Aisyah Bukan Istri Mandul

Aisyah Bukan Istri Mandul
BAB 32


__ADS_3

Dengan terpaksa, Ais pun harus bergabung bersama Hanafi dan ibunya untuk makan siang bersama. Berada di tengah-tengah anak dan ibu membuat Ais teringat dengan sepenggal kisah masa lalunya bersama Azam dan Mama Maya. Terlebih dahulu, Mama Maya sangat menyayangi Ais. Entah apa yang merasuki wanita itu hingga tega menyakiti hati Ais.


"Han, gimana enak kan masakan Ais?" tanya ibu Hanafi.


"Iya, Bu. Enak."


"Alhamdulillah. Mudah-mudahan kamu segera terbiasa dengan masakan Ais, ya."


Hanafi hanya bisa menghela napas panjangnya karena sudah sangat peka dengan ucapan ibunya. Entah mengapa sang ibu begitu menginginkan dirinya segera menikah dengan Ais.


"Ais, ayo dimakan! Jangan malu-malu. Kan tadi kamu yang masak. Anggap aja seperti rumah sendiri."


Ais tersenyum tipis dengan rasa canggung. "Iya, Bu."


Makan siang pun berjalan begitu saja dan tibalah Ais meminta izin untuk pulang. Namun, lagi-lagi ibu Hanafi belum mengizinkan Ais pulang begitu saja. Ibu Hanafi yang sudah terlanjur menyukai dan berharap besar jika Ais adalah jodoh anaknya masih berusaha untuk mencari cara untuk meruntuhkan kekerasan hati anaknya yang masih membentengi pintu hatinya untuk diisi. Ibunya bahkan tidak peduli dengan status wanita yang sangat diharapkan untuk menjadi menantunya itu.


"Ais, maaf ibu harus merepotkanmu untuk sekian kalinya. Tidak apa-apa, kan?"


"Ah, enggak apa-apa kok, Bu."


Ibu Hanafi sengaja menyuruh Ais untuk menemani Hanafi menagih uang sewa di rumah kontrakan, dengan alasan takut jika Hanafi tidak jujur.


"Enggak tahu kenapa mendadak perut ibu pusing. Mungkin karena baru hari pertama datang bulan. Jika ibu belum berjanji akan datang hari ini, ibu juga tidak akan memintamu untuk mengutip uang sewa. Ibu tidak percaya jika hanya mengutus Hanafi seorang, karena Hanafi kan takut sama orang, terutama sama wanita."


"Ibu! Hanafi tidak takut sama orang. Hanafi hanya menjaga pandangan Hanafi, terlebih penyewa rumah itu rata-rata tidak bisa menjaga lekuk tubuh mereka, dan sering memakai pakaian kurang bahan. Hanafi tidak ingin mata Hanafi ternoda, Bu!" Hanafi membela diri.


"Iya, iya. Ibu tahu itu. Ya udah sana, nanti keburu mereka lama nunggu dan mikir kalau ibu enggak jadi datang!"

__ADS_1


Dengan terpaksa, Hanafi pun langsung menjalankan apa yang diperintahkan oleh ibunya. Sebagai anak yang penurut, Hanafi tidak pernah bisa menolak perintah ibunya, kecuali perintah untuk menikah. Untuk keinginan yang satu itu, dengan beribu maaf, Hanafi terpaksa harus menolak karena itu juga menyangkut masa depannya.


"Ais, maafkan ibu ya. Tapi kalau kamu tidak mau, aku akan mengantarmu pulang. Kamu juga sudah lelah yang hampir seharian mengikuti keinginan ibu," ujar Hanafi.


"Gak papa kok, Mas. Lagian di rumah aku juga enggak ada kerjaan. Ya, itung-itung dari pada bosan di rumah."


Karena Ais merasa tidak keberatan, Hanafi pun langsung menuju ke rumah kontrakan milik orangtuanya.


Dalam hati Hanafi merasa sangat bersyukur karena Ais tidak keberatan dan bisa dia andalkan untuk mengutip uang sewa.


"Alhamdulillah. Untung Ais enggak keberatan, sehingga aku tak perlu bertatap langsung dengan penyewa rumah."


Dan tidak butuh waktu lama, keduanya pun telah sampai di rumah kontrakan milik keluarga Hanafi. Terlihat sudah banyak penyewa yang duduk di teras rumah masing-masing.


Ais, yang melihat dari dalam mobil, mendadak merasa gugup. "Mas, ini benar-benar kontrakan milik keluarga Mas Hanafi?"


Ais pun langsung turun untuk menghampiri orang yang telah menunggunya. Melihat pakaian yang dikenakan oleh para wanita itu membuat Ais bergidik geli. Bahkan, wanita yang masih terlihat muda hanya memakai tank top serta celana pendek di atas lutut. Pantas saja Hanafi tidak mau mengutipnya.


"Assalamualaikum," sapanya berusaha mengembangkan senyum di bibirnya.


Sontak hampir semua mata langsung menoleh dan menjawab salam yang diucapkan oleh Ais.


"Walaikumsalam."


"Kamu pasti Ais yang disuruh Bu Dewi untuk mengutip uang sewa, ya?" tanya salah seorang di antara mereka.


Ais pun mengangguk pelan sebagai jawaban.

__ADS_1


"Ya udah, sini duduk dulu. Tapi ngomong-ngomong, mana anaknya Bu Dewi? Katanya kamu datangnya sama dia?"


"Dia ada di mobil."


"Oh. Kenapa tidak disuruh turun? Apakah dia takut sama kita? Kan kita tidak menggigit."


Semakin lama, Ais semakin risih, tetapi dia harus segera menyelesaikan tugasnya agar segera pulang. Namun, saat Ais telah selesai menyelesaikan tugasnya, tiba-tiba hujan turun tanpa aba-aba.


"Yah, hujan," ucapnya.


Hanafi yang berada di dalam mobil seketika turun karena dia sangat takut dengan lebatnya hujan yang sedang turun.


"Yah, basah."


Hanafi pun segera menghampiri Ais yang sudah menyelesaikan tugasnya.


"Lho, Mas Hanafi kok malah ke sini?"


"Ais, mending kita berteduh dulu di sini. Kebetulan aku bawa kunci cadangan dan ada beberapa kontrakan yang belum dihuni," sarannya.


"Lho, kenapa, Mas?"


Hanafi terdiam untuk sejenak. Jujur, dia merasa trauma jika hujan datang dengan deras dan dirinya berada di dalam mobil.


"Ya udah, kita kontrakan yang belum dihuni aja."


Karena Ais telah setuju, Hanafi pun segera menuju ke sebuah kontrakan yang masih kosong untuk tempatnya menunggu hujan mereda.

__ADS_1


__ADS_2