
Menjadi anak semata wayang dari seorang pengusaha, membuat Sabian selalu mendapatkan apa saja yang dia inginkan. Semua kebutuhannya selalu dipenuhi oleh ayahnya yang penting Sabian bahagia. Begitulah cara ayahnya membahagiakan anak semata wayangnya. Hanya satu yang tak bisa Sabian dapatkan, yaitu kasih sayang dari seorang ibu.
Sejak baru lahir Sabian sudah harus kehilangan ibunya, karena sang ibu tidak bisa berjuang setelah melahirkannya. Sejenak saat itu Sabian tumbuh dalam pengasuhan ayahnya yang dibantu oleh ibu dari ayahnya alisnya neneknya.
Braaakk!!
Sabian merasa terkejut dengan sang ayah yang menggebrak meja makan. Begitu juga Lasmini, nenek Sabian yang ikut terkejut.
“Astaghfirullahaladzim, Raka! Ada apa?” tanya ibunya dengan jantung yang masih berdebar karena benar-benar sangat terkejut.
Mata Raka menatap tajam ke arah Sabian yang duduk di depan ibunya. Selama ini dia masih bisa diam dengan tingkah laku yang diperbuat oleh anaknya. Namun, tidak untuk kali ini yang tidak bisa didiamkan, karena ulah Sabian sungguh sangat keterlaluan. Hampir dua Minggu berturut-turut dia mendapatkan pesan dari gurunya jika Sabian setiap hari selalu membuat ulah di sekolahannya.
Dari mengambil pembalut milik teman perempuan, mengunci temannya di toilet dan selalu menjahili teman-teman di kelasnya. Bahkan yang paling sangat keterlaluan dan membuat ayahnya marah adalah laporan jika Sabian berani mencium salah seorang guru dan itulah yang membuat ayahnya sangat murka.
“Ibu tanya sendiri kepada Bian apa yang telah dia lakukan di sekolahnya sana! Sungguh bikin malu keluarga!”
Lasmi langsung melempar tatapannya ke arah sang cucu dan bertanya, “Bian, apa yang telah kamu lakukan di sekolahan, Na Mengapa ayah kamu sampai marah seperti ini? Apakah diam-diam kamu telah menghamili teman sekelasmu?”
Sabian hanya bisa menghela napas beratnya. Tentu saja Sabian masih mengingat dengan apa yang dia lakukan.
“Nenek jangan asal nuduh! Meksipun Bian nakal, gapi tapi Bian tak senakal itu. Lagian kemarin itu hanya kesalahan teknis aja. Bian enggak sengaja melakukan,” ujar Bian dengan santai.
“Kesalahan teknis apa itu, Bian? Tolong jelaskan agar tak membuat Nenek mati dengan penasaran!” desak sang nenek.
“Ayah enggak mau tahu, jika kamu tidak bisa merubah sifatmu, ayah akan cabut semua fasilitas yang telah ayah berikan. Jika perlu Ayah akan kirim kamu ke pesantren!” ancam ayahnya dengan serius.
“Tapi Bian bener-bener enggak sengaja, Yah! Kemarin tuh Bu Iza terus aja ngocehin Bian, karena Bian enggak ngerjain tugas dan nyurih Bian untuk berdiri di depan kelas. Karena masih ngocehin Bian, Bian cium aja bibirnya Bu Iza,“ jelas Sabian tanpa sedikitpun merasa bersalah, karena telah mencium gurunya di depan teman-temannya.
“Astagfirullahadzim Sabian .... ” pekik nenek dengan amat sangat terkejut. Bagaimana bisa Sabian melakukan tindakan seperti itu. Pantas saja ayahnya sangat murka, ternyata kesalahan yang dibuat oleh Sabian benar-benar memalukan.
__ADS_1
“Ibu mau tahu apalagi yang diperbuat oleh cucu ibu di sekolah sana? Selain menjahili semua teman-temannya, dia juga berani mencuri pembalut milik teman perempuannya. Apakah itu pantas dilakukan oleh calon seorang pewaris tunggal RES group? Sungguh sangat memalukan, Bu!”
"Astaghfirullahaladzim .... Sabian ... ” Sang nenek langsung memegangi jantungnya agar tidak kambuh karena terlalu sesak memikirkan apa yang telah diperbuat oleh cucunya.
Sabian terdiam dengan tangan yang mengepal. Sudah bisa dipastikan jika yang mengadu kepada ayahnya adalah guru baru itu. Karena selama ini tak ada satupun guru yang berani untuk mengadu pada ayahnya. Lalu jika tidak guru baru itu siapa lagi. Dan guru itu juga satu-satunya guru yang berani menentangnya.
“Pokonya kalau Bian nggak bisa berubah, siap-siap dia harus dikirim ke pesantren!”
