibu di kamar mandi!” pinta Sabian.
Iza pun mengangguk dengan pelan. “Baiklah, Ibu akan menutupnya.”
__ADS_1
...###...