
Disisi lain, Abah dan Umi telah bersepakat untuk melakukan pertemuan kembali dengan keluarga Sabian untuk membahas masalah perjodohan anak-anak mereka. Namun, kali ini yang akan dibahas bukanlah tentang Sabian dengan Aluna, melainkan Sabian dengan Zura, karena Abah dan Umi telah memutuskan jika Zura akan menggantikan Aluna sebagai calon istrinya Sabian.
“Assalamualaikum.” Suara salam telah terdengar. Aluna yang mendengar segera bergegas untuk membuka pintu.
“Waalaikumsalam.” Senyum lebar mengembang luas, kemudian Aluna pun menyalami ayah dan nenek Sabian yang benar-benar datang malam ini. “Om, Nenek. Mari silakan masuk.”
“Ah iya, terima kasih.”
Tak berapa lama, Abah dan juga Umi pun langsung datang untuk menyambut tamunya dengan ramah. Sebenarnya keduanya merasa tidak enak hati saat ingin mengutarakan niatnya yang ingin menukar jodoh untuk Sabian.
“Kebetulan sekali Pak Abdullah mengundang kami, karena ada sesuatu juga yang ingin kami utarakan tentang perjodohan Sabian dengan Nak Aluna,” ujar nenek Sabian sambil menghela napas panjangnya.
“Masya Allah. Mungkinkah ini sebuah pertanda baik dari Allah. Namun, sebelum kita masuk pada pembahasan perjodohan anak-anak, ada baiknya jika Bian dan Zura turut hadir disini. Luna, panggil Bian Dan Zura ya!” titah Umi pada Aluna.
Aluna mengangguk dengan pelan. “Baik, Umi.”
Karena sudah malam, Aluna tidak berani untuk langsung mendatangi kamar Sabian. Terpaksa Aluna pun meminta bantuan kepada Yusuf untuk memanggilkan Sabian, karena sudah ditunggu oleh keluarganya di rumah utama.
__ADS_1
Lima menit Aluna berdiri di depan asrama laki-laki untuk menunggu kedatangan Yusuf dan Sabian. Dadanya bergerumuh tidak menentu karena takut jika keluarga Sabian kecewa dan tidak setuju jika perjodohannya itu akan digantikan oleh Zura, adik Aluna.
“Lho, Sabian mana, Mas?” tanya Aluna yang celingukan karena tidak melihat sosok Sabian bersama dengan Yusuf.
“Emm ... itu Ning. Sabian .... Sabian enggak ada di kamarnya. Anak-anak yang lain juga telah mencari kesetiap sudut, tetapi tak menemukan Sabian,” jelas Yusuf dengan gugup.
Bola mata Aluna membulat dengan lebar. Dia benar-benar sangat terkejut dengan penjelasan yang baru saja disampaikan oleh Yusuf. “Astaghfirullahaladzim, Sabian kemana, Mas? Apakah dia kabur?”
Karena sebagian barang milik Sabian tidak ada ditempatnya, Aluna yakin jika anak itu memang telah kabur. Dadanya kian bergerumuh dengan sangat kuat, terlebih saat ini Sabian telah di tunggu oleh keluarganya.
“Lho ... Bian mana?” tanya Abah saat tak melihat kedatangan Sabian dibelakang Aluna.
“Bian ... Bian enggak ada di asrama, Abah,” ucap Aluna dengan pelan.
Abah langsung mengernyit. “Kemana dia?”
Kepala Aluna menggeleng dengan pelan. “Enggak tahu, Bah. Mas Yusuf dan juga anak-anak telah mencarinya, namun mereka tetap tidak menemukan Bian,” jelas Aluna dengan gugup.
“Maksudnya Bian kabur?” tebak ayah Sabian.
__ADS_1
Aluna kembali tertunduk, dia tidak bisa menjawab akan pertanyaan dari ayahnya Sabian.
“Astaga anak itu!” lanjut ayah Sabian sambil membuang napas kasarnya, karena merasa yakin jika anaknya memang kabur.
“Kabur?” ucap Abah dan Umi secara bersamaan. Keduanya benar-benar sangat tersakiti dengan tebakan ayah Sabian.
“Tidak mungkin kabur, mungkin Bian hanya sedang keluar sebentar. Saya akan mencarinya.” Abah langsung berdiri untuk mencari Sabian di laur, barangkali anak itu memang sedang untuk mencari angin. Namun, niat Abah segera ditahan oleh ayah Sabian yang memang yakin jika anaknya memang telah membuat ulah lagi.
“Abah, tidak perlu! Saya sangat yakin jika Bian memang kabur, kalau begitu kami permisi dulu. Saya yakin anak itu belum menjauh.
Abah merasa tidak enak hati pada ayah Sabian dan menganggap telah lalai untuk menjaga Sabian yang telah diamanahkan padanya.
“Pak Raka, saya benar-benar minta maaf.”
“Abah tak perlu merasa bersalah karena anak itu memang begitu.”
Abah mengangguk pelan. “Kalau begitu saya apa tutup untuk mencari Sabian.”
...###...
__ADS_1