Aisyah Bukan Istri Mandul

Aisyah Bukan Istri Mandul
BAB 97


__ADS_3

...Empat bulan berlalu .......



Perut yang semula datar kini telah membuncit, karena janin yang bersemayam di dalam rahim berkembang dengan baik. Bahkan sering kali menendang-nendang perut ibunya, membuat sang ibu tak hentinya untuk mengucap kata syukur kepada Allah, karena telah diberikan amanah untuk begitu cepat.


Kehamilan Ais yang sudah membesar tak bisa disembunyikan lagi, hingga pernah membuat beberapa sempat mencibir Ais dan mengatakan jika Ais hamil tanpa suami. Namun, dengan cepat Ais menepis kabar yang hampir menyebar ke seluruh penjuru kampus dengan memberikan bukti bahwa dia memang telah menikah.


Akan tetapi yang namanya manusia hatinya tidaklah sama. Untuk mereka yang mempunyai hati bersih, tidak akan mempersalahkan jika Ais hamil, toh dia telah menikah. Jadi sah-sah saja jika Ais hamil. Namun, bagi mereka yang mempunyai hati kotor tidak akan menyukainya, sekalipun bukti nyata ada di depan mata. Mereka akan selalu mencari celah untuk terus menjatuhkan agar semakin banyak golongan yang membencinya.


Hari ini adalah jadwal cek up Ais. Namun, karena suaminya masih sibuk dengan pekerjaannya, Ais hanya ditemani oleh Jelita. Dia tidak pernah mempermasalahkan jika sang suami tidak bisa menemaninya untuk cek up, karena Ais tahu suaminya harus menjadi guru yang profesional.


“Ais ... tiga bulan lagi baby kamu akan lahir. Apakah kamu sudah menyiapkan sebuah nama untuk calon bany kamu?” tanya Jelita ingin tahu.


Ais yang berjalan santai sama sekali belum mempersiapkan sebuah nama untuk calon baby, karena Ais belum mengetahui calon baby-nya laki-laki atau perempuan.


“Belum ada, Lit. Aku masih nunggu hasil USG dulu baru akan merangkai namanya.”


“Emangnya kamu belum mengetahui jenis kelaminnya? Kan udah 6 bulan, biasa udah kelihatan lho jenis kelaminnya,” kata Jelita penasaran.


“Sebenarnya aku ingin sekali mengetahui jenis kelaminnya Lit, tapi tidak diizinkan sama Mas Hanaf. Katanya untuk kejutan kita semua,” jelas Ais dengan lesu, karena dia tidak bisa menyiapkan perlengkapan untuk calon bayinya.


Lita mengangguk dengan pelan. Namun, seketika dia memberikan sebuah ide pada Ais. Berhubung check up kali ini tidak sedang ditemani oleh Hanafi, tidak ada salahnya jika Ais melihat jenis kelamin calon baby agar bisa mempersiapkan nama dan beberapa keperluan bayi. Ais yang mendengar merasa sedikit ragu karena sama saja Ais ingkar, tidak bisa menjaga amanah yang diberikan oleh suaminya.


“Tapi aku takut kalau Mas Hanaf sampai tahu, Lit!”


“Asalkan kamu enggak kasih tahu Pak Hanafi, beliau tidak akan tahu, Ais. Mumpung hari ini kamu sedang check up, itu artinya kamu bisa leluasa untuk berkonsultasi dengan dokter. Kalau kamu takut ketahuan sama pak Hanafi, ya udah hasil usg-nya nggak usah dicetak. Kamu tinggal lihat dari monitor aja. Beres kan?” saran Jelita.


Ternyata ide Jelita sangatlah bagus sehingga tanpa pikir panjang Ais langsung menyetujuinya. Memang tidak ada salahnya jika Ais melihat jenis kelamin calon baby-nya, toh dia adalah ibunya. Dia berhak untuk tahu apa jenis kelamin anaknya.


“Oke, aku setuju. Tapi kamu jangan bilang sama Mas Hanaf, ya! Aku enggak mau gara-gara ini mas Hanaf ngambek tujuh hari tujuh malam!” ujar Ais.


“Sip! Aku tahu apa yang harus aku lakukan. Kamu tenang saja aku akan selalu berada di pihakmu selagi kamu masih berada di jalan yang benar.”


Dan sesampainya di rumah sakit Jelita langsung menemani Ais untuk masuk ke poli obgyn. Ais sengaja mencari dokter obgyn wanita untuk memeriksanya, karena Ais tidak mau auratnya akan dilihat oleh pria lain selain suaminya.

__ADS_1


“Tekanan darah normal. Bayinya pun juga terlihat aktif menendang. Iya kan?” tebak dokter Wati.


Ais mengangguk dengan pelan, karena apa yang dikatakan oleh dokter Wati memang benar adanya. Calon baby memang hobi menendang di dalam perut sana. “Iya, Dok. Kalau udah nendang kadang bergantian dari sebelah kana lalu ke sebelah kiri. Mungkin di dalam sana sedang main bola,” canda Ais, diiringi dengan tawa kecilnya.


Dokter Wati pun juga ikut menertawakan ucapan Ais. “Ya, mungkin saja mereka berdua sedang memperebutkan bola,” celetuknya.


Seketika bola mata air langsung mendelik saat mendengar kata mereka berdua yang keluar dari bibir dokter Wati. “Dok, maksud dokter mereka berdua bagaimana ya? Apakah di dalam perut ini isinya double?” tanya Ais dengan kening yang mengernyit.


