
Sebenarnya ada yang ingin Iza katakan kepada Sabian, tapi saat Sabian membahas masalah ciuman pertama, tiba-tiba saja dirinya merasa sangat gugup. Tiga hari yang lalu saat Iza ingin menjenguk Sabian di tahanan, tiba-tiba saja Raka, ayah Sabian mengungkapkan isi hatinya dan langsung mengajak Iza untuk menikah. Namun, karena Iza masih trauma akan pernikahan, dia belum sempat memberikan jawaban atas ajakan Raka untuk menikah.
Dan tadi malam tiba-tiba saja nenek dan ayah Sabian datang ke apartemen untuk membujuknya agar mau menerima pinangan Raka untuk menjadi istri sekaligus ibu untuk Sabian. Karena sejauh ini nenek Sabian merasa jika cucunya telah merasa nyaman dengan kehadiran Iza. Bahkan hanya kata-kata Iza yang mampu melunakkan kerasnya hati Sabian. Bahkan sang nenek sempat bersujud agar Iza mau menerima Raka malam itu juga.
Namun, karena mood Iza tengah campur aduk, dia mengurungkan niatnya untuk memberitahu Sabian jika dalam waktu dekat dia akan menikah dengan ayahnya.
“Kenapa juga Bian harus membahas masalah ciuman, sih? Memangnya dia pikir hanya dia saja yang kehilangan ciuman pertamanya? Aku pun juga seperti itu! Argh ... kenapa aku malah mengingat masalah ciuman itu sih! Iza sadar ... Sabian adalah calon anak kamu! Sebentar lagi kamu akan menjadi ibu sambung untuknya! Tolong lupakan apa yang telah terjadi antara kamu dan Bian!” Iza mencoba menepis pikiran yang tiba-tiba mengingat kembali tentang ciuman yang pernah Bian lakukan padanya.
“Iza ... kamu kenapa?” tanya Hanafi yang tak sengaja melewati mejanya.
Iza pun hanya menghela napas panjang. Sebenarnya dia belum siap untuk berumah tangga lagi karena kegagalan yang dialaminya. Namun, karena nenek Sabian sangat memohon padanya, Iza merasa tidak enak hati, terlebih keluarga Sabian sudah baik padanya selama ini.
“Apakah ada masalah?” tanya Hanafi lagi.
Kepala Iza mengangguk dengan pelan. Ingin rasanya dia mencurahkan isi hatinya pada Hanafi, akan tetapi dia sudah berjanji akan membatasi diri dengan pria itu karena tak ingin ada kesalahanpahaman pada Ais yang saat ini sedang hamil.
Hanafi langsung berjalan pelan ke mejanya dengan kening yang telah mengernyit. “Masalah apa itu? Apakah kamu berurusan lagi dengan Sabian?” tebak Hanafi dengan rasa penasarannya.
Lagi-lagi kepala Iza mengangguk dengan pelan. “Iya. Dan ini terlalu rumit, Han! Aku sendiri tidak tahu apakah keputusan yang telah aku ambil ini benar atau tidak.”
“Coba cerita, siapa tahu aku bisa mencari jalan keluarnya!”
“Tidak bisa, Han! Bukan aku tidak mau berbagi cerita denganmu tetapi aku hanya takut yang akan terjadi kesalahpahaman lagi antara Aku Dengan Asi. Aku tidak ingin membuat air berpikir macam-macam tentang kedekatan kita. Saat ini Ais sedang hamil muda dan moodnya masih naik turun. Jangan sampai Ais berpikir macam-macam yang pada akhirnya akan mempengaruhi kehamilannya.”
__ADS_1
Hanafi pun langsung menganggukkan kepalanya dan membenarkan apa yang dikatakan oleh Iza. Saat ini mood Ais sedang naik turun tidak menentu dan mudah selalu berpikir yang tidak-tidak dengan kedekatan Iza pada suaminya.
“Iya, kamu emang bener. Mood Ais memang sedang turun tidak menentu, sekalipun aku telah memberikan penjelasan tetap saja tidak bisa menerima. Iza ... maafkan Ais ya. Aku yakin ini hanya mood sesaat saja, karena selama aku mengenal Ais, dia tidak seperti itu.”
Ya, Iza sadar mengapa Ais tidak terima akan kedekatan Iza dengan suaminya. Mungkin Ais masih menyimpan rasa trauma karena sebelumnya Iza telah mengambil Azam. Dan ... terlebih lagi ternyata Hanafi pernah menjadi bagian dari masa lalunya. Wajar saja jika Ais mempunyai pemikiran yang tidak-tidak dengan kedekatan Iza dengan suaminya.
