
Hampir satu malaman dua insan tidur saling berpelukan. Kini bukan Ais yang yang berada di dalam dekapan Hanafi, melainkan Hanafi yang masuk ke dalam pelukannya. Layaknya seorang ibu yang sedang menidurkan anaknya. Bahkan tangan Ais terasa kebas ketika harus menjadi bantalan untuk Hanafi.
Malam yang panjang pun berlalu begitu saja. Sayup-sayup kumandang Adzan pun telah terdengar. Hanafi menggeliat dengan pelan dan mencoba untuk membuka mata dengan perlahan. Dilihatnya suasana sudah menjadi terang. Lampu sudah nyala kembali. Dia pun segera menghela napas panjang, ketika mengingat apa yang terjadi tadi malam.
“Ya Allah sampai kapan rasa takut itu akan tetap bersarang di dalam diriku? Aku merasa tidak berguna sebagai seorang suami,”
Hanafi yang menyadari posisi tidurnya segera mendongak dan melihat Ais masih terlelap dalam tidurnya. Ada rasa nyaman dan rasa bersyukur, tetapi ada juga rasa malu di dalam benaknya. Sebagai seorang suami dia begitu lemah. Seharusnya dialah yang melindungi istrinya, bukan istrinya yang malah melindungi dirinya.
“Ais ... apakah kamu masih akan tetap bertahan dengan kekurangan yang aku miliki ini? Sungguh aku benar-benar suami tidak berguna untukmu,” gumam Hanafi yang masih menatap wajah lelap istrinya.
Ais yang sebenarnya sudah bangun lebih awal memilih untuk berpura-pura masih terlelap karena tidak ingin melihat suaminya semakin menyalahkan dirinya sendiri. Karena terus dipandangi oleh Hanafi, Ais pun memutuskan untuk membuka matanya.
“Mas Hanaf udah bangun?” tanyanya.
Hanafi mengangguk dengan pelan dengan senyum di bibirnya. “Ais, terima kasih.” Satu kecuppan mendarat cepat tepat di bibir Ais.
“Enggak masa aneh-aneh! Kita mau sholat subuh!”
Hanafi terkekeh pelan sambil mencubit hidung Ais. “Aneh-aneh apa? Kamu ya pikiran messum!” cibir Ais.
“Bukannya Mas Hanaf yang messum?”
“Cuma dikit, kok. Tapi messum sama istri sendiri enggak apa-apa kan?”
Tidak ingin terjadi sesuatu yang aneh-aneh, akhirnya Ais memilih untuk bangkit dari atas tempat tidurnya untuk menuju ke kamar mandi. Kali ini tangan dan kepala terasa pegal, karena hampir satu malaman posisi tidurnya tidak berubah.
Pagi ini Ais merasa heran karena suasana di rumahnya terasa sepi. Hanya ada cerita dan ibunya yang terlihat sedang menyiapkan sarapan. Sementara itu Ibu mertuanya dan keluarga dari suaminya sama sekali tidak terlihat di meja makan. Tentu saja Ais merasa heran. Apakah mungkin jika mereka telah pulang ke Jakarta tanpa memberitahu dirinya?
“Bu, ini kok sepi? Yang lain mana? Bapak juga mana, Bu?” tanya Ais sambil menarik sebuah kursi di meja makan.
Ibunya langsung menautkann kedua alisnya. “Lho, kamu nggak tahu kalau Bibi Yani tadi malam kecelakaan? Bapak ikut ke rumah sakit, begitu juga dengan mertua kamu dan juga kerabat lainnya sedang ada di rumah sakit untuk menunggui Bibi Yani operasi,” jelas ibunya.
Mendengar penjelasan ibunya, Ais langsung terbelalak dengan lebar karena saking terkejutnya. “Lho, kok enggak ada yang kasih tahu Ais, sih?”
“Lho, bukannya ibu mertua kamu tadi malam udah ngasih tahu?” timpal ibunya lagi.
