Aisyah Bukan Istri Mandul

Aisyah Bukan Istri Mandul
BAB 83


__ADS_3

“Darimana?” Sebuah pertanyaan langsung menyambut kedatangan Ais.


Ais mencoba untuk tersenyum saat ditatap tajam oleh suaminya, berharap bisa meluluhkan hati suaminya yang sedang kesal. Sebelumya Ais telah mengatakan kepada Hanafi jika dia sudah ada di jalan, tetapi hampir satu jam lamanya Hanafi menunggu Ais, tetapi istrinya tak kunjung sampai di rumah.


“Dari rumah Lita, Mas.”


“Rumah temen kamu yang pakai kacamata tebal itu?”


Kepala Ais mengangguk dengan pelan untuk mengiyakan tebakan suaminya. “Iya, Mas.”


“Masa sih? Perasaan jarak dari sana ke rumah itu sekitar 15 menitan, tapi ini sudah satu jam dari sejak kamu bilang otw. Kamu otw kemana dulu?”


“Ais tuh enggak bohong, Mas. Tadi pas bilang otw, Ais masih disana. Maaf, ya.”


Hanafi yang sudah sangat khawatir hanya bisa mengacak rambutnya. Seberapapun dia merasa kesal kepada Ais, tetap saja dia tidak bisa marah. “Ya udah masuk sana! Udah sholat belum?”


Ais langsung mengikuti langkah Hanafi untuk masuk ke dalam rumah. Rasanya berat karena dia harus berbohong, tetapi jika tidak berbohong pasti suaminya akan mendumel, karena Ais melanggar larangan Hanafi.


“Mas Hanaf udah sholat?” tanya Ais saat hendak masuk ke kamarnya.


“Udah,” jawabnya singkat.


Disisi lain, Iza tengah bersiap untuk menuju ke rumah Bian. Seharusnya jam mengajar Iza malam, tetapi entah mengapa nenek Bian menyuruhnya datang lebih awal. Tak ingin banyak berpikir Iza memutuskan untuk langsung berangkat. Toh di rumah dia juga tidak memiliki pekerjaan lain.


Baru saja mengunci pintu tiba-tiba suara klakson sebuah motor menggema di telinganya. Iza sungguh sangat terkejut dengan kedatangan sosok pria misterius yang masih mengenakan helm tiba-tiba menyodorkan sebuah helm untuknya.


“Enggak! Kamu siapa?” tanya Iza dengan gugup.


“Udah pakai aja!”


Setelah mendengar suara dari pengguna motor itu, kini bisa tahu siapa orangnya. Siapa lagi jika bukan Sabian. Iza yang ketakutan langsung menghela napas panjangnya. Sebelumnya Iza berpikir jika itu adalah penjahat.


“Bian! Kamu ngapain kesini?”


“Udah, enggak usah banyak tanya! Buruan naik!”

__ADS_1


Tanpa banyak bertanya lagi, Iza langsung memasang helm sebelum naik keatas motor. Iza kedatangan Bian karena perintah dari nenek ataupun ayahnya, sebab tidaklah mungkin jika dia mempunyai inisiatif untuk menjemputnya.


Iza sebenarnya merasa takut manakala Bian membawa motor dengan kecepatan tinggi. Namun, Iza memilih diam karena percuma saja memprotesnya.


“Buk, pegangan!” teriak Bian.


Karena laju motor terlalu kencang hingga membuat Iza tidak begitu mendengar dengan jelas. “Kamu ngomong apa, Bi?” teriak Iza yang ingin memperjelas ucapan Bian.


“Pegangan, Buk!”


“Hahh! Enggak jelas, Bi!”


Karena kesal gurunya yang tidak juga mendengar apa yang dia katakan, Bian dengan tangan kirinya Bian langsung menarik tangan Iza untuk berpegang ke perutnya, karena Bian akan menambah laju motornya.


Iza yang merasakan tangan telah dipaksa untuk melingkar di perut Bian langsung mendelik. Bahkan Iza sempat menolak, tetapi tangan Bian semakin erat menarik tangannya.


“Jangan salahkan aku jika nanti terjadi sesuatu dengan Ibu! Lihatlah di depan sana macet. Aku harus mencari celah agar bisa segera sampai di rumah.”


Benar saja apa yang dikatakan oleh Bian jika dia akan menambah laju kecepatannya untuk mencari celah. Bahkan Bian tidak peduli dengan kemacetan yang ada yang penting masih ada celah untuk dilewati, akan Bian terobos.


