Aisyah Bukan Istri Mandul

Aisyah Bukan Istri Mandul
BAB 22


__ADS_3

Hari pun berlalu begitu saja. Hampir setiap hari Ais dan juga Azam bertemu di kampusnya, namun keduanya bersikap biasa saja, seolah tak saling mengenal. Jika bisa meminta, Ais ingin menjauh pergi dari Azam. Tetapi tidak diizinkan oleh Adam. Jika Ais pindah ke Universitas lainnya, maka Adam tidak bisa memantau Ais di tempat baru.


"Kamu abaikan saja dia. Aku yakin dia akan lelah sendiri karena kamu tak meresponnya," saran Adam saat Ais berkeluh kesah padanya.


"Iya Mas, aku tau itu. Tapi bagaimana aku bisa mengabaikannya sementara dia adalah salah satu dosen yang mengajar di jurusanku? Hampir setiap minggunya aku harus bertatap muka dengannya. Apa aku pindah kampus aja ya?"


"Kalau kamu pindah, Mas gak bisa memantau kamu. Terus gimana belut sawah itu ternyata pindah ke universitas tempat kamu juga? Mas tuh ngerasa kalau belut sawah itu pindah kesini karena satu tujuan, yaitu mau ngajak kamu baikan. Kalau udah baik, lama-lama tuh belut sawah ngajak kamu balikan. Emangnya kamu mau balikan sama belut sawah itu? Apakah kamu tidak memikirkan bagaimana perasaannya bapak dan ibu di rumah? Ais, tolong, Mas tau semua ini berat, tapi kamu harus tegas. Carilah pasangan yang bisa mempertahankan kamu."


Ais mengangguk dengan pelan. Dia sangat bersyukur memiliki kakak yang selalu menjadi pelindungnya. Satu-satu orang yang menjadi garda terdepan untuknya, bahkan dia tetap berada disisinya dalam suka dan duka.


****

__ADS_1


Berada dalam satu lingkungan membuat Iza dan Ais sering bertemu. Terlebih saat kedua sholat isya di masjid. Ais memang sudah terbiasa sholat di masjid karena selalu ikut Hanafi mengajar ngaji anak-anak di masjid. Jadi untuk saat ini untuk kegiatan sholat Maghrib dan Isya-nya ada di masjid.


Namun, untuk akhir-akhir ini Ais tidak datang untuk menemani Hanafi, karena di masjid dia akan selalu bertemu dengan Iza. Dan itu membuat hatinya semakin berdenyut lebih kencang.


"Mas perhatikan beberapa hari ini kamu gak ikut Hanafi ke masjid. Ada apa? Apakah kamu sedang bertengkar dengannya?" tanya Adam ketika melihat Ais memilih santai didepan televisi.


"Ais lagi dapet, Mas. Masa iya mau ngajar ngaji." Ais mencoba untuk berbohong.


"Dapet? Bukannya satu Minggu yang yang lalu kamu baru selesai?"


"Kamu lagi ada masalah? Apa semua ini karena istri baru belut sawah itu?" tebak Adam.

__ADS_1


"Bukan, Mas! Ini gak ada hubungannya sama Iza. Ais hanya sedang capek aja. Banyak tugas dari kampus. Toh Ais di rumah juga sholat kok."


"Bukan masalah sholat gak sholat, Ais? Tapi kalau kamu ada masalah itu ngomong, biar Mas tau dan bisa mencari jalan keluarnya. Kalau kamu memendam seperti ini hanya akan menyiksa diri kamu sendiri. Ayo cerita, ada apa?" tekan Adam.


Ais pun langsung menunduk. Memang apa yang dikatakan oleh kakaknya itu ada benarnya. Ais, sengaja tidak ikut Hanafi ke masjid karena memang Iza dan Azam. Rumah sewa keduanya yang lebih dekat dengan masjid membuat keduanya sholat di masjid.


"Mas Adam gak akan pernah bisa ngerasain gimana rasanya ketemu mantan dan istrinya mantan setiap hari. Hati ini sakit, Mas. Lagian ngapain sih mereka tuh sholat di masjid? Dulu mas Azam tuh enggak pernah sholat di masjid selain sholat subuh. Kita lebih sering sholat berjamaah di rumah."


"Ya itu urusan mereka Ais, mau sholat dimana aja. Sholat di masjid juga lebih bagus karena masjid enggak kosong. Kamu tau sendiri kan kalau kompleks kita ini tempat rantau yang jarang akan mengisi barisan shaf di masjid," terang Adam.


"Tapi dengan melihat wajah mereka berdua membuat mataku panas, Mas. Ah, udahlah aku mau tidur aja!" Entah mengapa Ais mendadak merasa kesal saat membahas mantan suaminya dengan istri barunya.

__ADS_1


"Ais, kamu harus bisa move on, Ais! Kalau kamu tetap nggak bisa move on dari belut sawah itu, mending kita pulang aja!" seru Adam.


...***...


__ADS_2