Dan lagi-lagi dokter Wati malah menertawakan pertanyaan Ais. “Iya. Apakah kamu tidak mengetahui jika bayi kamu itu adalah twins? Apakah sebelumnya aku belum memberitahu tentang bayimu? Apakah jangan-jangan kamu juga belum mengetahui jenis kelamin mereka berdua?” tebak dokter Wati kepada Ais yang masih belum percaya jika bayinya twins.


Kepala Ais langsung menggeleng dengan cepat. “Iya, Dok. Aku memang belum pernah mengetahui jenis kelamin baby ini, karena tidak mendapatkan izin dari suami. Ngomong-ngomong kalau boleh tahu jenis kelamin baby ini apa ya, Dok? cewek atau cowok?” tanya Ais penasaran. ( Hayo, tebak anak Ais cewek atau cowok? )


***


Sekeras apapun sabyan menolak perjodohan yang telah ditetapkan oleh ayah dan neneknya dia tetap tidak bisa memberontak. Bahkan sang nenek menyarankan setelah lulus dari bangku SMA, lebih baik Sabian langsung menikahi Aluna dan bisa segera tinggal di pesantren untuk. Selain memperdalam ilmu agamanya, Sabian juga bisa membantu Abahnya Aluna untuk mengurus pondok pesantren miliknya.


“Bi .... kamu baik-baik aja?” tuanya sang nenek saat melihat Bian memasang wajah suntuknya.


“Bian baik-baik aja, Nek!” jawab Bian dengan malas.


“Tapi jodoh dan cinta itu enggak dipaksa, Nek! Sabian enggak cinta sama Luna! Sabian punya pilihan sendiri! Tolong jangan paksa Bian, Nek!”


“Terserah kamu aja gimana Bi! Tapi yang jelas kamu akan tetap menikah dengan Aluna! Ngerti kamu!”


Bian tidak bisa berkata apa-apa lagi karena dia tidak bisa melawan akan keputusan ayahnya dan juga neneknya.


“Tapi Nek?”


“Udah, enggak usah banyak protes! Cukup diam dan menikmati alurnya. Udah banyak protes. Semua juga untuk kebaikan kamu, kok! Udah nenek mau ikut pengajian ibu-ibu kompleks.” Nenek Bian pun langsung meninggal Bian yang baru saja pulang sekolah.


Karena hatinya sedang kesal, Bian memutuskan untuk menelpon Ibu Iza. Kini hubungan Bian dan Iza juga sudah lebih baik. Di sekolahan Bian tidak lagi mengerjainya ataupun teman-teman lainnya. Perubahan baik pun juga telah Bian tunjukkan, sehingga semakin hari ayah Bian semakin bangga dengan Bian.


“Bu ... aku ingin bertemu dengan ibu!” kata Bian saat panggilannya di angkat oleh Iza.


Dibalik telepon, Iza masih terdiam karena saat ini sedang bersama dengan seorang.

__ADS_1


“Halo ... Ibu denger gak sih!” ulang Bian.


[ Ah iya ... Ibu denger, tapi saat ini ibu sedang ada kegiatan di luar, Bi! Bagaimana kalau besok aja. Atau nanti setelah urusan ibu selesai, ibu akan ke rumah kamu. ]


“Tapi aku maunya sekarang, Bu! Nanti keburu basi!”


[ Tapi untuk sekarang, ibu enggak bisa, Bi ]


“Ah, sudahlah. Ibu sama saja seperti manusia lainnya yang tidak peduli denganku.” kata Bian yang kemudian memilih untuk mengakhiri panggilan telepon dengan perasaan kesal. Saat sedang dibutuhkan, kini tak ada satupun orang yang bisa mengertikan dirinya.


“Argh ... kenapa semua manusia itu sama semua, sih?” Bian langsung membanting tasnya ke lantai dak langsung menjatuhkan kasar tubuhnya diatas sebuah sofa.


Di tempat lain, Iza hanya bisa membuang napas kasarnya saat panggilan telah terputus. Dan pada saat nomer Bian mencoba untuk di hubungi lagi ternyata sudah tidak aktif lagi.


“Astaghfirullahaladzim,” keluh Iza sambil meletakkan kembali ponselnya diatas meja.


“Kenapa lagi?” tanya Raka yang saat ini sedang makan siang bersama dengan Iza.


Hubungan Iza dan juga Raka pun sedikit ada kemajuan, karena Raka yang tak jera untuk terus mengejar Iza, terlebih saat ini Iza sudah bersih. Bukan istri orang maupun sudah tidak berada dalam masa idahnya.


“Bian minta ketemuan. Katanya dia lagi sedih deh, Pak. Ada apa? Apakah sedang ada masalah di rumah?” tanya Iza.


Raka menggeleng dengan pelan. “Enggak ada! Semua baik-baik aja, kok. Mungkin lagi berantem sama temennya di sekolah. Kalau enggak juga, mungkin dia ingin curhat sama kamu. Ya udah ayo kita pulang!”


“Tapi kita masih makan, Pak!”


“Nanti di rumah kita sambung lagi!”


Bagi Raka, Bian tetap menjadi prioritas utama untuknya. Jikapun sedang memberikan ancaman penarikan fasilitas itu hanya sebuah alat saja, karena Raka tidak akan mungkin menyita fasilitas yang telah dia berikan untuk Bian.


Dan pada akhirnya, Iza pun segera mengejar langkah Raka yang kini telah hampir sampai di tempat parkiran. Iza benar-benar terkagum dengan Raka yang tetap menomer satukan anaknya, daripada seorang wanita yang sedang menemaninya makan siang.


...####...


...Hayo udah 3 bab. Semua keinginan kalian udah othor jabahin, sekarang kemana perginya kalian, kok sepi amet. Masih mau lanjut atau enggak?...

__ADS_1


__ADS_2