“Iya, enggak apa-apa. Aku paham kok. Andaikan aku yang berada di posisi Ais saat ini, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama seperti Ais. Tapi percayalah aku tidak pernah mempunyai pemikiran untuk menjadi pihak ketiga dalam rumah tangga kalian. Han ... aku hanya ingin berterima kasih karena kamu telah banyak membantuku selama ini. Jika tidak ada kamu, mungkin aku sudah hilang arah.”
“Its oke! Tapi jika saat ini kamu memang sedang membutuhkan bantuan ku, katakan saja! Aku aku akan tetap membantumu!”
Dorongan hati antara ingin menerima tawaran Hanafi dan tetap pada pendiriannya. Rasanya sungguh terasa berat, karena Iza hanya terpaksa saat mengiyakan permintaan neneknya Sabian.
“Makasih Han. Nanti jika aku membutuhkanmu, aku akan menghubungimu.”
Sabian yang tidak diizinkan untuk membawa motor terpaksa harus diantar jemput menggunakan salah satu mobil miliknya yang sama sekali belum pernah dia pakai.
Sebenarnya Sabian tidak suka diantar jemput karena tidak ingin memperlihatkan siap dia sebenarnya. Sabian tidak mau jika yang berteman dengannya hanya ingin memanfaatkan dirinya saja, karena jauh sebelumnya Sabian sudah pernah merasakan dimanfaatkan oleh teman dekat. Hingga akhirnya Sabian memilih untuk menutup diri dan lebih sering membuat masalah di kelas agar tak ada yang mau mendekat padanya.
“Pak ... bisa tidak jika besok bapak tidak usah menjemputku? Aku mau berangkat sendiri aja! Aku ini udah besar, Pak! Enggak butuh supir, karena aku bisa bawa mobil sendiri,” ujar Sabian sebelum turun dari mobil.
“Wah tidak bisa Mas! Saya harus tetap mengantar jemput Mas Bian setiap hari dan menjamin atas keselamatan Mas Bian!.”
“Tapi aku enggak mau diantar jemput, Pak! apa kata teman-teman yang ada di asrama? Mereka pasti akan mengejekku, Pak! Ayolah pak ... bisa ya! Besok enggak usah antar jemput aku lagi!” Bian merengek, berharap keinginannya dikabulkan oleh Pak Supir.
__ADS_1
“Maaf, Mas! Jika bukan perintah dari pak Raka, saya tidak bisa mengiyakan. Kan yang gaji saya Pak Raka!” tegas pak sopir.
Ya, Sabian akui, kini dia telah kalah. Namun, dia tetap tidak ingin menyerah begitu saja. Masih banyak jalan menuju Roma, begitulah yang ada didalam pemikirannya. “Ya udah, terserah bapak aja!” Sabian pun langsung memilih turun dari mobil. Dan baru saja Sabian ingin membuka pintu gerbang, tiba-tiba pintu telah dibuka.
“Aku pikir tamu, ternyata anak papi.”
Sabian langsung mendongak saat mendengar kata sambutan untuknya. Dan saat dilihat, ternyata itu adalah Zura.
“Gak lucu!” sewot Bian yang mencoba untuk mengabaikan Zura. Namun, Zura tidak menyerah, dia tetap mengikuti langkah Sabian untuk menuju ke asmara pria.
“Sebenarnya apa sih mau kamu? Kayaknya diantara kita enggak ada masalah deh! Atau jangan-jangan kamu sedang ingin menggodaku? Istighfar woy!” ucap Sabian yang merasa tidak terima saat terus diikuti oleh Zura.
Dengan cepat Zura menyangkalnya, “Sembarangan! Aku tuh cuma mau nagih janji kamu yang mau balikin duit aku! Aku rugi banyak ya udah bayarin makananmu dan bayarin pakaianmu kemarin! Katanya kamu mau ganti! Sekarang aku butuh duitnya!”
Sabian langsung mengernyitkan dahinya. “Enak aja! Siapa yang ngomong seperti itu? Aku gak ada ngomong seperti itu ya! Jangan fitnah, dosa!"
“Aku enggak fitnah, kamu beneran ada ngomong mau ganti duit aku kok!” Zura masih ngotot.
“Aku enggak ada ngomong kayak gitu. Kalaupun ada, itu saat aku ingin pinjam duit kamu! Tapi kan enggak jadi! Dasar cantik-cantik tapi pikun! Udah ah, aku mau masuk! Apakah kamu masih mau ngintilin aku ke kamarku?” Sabian pun melanjutkan lagi langkahnya yang sempat terhenti.
Namun, tidak dengan Zura yang memilih mematung di tempat seraya mengingat apakah yang diucapkan Sabian itu benar atau tidak, karena seingat Zura, Bian sendiri yang mengatakan akan mengembalikan uang yang telah dipakainya.
“Apakah yang diucapkan Sabian itu benar atau aku benar-benar telah pikun?” gumam Zura yang masih mencoba mengingat kembali kejadian kemarin saat menemukan Sabian di jalanan.
__ADS_1
...###...