
...Satu kesalahan akan merobohkan pondasi yang telah dibangun dengan susah payah. Namun, meskipun susah payah dibangun lagi, tetap saja tidak akan semulus dengan pondasi sebenarnya. Begitu juga apa yang dirasakan oleh Ais saat ini. Meskipun Azam telah menyesal dan mengakui kesalahannya, tetapi tidak akan bisa mengembalikan perasaannya pada Azam. Semua telah hancur dan tidak bisa dikembalikan ke bentuk semula. ...
***
Siapa yang menyangka jika di luar Jelita bisa mendengar dengan jelas apa yang sedang dibicarakan oleh Ais dengan dosen barunya itu. Jelita merasa sangat terkejut dengan apa yang didengarnya. Ternyata Ais, yang dianggap masih perawan, ternyata telah menikah. Dan yang membuat Jelita lebih shock lagi ternyata dosen baru itu adalah mantan suami dari Ais.
Jelita langsung berlari menjauh ketika mendengar langkah Ais yang hendak keluar. Dengan cepat Jelita membuka ponselnya dan berpura-pura sedang sibuk dengan ponselnya.
“Lita ... maaf membuatmu harus menunggu lama. Ayo kita pulang,” ajak Ais yang seolah tidak terjadi sesuatu padanya.
“Ais, kamu ada masalah apa dengan dosen baru itu? Apakah kamu mempunyai masalah pribadi dengannya?” tanya Jelita yang berpura-pura tidak mengetahui masalah Ais.
“Hanya masalah salah paham saja. Sudahlah tidak usah kamu pikirkan karena sekarang masalahnya sudah selesai.”
Jelita hanya mengangguk dengan pelan. Rasanya masih tidak percaya jika Ais telah menikah, karena usianya saja sama dengan dirinya.
“Ais ... bolehkah aku bertanya kepadamu?”
“Bolehlah. Memangnya kamu mau bertanya tentang apa?”
Sejenak Jelita terdiam. Rasanya ragu, tetapi Jelita harus berani menanyakan tentang status Ais, agar dia tidak salah langkah untuk mengenalkan Ais kepada kakaknya.
“Em ... Ais ... aku ingin bertanya kepadamu apakah kamu masih single atau sudah mempunyai pasangan? Maaf jika pertanyaanku ini menyinggung perasaanmu, karena aku tidak ingin salah langkah saat aku mengenalkanmu pada kakakku nanti,” ujar Jelita dengan helaan napas panjangnya.
Seketika Ais langsung menghentikan langkahnya saat mendengar pertanyaan yang diucapkan oleh Jelita. Mungkinini adalah waktu yang tepat untuk memberitahu kepada Jelita jika dirinya saat ini telah menikah. Mungkin inilah cara Allah memberikan jalan pada Ais untuk berterus terang.
“Lita ... apakah kamu yakin ingin mengetahuinya? Baiklah aku akan menjawab pertanyaanmu. Aku sudah menikah,” ucap Ais dengan helaan napas panjangnya.
“Benarkah? Ais, aku tidak menyangka jika ternyata diusia muda kamu telah menikah. Apakah kamu menikah karena perjodohan keluarga?” yang Jelita yang ingin tahu lebih dalam tentang pernikahan Ais.
Ais tersenyum tipis karena harus mengingat kembali mengapa dia dan Azam bisa menikah. Ya, pernikahan Ais dan juga Azam karena sebuah perjodohan keluarga. Awalnya yang menjodohkan Ais adalah Mama Maya, karena dia sangat tertarik dengan kecantikan Ais. Namun, entah setan apa yang merasuki wanita itu sehingga memberikan pilihan yang begitu berat kepada Ais. Sakit jika Ais harus mengingat kembali tentang pernikahan dengan Azam.
__ADS_1
“Ya, pernikahan aku sebelumnya memang karena sebuah perjodohan keluarga. Namun, suatu ketika nanti itu datang dan ternyata aku tidak bisa mempertahankan pernikahanku. Dengan berat hati aku memilih berpisah, karena aku tidak sanggup untuk perbaiki suami dengan wanita lain,” ucap Ais dengan mata yang terasa panas.
“Astaga Ais ... jadi maksudnya mantan suami kamu itu berselingkuh dengan wanita lain? Ya, aku tahu bagaimana rasa sakit ketika tangan kita berselingkuh, karena aku pernah berada di posisi seperti. Tapi, beruntung saja aku segera mengetahuinya sehingga aku tidak jatuh terlalu dalam.” Kenang Jelita dengan rasa sesak di dalam dadanya.
Meskipun perpisahan Ais bukan karena perselingkuhan, tetap saja terasa sakit, terlebih saat sama suami tidak bisa mempertahankan dirinya.
“Iya, Lit. Sangat sakit. Tapi Alhamdulillah, Allah telah mengirimkan penggantinya yang jauh lebih baik dan jauh lebih sayang denganku,” ujar Ais dengan bibir tersenyum saat mengingat sosok suaminya yang nyaris sempurna di mata para wanita dan sebagian ibu-ibu yang sering mengikuti pengajian rutin. Namun, karena saat sebuah kesalahpahaman suaminya tidak diberikan untuk mengisi pengajian rutin di masjidnya.
