Aisyah Bukan Istri Mandul

Aisyah Bukan Istri Mandul
BAB 64


__ADS_3

Sudah pukul tiga sore, tetapi Hanafi belum juga pulang, membuat Ais tiba-tiba mengkhawatirkan keadaan sang suami. Terlebih sudah puluhan kali Ais menelpon dan mengirim pesan, tetapi sama sekali tak ada jawaban dari Hanafi.


“Mas Hanaf kemana, ya? Tumben belum pulang? Apakah dia sedang cari bebek panggang, ya?”


Ais mondar-mandir di depan pintu untuk menunggu kedatangan sang suami yang belum pulang. Entah mengapa Ais terus merasa gelisah, padahal biasanya dia akan biasa saja, meskipun Hanafi pulang lama.


Cukup lama Ais menunggu Hanafi di t mueras sambil men-scroll layar ponselnya untuk melihat-lihat berita yang melintas di berandanya. Namun, tiba-tiba saja mata tertuju pada sebuah postingan tentang es buah yang membuatnya harus menelan ludahnya.


“Kayaknya enak, nih,” gumam Ais. “Tapi sayangnya ada di Jogja.” Ais pun hanya menghela napas panjangnya.


Tak berapa lama sebuah mobil masuk ke dalam halaman. Sosok Hanafi pun keluar dari dalam mobil dan berlari untuk menghampiri sang istri yang telah menunggu dirinya.


“Assalamualaikum.”


Ais langsung berdiri untuk menyalami tangan Hanafi. “Walaikumsalam. Mas Hanaf darimana, kok baru pulang, sih?” tanya Ais langsung.


“Cari pesanan kamu, Ais. Aku nyari kemana-mana enggak dapat dan akhirnya aku minta tolong sama ibu untuk buatin. Coba deh, rasanya enggak kalah dari yang di jual-jual itu, kok.”


Ais langsung mengikuti langkah Hanafi untuk masuk ke dalam rumah. Sebenarnya dia sudah tidak selera lagi untuk menyantap bebek goreng, karena pikirannya sudah dipenuhi oleh es buah yang segar. Namun, karena aroma bebek panggang yang membuatnya meneguk ludah, Ais pun tergoda untuk mencicipinya.


“Ais, kamu udah sholat?”

__ADS_1


Ais yang sedang mengeluarkan bebek panggang dari Tupperware langsung mengangguk dengan pelan. “Udah, Mas.”


“Ya udah, aku sholat dulu ya. Kamu makan dulu aja. Itu ibu masakin spesial untuk kamu.”


Lagi-lagi Ais hanya menganggukkan kepalanya. Aroma bebek panggang begitu menggoda hingga Ais tak mampu menahan diri untuk tidak mencicipinya.


Berawal hanya ingin mencicipi lama-lama Ais menikmati, hingga tanpa sadar Ais telah menghabiskan lebih dari separuh.


“Enak juga ya. Masakan ibu emang enak. Pantas aja mas Hanaf langsung lari ke rumah ibu,” gumam Ais.


Hampir lima belas menit Ais menunggu kedatangan suaminya, tetapi tak juga turun membuat Ais memilih untuk makan lebih dahulu. Sudah hampir dua hari perutnya selalu menolak setiap nasi yang masuk dan saat perutnya tidak lagi menolak, Ais segera mengisinya, karena saat ini ada nyawa yang sedang hidup di rahimnya.


“Mas Hanaf, Ais makan duluan ya!” teriak Ais yang sudah tidak sabar.


Namun, setibanya di meja makan Hanafi hanya bisa menautkan kedua alisnya saat tak ada sepotong pun bebek panggang yang tersisa. Kepalanya menggeleng pelan ketika melihat sang istri bersendawa karena kekenyangan.


“Masya Allah, Ais. Kamu hebat sekali bisa menghabiskan satu ekor bebek. Subhanallah ... apakah ini efek dari dua hari enggak makan?” Hanafi merasa terkagum karena Ais bisa menghabiskan satu ekor bebek panggang seorang diri.


“Mas ... maaf ya, bebek panggangnya aku habiskan. Soalnya aku lapar banget. Udah hampir dua hari enggak makan nasi. Alhamdulillah, berkat bebek panggang perutku bisa diajak kerjasama untuk makan lagi. Kamu enggak marah kan?”


Jika sang istri merasa puas, lalu apa alasan Hanafi untuk marah? Toh jika habis dimakan oleh Ais, Hanafi merasa sangat bahagia, karena usahanya dengan sang ibu tidak sia-sia.

__ADS_1


“Makanan habis dimakan kenapa harus marah. Aku malah senang kalau kamu mau menghabiskannya. Jadi enggak sia-sia usahku untuk mencari bebek panggang.”


Ais tersenyum kecil. Dalam hati dia merasa sangat bersalah, tetapi dia sendiri tidak mengendalikan hawa napsu untuk menghabiskan makanan yang ada di depannya.


“Mas Hanaf benar-benar enggak apa-apa kan? Maaf ya, Ais terlalu serakah sampai-sampai enggak menyisakan sepotong pun untuk mas Hanaf.”


“Udah enggak apa-apa. Tadi ibu juga udah buatin ayam ungkep. Jadi kalau butuh tinggal goreng aja. Kata ibu simpel, biar kamu enggak kecapekan. Besok siang ibu akan kirim sayur untuk kita.”


Merasa sangat diperhatikan oleh ibu mertuanya membuat Ais benar-benar sangat terharu. Mungkin karena saat ini Ais sedang mengandung anak dari Hanafi sehingga sang ibu mertua tidak ingin calon cucunya sampai kenapa-kenapa. Namun, sisi lain Ais mengatakan jika ibu mertuanya adalah wanita yang baik, penyayang dan tulus. Jadi tidak mungkin jika ibu mertuanya tega untuk menyakitinya.


“Mas ... kapan-kapan minta tolong sama ibu untuk masakin sup buntut ya! Kayaknya enak tuh kalau dimakan pas siang-siang,” celetuk Ais tiba-tiba.


“Kamu makan sup buntut?”


Kepala Ais mengangguk dengan pelan. Entah mengapa tiba-tiba dia menginginkan makan itu, karena seingatnya dia tidak pernah mau makan sup buntut.


“Kamu yakin mau sup buntut? Sejak kapan kamu sama sup buntut? Kata Adam kamu enggak suka.”


“Enggak tahu. Tiba-tiba pengen maka aja. Besok bilangin sama ibu ya, Mas!”


Hanafi mengangguk dengan pelan. “Iya, besok aku sampaikan sama ibu kalau menantunya mau sup buntut.”

__ADS_1


...###...


...Dah hari ini 3 bab Mana jempolnya 🤭...


__ADS_2