“Enggak bisa pelan, Bu! Makanya Ibu pegangan!”


Tak ada pilihan lain, Iza pun membuang egonya dan langsung melingkar kedua tangannya di pinggang Bian dengan erat. Menyadari tangan gurunya telah melingkar, Bian hanya ternyata tipis.


Sok jual mahal cibir Bian dalam hati.


***


Iza merasa heran ketika Bian tak membawanya pulang ke rumah, melainkan membawa Iza kesebuah salon. Semua ini gak lepas dari perintah sang nenek yang menyuruh Bian membawa Iza ke salon, karena malam ini akan ada acara makan malam di rumahnya.


“Bi, kok malah ke sini sih? Kamu mau perawatan?” tanya Iza dengan heran.


“Ibu pikir aku bencong? Udah sana masuk! Ibu enggak boleh nolak, karena ini perintah nenek lampir!”


“Nenek lampir? Maksud kamu apa, Bi? Ibu enggak mau!”

__ADS_1


Bian menghela napas panjangnya yang kemudian menarik tangan Iza untuk masuk kedalam salon. “Bukankah ibu yang menginginkan aku untuk bekerja sama dengan Ibu. Aku sudah melakukan tugasku dengan baik, bahkan aku menurutmu perintah Ibu. Jadi sekarang giliran ibu yang harus menurutiku, agar kerjasama kita terasa impas!”


Sungguh Iza tidak mengerti dengan apa yang ingin dilakukan oleh Bian. Belum sempat memberontak, Iza telah dituntun oleh pegawai salon. “Tenang Bu, kita ada ruangan khusus untuk ibu, jadi tidak akan ada satu orang pun yang akan melihat perawatan ibu, karena hanya kita dan ibu yang akan melihatnya.”


“Udah sana, Bu! Jangan buang waktuku lebih lama lagi!”


Sambil menunggu gurunya di make over, Bian merupakan tubuhnya ke sebuah sofa yang telah disediakan. Entah apa rencana neneknya sehingga dia harus membawa gurunya ke salon terlebih dahulu. Dan untuk mengusir kejenuhannya Bianmelanjutkan permainan di ponselnya yang sempat tertunda gara-gara harus menjemput gurunya itu.


Hampir 45 menit, Iza berada di dalam sebuah ruangan bersama dengan beberapa yang mendandaninya. Iza hanya pasrah, terlebih saat disuruh untuk ganti pakaian.


“Anak Ibu sangat perhatian dengan Ibu. Jaman sekarang mana ada anak lajang yang setiap menemani ibunya di salon apalagi sampai membelikan pakaian ganti. Memangnya ada acara dadakan ya, Bu?” tanya salah seorang yang baru saja mendandani Iza.


“Tapi Ibu termasuk awet muda, lho! Bahkan hampir tidak terlihat jika anak itu adalah anak ibu.”


Iza langsung mengernyitkan dahinya saat dianggap ibunya Bian. Bagaimana ceritanya mereka menganggap jika Bian adalah anaknya.


“Ibu peruntungan sekali mempunyai anak baik seperti dia. Pasti suami ibu sangat mencintai ibu. Kok aku jadi iri sama ibu ya? Tapi sayangnya jodoh belum terlihat,” celetuk salah satu karyawan salon.


“Oh iya, ini pakaian yang untuk ibu.”


Iza langsung mengambil sebuah paper bag dan berjalan ke ruang ganti. Dalam hati bertanya-tanya apakah di rumah Bian akan ada acara keluarga sehingga dia harus melakukan make over di salon terlebih dahulu. Apakah penampilan terlalu buruk sehingga hanya akan membuat keluarga Bian malu?


“Bian, ayo Ibu udah siap.”


Mendengar suara Iza, Sabian langsung menyimpan ponselnya ke dalam jaket dan mendongak untuk melihat gurunya. Seketika Bian terkesima pada sosok yang saat ini berdiri tepat di hadapannya. Bahkan Bian sampai tak berkedip melihat gurunya yang sangat berbeda dari sebelumnya. Dadanya malah bergerumuh karena merasa sangat terpesona pada wanita itu.


“Bi, ayo!” ulang Iza.


...###...


Sabian : 17 tahun jalan 18


Iza : 28 tahun jalan 29


Bapaknya Bian : 42 tahun

__ADS_1


Hitung sendiri aja selisih usia mereka. Tapi ngomong-ngomong ini udah 3 bab, lho! Mana suaranya 😁


__ADS_2