“Yah .... jadi gagal dong rencanaku yang ingin mengenalkanmu dengan kakakku. Padahal aku sangat berharap jika kamu bisa menjadi jodoh kakakku, agar kamu selalu berada disampingku,” keluh Jelita dengan sedikit rasa kecewa karena mengetahui jika saat ini Ais telah memiliki seorang suami.
Seketika Ais menertawakan ucapan Jelita. “Lita ... tanpa kamu menjodohkanku dengan kakakmu aku akan tetap berada disampingmu dan akan tetap menjadi temanmu. Aku akan selalu ada untukmu jadi kamu tidak usah merasa takut sendirian lagi karena mulai sekarang juga aku disampingmu.”
“Benarkah?”
Ais mengangguk dengan pelan. “Iya, Lita. Apapunyang terjadi aku akan tetap berada di sampingmu.”
Akhirnya Ais bisa bernapas dengan lega ketika dia bisa berterus terang kepada Jelita, jika sebenarnya dia telah menikah. Dengan begitu cerita tidak akan memperkenalkan dirinya dengan kakaknya.
Ais tersenyum tipis. “Iya, dia adalah mas Hanaf, suamiku. Aku bukan jahat, Lita. Aku hanya belum siap jika semua orang tahu jika aku telah menikah diusia muda. Pasti akan banyak gosip yang beredar tentangku.”
“Lalu jika tiba-tiba nanti kamu hamil, bagaimana? Apakah kamu juga akan kehamilanmu?”
“Mungkin saja. Jika kelak aku hamil aku akan mengambil cuti, jadi tidak ada orang yang selalu jika aku sedang hamil,” ujar Ais.
“Aku akui kamu pintar, Ais. Aku senang berteman denganmu,” balas Jelita.
Tak terasa langkah mereka berdua telah sampai di keluar kampus dan sedang menunggu sebuah taksi yang harus dijadikan oleh Jelita. Sesuai dengan janjinya, mereka berdua akan mengerjakan tugas di rumah Jelita. Namun, keduanya harus dikejutkan dengan sebuah mobil yang tiba-tiba berhenti tepat di samping mereka. Ais yang sudah tahu siapa pemilik mobil tersebut hanya bisa membuang napas panjang. Siapa lagi jika bukan Hanafi, suaminya.
“Ayo naik! Tunggu apalagi? Ini panas Ais!” teriak Hanafi yang setelah menurunkan kaca mobilnya.
“Ais ... siapa dia? Apakah dia kakakmu?” tanya Jelita ingin tahu.
__ADS_1
“Bukan Lita! Itu bukan kakakku tetapi itu adalah Mas Hanafi, suamiku.”
Jelita langsung menutup mulutnya. Dia sangat terkejut dengan pengakuan Ais. Bahan untuk menelan salivanya saja terasa sangat sulit. “Benarkah?”
Kepala Ais mengangguk dengan pelan. “Kya, Lita. Dia suamiku.”
Karena Ais tak kunjung masuk ke dalam mobil, Hanafi pun memilih turun untuk memastikan apa yang sedang terjadi kepada istrinya mengapa tak kunjung untuk naik.
“Ais, apakah ada masalah?” tanya Hanafi ketika menghampiri Ais.
Ais langsung menggelengkan kepalanya dengan pelan. “Enggak ada, Mas. Mas Hanaf kok jemput sih? Kan tadi aku udah kirim pesan sama Mas Hanaf kalau aku ingin mengerjakan tugas di rumah teman aku.”
“Apakah salah jika aku menjemputmu? Ayo masuk, biar aku yang mengantarmu ke rumah teman kamu. Kenapa nggak ngerjain tugas di rumah kita aja? Eh, maksud aku di rumah ibu?”
“Ya karena tadi pagi Ais udah setuju untuk mengerjakan tugas di rumah Lita, Mas. Mas Hanaf enggak keberatan kan?”
“Em ... Ais kalau kamu enggak dikasih izin sama suami kamu enggak papa kok. Kita batalkan aja rencana kita tadi,” sela Jelita.
“Kapan aku mengatakan tidak memberikan izin?” timpal Hanafi. “Aku hanya bertanya mengapa tidak mengerjakan di rumah ibu saja, itu bukan berarti aku tidak memberi izin pada Ais. Justru kedatanganku ke sini Untuk mengantarkan Ais untuk mengerjakan tugas kampusnya.”
Jelita pun memilih menunduk seraya meminta maaf pada suaminya Ais karena tengah menganggap jika Ais tidak diberikan izin untuk mengerjakan tugas di rumahnya.
“Iya, maaf Mas. Tadi aku Ais tidak diberi izin. Maaf aku udah salah paham.”
“Udah enggak usah minta maaf seperti itu, Lita. Ya udah ayo berangkat!” ajak Ais.
“Tapi aku kan udah pesan taksi,” protes Jelita.
“Cancel aja, tapi kasih tip untuk drivernya ya. Kasihan dia.”
Jelita pun mengangguk dengan pelan. Pandangan pertamanya pada suami Ais membuat dadanya berdebar dengan sangat kencang. Namun, dia masih waras dan tetap akan mempertahankan cintanya pada dosen Adam yang menggetarkan hatinya lebih dahulu. Ya, apa yang dikatakan oleh Ais memang benar adanya. Pantas saja Ais memilih untuk menyembunyikan suaminya, karena ternyata suaminya sangat tampan.
__ADS_1
...###...