“Tadi malam Ais keburu tidur, Bu. Jadi Hanaf enggak kasih tahu Ais kalau Bibi Yani masuk rumah sakit,” sahut Hanafi yang baru gabung di meja makan.
“Kok gitu sih, Mas? Seharusnya Mas Hanaf bangunin Ais!”
__ADS_1
“Gimana mau bangunin, gaun dilepasin aja enggak kerasa apa-apa,” timpal Hanafi lagi.
Seketika Ais menghela napas karena memang tadi malam dia sangat kelelahan hingga tidak bisa merasakan jika Hanafi membuka gaun yang masih menempel di tubuhnya.
“Udah ... enggak usah direbutin! Mending kalian sarapan dulu aja, abis itu kalian ke rumah sakit untuk melihat keadaan bibi Yani sekalian antarin sarapan untuk yang nungguin bibi Yani!” saran ibu Ais.
Pagi ini ibunya Ais dibantu oleh Jelita saat hendak menyiapkan sarapan untuk orang-orang yang berada di rumah sakit. Meskipun Jelita tidak bisa memasak tetapi dia tetap berusaha untuk membantu ibunya Ais.
“Nak Lita, nanti kalau mau ke rumah sakit untuk melihat keadaan Bibi Yani, kamu minta antarin Adam aja, ya! Enggak apa-apa, kan? Soalnya ibu enggak bisa pergi ke sana,” kata ibu Ais saat menata makanan kesebuah tempat.
“Lho, emangnya Pak Adam enggak di rumah sakit, Bu? Tapi kok enggak kelihatan, ya?” tanya Lita.
“Adam belum bangun. Tadi malam bergadang karena nemenin pak RT dan pak RW sampai larut malam disini.”
Lita pun mengangguk dengan pelan. Tiba-tiba saja dadanya berdegup dengan kencang saat membayangkan berada dalam satu mobil dengan pujaan hatinya. Bibirnya langsung menyunggingkan senyum, membuat ibunya Ais menautkan kedua alisnya. “Nak Lita, kamu kenapa?”
“Eh, Ibu. Lita enggak apa-apa, kok.”
Benar saja, Hanafi dan Ais pergi ke rumah sakit hanya menggunakan sepeda motor sehingga tidak bisa membawa Jelita. Mau tidak mau jika Jelita ingin ke rumah sakit dia harus menunggu Adam bangun.
“Lit, aku pergi duluan ya! Kamu tunggu aja, bentar lagi Mas Adam juga bangun. Kalau enggak bangun, buka aja kamarnya, terus siram pakai air biar bangun!” seru Ais saat hendak berangkat.
“Lit, jangan dengerin Ais ya! Dia adik durhaka,” timpal Hanafi.
“Siap, Pak.”
Cukup lama Jelita menunggu Adam terbangun, hingga membuat Jelita merasa bosan. Dan demi mengusir rasa bosannya, Jelita membantu ibunya Ais untuk membersihkan sisa-sisa acara kemarin. Meskipun telah dilarang tetapi Jelita masih tetap membantu.
“Udah, kamu duduk aja! Nanti capek!” seru ibunya Ais.
“Enggak apa-apa, Bu. Lita suntuk enggak ada kegiatan.”
“Ya udah terserah kamu aja yang penting jangan dipaksakan ya!”
“Iya, Bu.”
***
Disisi lain ... Raka dan juga Iza yang menginap di dalam hotel yang sama, kini telah bersiap untuk pulang ke Jakarta. Namun, meskipun berada di dalam hotel yang sama tetapi mereka tidak tidur dalam satu kamar yang sama. Keduanya memesan kamar yang berbeda, karena di antara mereka tidak ada hubungan apa-apa. Bukan hanya hanya menghindari sebuah fitnah tetapi juga menghindari godaan syaitan yang ingin menjatuhkan keimanan manusia.
