
Kedua orang tua Ais pun telah sampai di rumah Hanafi. Meskipun terlambat untuk menyaksikan ijab yang dilakukan Hanafi pada Ais, tetapi mereka berdua tetap datang.
Tangis haru pecah saat Ais telah bertemu dengan kedua orang tuanya. Padahal sebelumnya Ais telah berjanji belum akan menikah kembali sebelum dirinya lulus. Namun, kenyataannya dia harus ingkar. Hanya sebuah kesalahpahaman, tiba-tiba Ais dan Hanafi dipaksa untuk menikah detik itu juga.
"Bapak, Ibu ... maafkan Ais yang tidak bisa menepati janji," ucap Ais dengan air mata yang telah membanjiri pipinya.
"Kenapa kamu harus meminta maaf, Ais? Bapak dan ibu tidak akan marah, kalaupun kamu menikah lagi. Menikah itu salah satu ibadah, Ais. Kamu sudah dewasa dan kamu juga berhak untuk mendapatkan pendamping, hidup, Nak. Maaf bapak dan ibu telat, tidak bisa menyaksikan proses ijab kalian," kata Pak Ali, bapaknya Ais.
"Saya benar-benar meminta maaf karena harus menikahi Ais tanpa menunggu kedatangan bapak dan ibu. Semua itu di luar keinginan kami karena desakan dari para warga," sela Hanafi.
Pak Ali yang tak lain adalah bapaknya Ais, hanya mengulum senyum di bibirnya. Meskipun pernikahan anaknya karena desakan dari warga, tetapi pak Ali berharap jika Hanafi adalah sosok yang telah di tentukan oleh Allah untuk menjaga putrinya. Terlebih pak Ali bisa melihat aura yang bersinar dari wajah Hanafi.
"Kamu tak perlu meminta maaf kepada bapak dan ibu. Mungkin semua ini adalah rencana Allah untuk menyatukan kalian berdua. Lebih baik menikah daripada terjerumus dengan perbuatan yang tidak baik. Iya kan, Bu?" Pak Ali meminta pendapat pada istrinya.
__ADS_1
"Iya, betul. Ibu berharap kalian menjadi keluarga yang sakinah until jannah. Ais, mulai saat ini kamu harus membuka pintu hatimu pada Hanafi. Ibu yakin jika Hanafi bisa menjadi imam yang baik untuk kamu," nasehat ibu.
Orang tua mana yang tidak bahagia jika anaknya jatuh pada orang yang bertanggung jawab dan pihak keluarga menerima dengan lapang status Ais yang seorang janda. Bahkan ibu Hanafi juga mengatakan tak akan memaksakan untuk segera memiliki cucu, karena saat ini Ais harus fokus pada kuliahnya terlebih dulu. Betapa bahagianya orang tua Ais bisa memiliki besan yang bisa menerima anaknya dengan lapang.
Karena pernikahan hanya sekedar ijab sah di kantor agama, keluarga Hanafi berniat untuk mengadakan resepsi pernikahan anaknya. Akan tetapi mereka juga harus meminta persetujuan dari orang tua Ais akan dilangsungkan dimana.
Sebenarnya orang tua Ais tak mempersalahkan dengan acara resepsi, karena bagi mereka yang paling penting adalah keduanya sudah sah di mata agama dan negara.
***
"Sampai kapan kamu mau berdiri disitu?" tanya Hanafi saat melihat Ais masih berdiri di depan pintu.
"Ah, iya Mas." Ais pun segera mendekat ke tempat tidur. Rasanya berat, tetapi tak ada pilihan lain. Tidak mungkin dia meminta untuk tidur di kamar lain, sementara mereka berdua telah sah menjadi pasangan suami-istri.
__ADS_1
"Gak usah gugup, aku enggak akan makan kamu kok. Udah tidur sini! Aku tahu apa yang sedang kamu pikirkan!"
Ais pun akhirnya merangkak pelan untuk merebahkan tubuhnya diatas kasur untuk mengistirahatkan rasa lelahnya. Dengan cepat dia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya hingga sebatas leher.
Hanafi yang melihat Ais hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dia sadar dan memaklumi sikap Ais, karena mungkin ini masih terasa asing meskipun Ais sempat mengatakan jika dia telah ikhsan dan ridho menjadi istrinya.
"Ais, jika kamu mau tidur, jangan dimatikan lampunya, ya!" pesan Hanafi saat menarik selimutnya juga.
"Iya, Mas."
Malam pertama yang terlalu begitu saja karena tidak ada yang harus dikerjakan oleh mereka berdua, mengingat pernikahan keduanya berlangsung dengan tiba-tiba. Butuh waktu terlebih dahulu untuk membiasakan diri untuk saling mengenal dan memahami.
Berbeda dengan Hanafi yang sudah berada didalam mimpi, Ais sama sekali belum bisa memejamkan matanya karena cahaya terang yang menyilaukan. Ais sudah terbiasa tidur dalam keadaan lampu mati, sehingga sulit untuk saat harus tidur dalam keadaan terang.
__ADS_1
...****...