
Satu Minggu telah berlalu ....
Pagi ini Ais adalah jadwal kuliah pagi sehingga dia harus bersiap lebih awal, karena selain menyiapkan sarapan dia juga harus menyiapkan bekal untuk suaminya.
“Ais, nggak usah buru-buru ini masuk pagi!”
“Ais ada jadwal kuliah pagi, Mas.”
“Masuk jam berapa? Biasanya tetap santai meskipun ada jadwal kuliah pagi,” timpal Hanafi yang merasa heran.
“Masuk jam tujuh pas, Mas. Ais juga enggak tahu kenapa harus sepagi ini. Mungkin karena dosen baru sehingga harus tepat waktu. Ya, maklum masih awal-awal. Nanti kalau udah lama pasti sama kayak dosen lainnya yang selow. Mas Hanaf gak usah buru-buru, aku udah pesen ojek, kok. Bentar lagi juga sampai,” ujar Ais yang sudah selesai menyiapkan bekal untuk suaminya.
Sebenarnya berat untuk mengizinkan Ais berangkat kuliah sendirian, tidak mungkin Ais menunggu dirinya yang belum bersiap. Yang ada Ais malah akan terlambat.
__ADS_1
“Yaudah, kamu hati-hati di jalan, ya. Kalau udah sampai di kampus segera kasih tahu!”
Ais tertawa kecil karena Hanafi yang terlihat sangat mengkhawatirkan dirinya. Padahal Ais sudah besar dan sudah bisa menjaga dirinya sendiri, tetapi dia dikhawatirkan layaknya anak SD.
“Iya, Mas. Ais itu hanya kuliah bukan merantau. Jadi Mas Hanaf enggak usah khawatir berlebihan. Lagian Ais udah terbiasa kok pulang dan pergi seorang diri.”
Setelah kepergian Ais, Hanafi pun segera bersiap untuk pergi ke sekolah. Bibir Hanafi tersenyum tipis saat melihat pakaiannya yang akan dia pakai telah disiapkan oleh sang istri. Meskipun sedang terburu-buru, tetapi Ais tidak melupakan kewajibannya sebagai seorang istri.
Baru saja Hanafi ingin melangkahkan kakinya ke kamar mandi, bola matanya tak sengaja melihat kertas putih yang berada dibawah bantal. Karena penasaran, Hanafi pun mengambil kertas itu dan membacanya.
Karena terlalu mendalami isi surat, Hanafi sampai menjatuhkan bokongnya diatas tempat tidur. Dadanya terasa sesak, sekalipun saat ini Hanafi tahu jika antara Ais dengan mantan suaminya tidak ada hubungan apa-apa. Bahkan Ais sudah melupakan semua bayang-bayang tentang Azam.
Azam ... kamu baru menyadari jika berlian-mu adalah pergi. Rasanya pasti sangat menyesal karena ternyata wanita yang kamu idam-idamkan, sudah tak lagi peduli dengan. Semua itu karena kesalahanmu sendiri yang tak ingin memperjuangkan bisa kalian. Jangan salahkan aku jika aku akan tetap menjaga Ais dan mencintainya dengan segenap jiwa dan kakakku. Azam ... kamu adalah masa lalu yang tidak akan pernah bisa untuk menjadi masa. Jadi aku harap kamu jangan mengganggu saja.
__ADS_1
Hanafi yang telah membaca isi surat dari Azam langsung meletakkan kembali surat itu di bawah batal, berharap Ais tidak mengetahui jika surat itu baru saja dibaca olehnya.
Baru saja Hanafi ingin meninggalkan kamar, tiba-tiba terdengar suara ponsel bernyanyi. Dengan cepat Hanafi langsung mengangkat panggilan tersebut.
“Halo, assalamualaikum,” sapa Hanafi setelah panggilan tersambung.
“Wa'alaikumsalam. Mas Hanaf, aku hanya ingin berterima kasih kepadamu karena telah membantuku untuk mencari sebuah pekerjaan. Alhamdulillah aku mendapatkan panggilan dari sekolah tempatmu mengajar untuk menggantikan salah satu guru yang keluar. Tapi ... bisakah aku meminta bantuanmu kembali, Mas. Untuk hari ini saja?”
“Apa itu?” tanya Hanafi ingin tahu.
“Bisakah aku numpung denganmu? Ini adalah hari pertamaku bekerja. Aku masih merasa gugup.Selain itu ada sesuatu yang ingin aku tanyakan sama kamu.”
Mendadak tubuh Hanafi membeku. Rasanya sangat berat untuk mengiyakan keinginan Ais, tetapi satu sisi lain Hanafi tidak tega untuk menolak keinginan Iza.
__ADS_1
...###...