__ADS_1
Pagi ini Raka dan Iza sengaja melakukan sarapan di dalam hotel, karena memilih yang lebih praktis daripada harus kesana-kesini untuk mencari tempat makan. Selama sarapan berlangsung tidak ada sepatah kata yang terucap dari bibir Iza. Wanita itu memilih bungkam tanpa ingin mengucapkan satu kata, hingga membuat Raka bertanya-tanya ada apa dengan Iza? Apakah Iza belum sepenuhnya rela setelah mendapatkan apa yang dia inginkan? Seharusnya Iza merasa bahagia karena telah terlepas dari belenggu pernikahan palsunya bersama dengan Azam.
“Iza, apakah masih ada masalah lagi. Jika ada katakan saja, siapa tahu aku bisa membantumu,” ujar Raka untuk memecahkan suasana hening.
Iza menggeleng dengan pelan. Selain ingin menepati perjanjiannya dengan Sabian, Iza juga tidak ingin berlama-lama pergi bersama pria yang bukan siapa-siapanya.
“Enggak ada, Pak.”
“Benarkah? Jika masih ada masalah Yang harus diselesaikan kamu ngomongnya sama aku ya!”
Iza mengangguk dengan pelan. “Iya, Pak.”
Dan pada saat keduanya selesai dengan sarapannya, kini tinggal saatnya mereka mempersiapkan untuk otw pulang ke Jakarta.
Mobil yang di kemudiankan oleh Raka pun telah melesat meninggalkan halaman hotel. Perjalanan menggunakan mobil memang membutuhkan waktu berjam-jam daripada menggunakan pesawat. Sebenarnya bisa saja Raka mengantar Iza mengunakan pesawat, tetapi Iza menolaknya.
Pandangan Raka tak lepas dari Iza yang masuk ke bungkam. Namun, semakin lama Raka semakin tidak tahan dengan suasana hening.
“Iza, apa yang sedang kamu pikirkan? Katakan saja barangkali aku bisa membantumu,” ujar Raka lagi, untuk memastikan jika saat ini Iza sengan baik-baik saja
“Aku tidak apa-apa, Pak. Mungkin karena kurang istirahat aja makanya bawaannya males,” kilah Iza.
“Benarkah? Kalau begitu kamu tidur aja. Nanti kalau sudah sampai di rest area aku bangunin kamu.”
Kepala Iza mengangguk dengan pelan. Mungkin itu adalah cara aman agar tidak ada percakapan diantara keduanya. Iza benar-benar tidak tahu bagaimana reaksi Raka ketika mengetahui sebuah perjalanan yang telah dibuat antara dirinya dan juga Bian. Apakah Raka akan kecewa?
Ya Allah, apa yang harus aku lakukan? Bahkan aku tidak tahu akan pergi kemana setelah ini. Tidak mungkin aku pulang ke rumah ibu. Yang ada mereka hanya akan mengkhawatirkanku. Dan aku tidak mau itu terjadi.
Iza memejamkan mata sambil menahan rasa sesak di dalam hati. Entah mengapa cobaan datang bertubi-tubi pada dirinya. Apakah tidak ada sedikit mencela kebahagiaan untuknya?
“Iza jika kamu membutuhkan seseorang untuk mengeluarkan unek-unek yang ada di hatimu, ceritakan saja padaku. Aku bersedia untuk menjadi tempatmu mencurahkan isi hatimu. Bahkan aku juga siap untuk menjadi sandaran hatimu,” ucap Raka sambil melirik ke arah Iza yang sudah memejamkan mata.
“Pak Raka, aku baik-baik saja, jadi Pak Raka enggak usah khawatir. Nanti jika aku membutuhkan bantuan Pak Raka, aku akan bilang. Untuk saat ini aku baik-baik aja, Pak.”
Raka mengangguk dengan pelan. “Baiklah.”
...###...
...Tes ... Mana suaranya 👀...
__ADS_1