Tidak ada gunanya untuk berdebat ataupun meminta ampunan kepada ayahnya, karena Bian sudah tahu bagaimana sifat ayahnya, terlebih saat ini sedang dalam keadaan marah. Mungkin Bian bisa membicarakan masalah lain waktu jika kepala ayahnya sudah dingin.
Dan untuk saat ini jangan ditanya lagi bagaimana tentang isi hatinya yang teramat ingin memaki guru buru yang telah berani untuk mengadu kepada ayahnya. Bahkan Bian sudah berencana untuk memberi pelajaran kepada guru baru itu.
Lihat saja apa yang akan aku lakukan nanti kepada bu Iza. Berani sekali dia mengadu kepada ayah tentang apa yang aku lakukan di sekolahan.
***
Sesampainya di sekolahan, Sabian segera mencari keberadaan Bu Iza agar mempertanggungjawabkan apa yang telah dia lakukan. Dia belum merasa puas jika memberi pelajaran kepada guru itu. Dan satu-satunya tujuan Bian setelah sampai di sekolahan adalah ruang guru. Karena itupun tempat para guru duduk sebelum mengajar ke kelas masing-masing.
Ketukan pintu membuat beberapa guru menolak ke ambang pintu dan segera menyuruh Bian untuk masuk.
“Bian, ada apa?” tanya Hanafi yang kebetulan ingin keluar.
“Saya ada perlu dengan Bu Iza, Pak.”
“Oh ... Bu Iza. Kebetulan orangnya lagi ke kamar mandi. Kamu ada perlu apa? Tunggu aja di mejanya!” lanjut Hanafi lagi.
Sabian menggeleng dengan pelan. “Tidak usah, Pak. Saya tunggu di luar aja.”
Karena Hanafi hendak mengajar ke kelasnya, diapun memilih untuk meninggalkan Bian begitu saja. Dan tanpa disadari oleh beberapa guru Bian pun menyelinap begitu saja untuk menuju ke kamar mandi khusus guru. Sepertinya rencana balas dendamnya sedang di permudah.
__ADS_1
“Kita lihat saja apa yang bisa dia lakukan.”
Bian melangkah dengan pelan untuk mencaritahu dimana guru itu berada. Dan pada saat Bian telah menemukan keberadaannya, dia pun segera mengambil papan yang bertuliskan kamar mandi sedang rusak di pintu. Dengan begitu tak akan ada orang yang orang yang akan membuka pintu itu.
“Semoga sampai siang enggak ada yang ke kamar mandi!” Sabian tertawa jahat sambil meninggalkan kamar mandi itu.
***
Semenjak hamil, sedikit demi sedikit perubahan pun terjadi. Bukan hanya selera makan saja yang menurun tetapi kerajinan pun juga ikut turun. Bahkan untuk mandi pagi pun rasanya begitu malas. Setiap berangkat ke kampus pun hanya cukup dengan mencuci mukanya saja. Bahkan untuk menyentuh bedak dan lipstik saja rasanya sangat malas. Dan perubahan itu kini sangat terlihat dengan sangat jelas di mata Jelita.
“Ais ... aku perhatikan akhir-akhir ini kamu sangat terlihat kucel. Apakah suamimu sudah tidak menafkahimu lagi?” tanya Jelita sat Ais manarik sebuah bangku di sampingnya.
“Memangnya kenapa?”
“Kok malah kenapa, sih? Apakah kamu tidak melihat bagaimana wajahmu saat ini. Atau kamu memang sedang sengaja ingin menjadi jelek agar enggak ada yang tertarik denganmu karena kamu ingin menjaga hati suami kamu? Sungguh ide yang sangat bagus, Ais. Aku salut denganmu.”
Ais malah menautkan kedua alisnya. “Memangnya wajahku sekarang terlihat sangat jelek, ya?”
“Bukan jelek, tapi hanya kucel aja, karena kurang perawatan. Kamu kenapa? Lagi ada masalah?”
Ais menggelengkan kepalanya. Wajar saja jika wajahnya akan terlihat kucel, karena beberapa hari terakhir ini dia sama sekali tidak merawat wajahnya lagi.
“Aku lagi males dandan aja, Lit. Bukan karena Mas Hanaf enggak kasih nafkah, ataupun karena udah lagi, tapi bener-bener lagi malas aja. Bahkan untuk mandi aja rasanya sangat berat,” jelas Ais dengan santai.
Seketika bola mata Jelita langsung terbelalak dengan lebar. “Apa? Kamu malas mandi? Jangan bilang tadi pagi kamu juga enggak mandi,” tebak Jelita dengan rasa tidak percaya.
“Iya, betul. Aku emang enggak mandi.”
“Astaghfirullahaladzim, Ais!” pekik Jelita.
__ADS_1
...###...