
Kabar kehamilan Ais pun telah disampaikan pada orang tuanya yang ada di Jogjakarta. Betapa bahagianya kedua orang tua Ais saat mendengar kabar jika putrinya telah hamil. Dengan kabar tersebut, akhirnya Ais bisa mematahkan tuduhan jika Ais mandul. Dan rencananya setelah selesai ujian semester, Ais beserta keluarga besar Hanafi akan berkunjung ke Jogjakarta untuk melakukan resepsi pernikahan yang sempat tertunda.
“Ais, kamu mau sarapan apa?” tanya Hanafi saat dia menggantikan peran Ais di dapur.
“Terserah Mas Hanaf aja, yang penting jangan pakai bawang putih.”
Akhir-akhir ini lidah Ais sangat sensitif. Dia akan langsung muntah ketika mencium aroma bawang putih. Kata ibu mertuanya itu adalah hal yang wajar dialami oleh ibu hamil muda. Namun, itu hanya bersifat sementara, karena akan hilang dengan sendirinya.
Selama masa kehamilan, meksipun rasanya sangat tersiksa karena harus sering muntah, tetapi Ais tetap bersyukur, karena Hanafi tetap selalu ada untuknya. Saat ini Ais benar-benar seperti sedang di ratukan oleh suaminya.
Pagi ini selepas sarapan, Ais langsung diantar ke kampus. Tak pernah lupa, Hanafi selalu berpesan agar Ais untuk berhati-hati dan menjaga setiap langkahnya. Hanafi juga berpesan agar Ais tidak melupakan makan siangnya, karena saat ini ada satu nyawa yang sedang bergantung padanya.
“Mas, nanti enggak usah jemput Ais, ya! Ais dan Lita ada tugas,” ujar Ais sebelum turun dari mobil.
“Kok gitu? Nanti kalau terjadi sesuatu dengan kamu gimana? Enggak, aku enggak izinin kamu pergi, kecuali dengan pengawasanku!”
“Tapi Mas ... ini masalah perempuan! Lagian nanti ada supirnya Lita yang jemput. Jadi Mas Hanaf enggak usah khawatir. Ais bisa jaga diri Ais dengan baik. Please, boleh ya? Ini masalah urgent, Mas!” rengek Ais.
Hanafi menghela napas panjang.
Rasanya terasa berat untuk memberikan izin untuk Ais. Sebenarnya bukan karena takut akan terjadi sesuatu pada Ais, tetapi Hanafi akan merasa kesepian jika tak ada Ais di rumah. Itulah salah satu alasan terbesar Hanafi selalu melarang Ais jika ingin pergi bersama temannya.
“Mas ... boleh ya. Nanti malam Ais kasih rewardnya. Gimana?” tawar Ais.
“Yakin?” Hanafi memastikan.
__ADS_1
Kepala Ais mengangguk dengan pelan. Dia tak peduli berapapun reward yang akan diminta oleh suaminya nanti malam, karena yang paling penting dia harus menyelesaikan tugasnya hari ini juga.
“Baiklah, aku izinkan. Tapi nanti kalau mau pulang kasih tahu aku jemput!”
“Siap, Mas!” Ais yang merasa sangat bahagia langsung memberikan sat kecu.pan di pipi Hanafi sebagai tanda terima kasihnya. Namun, saat Ais benar-benar ingin turun, Hanafi menahan lengan Ais. “Bonusnya belum!”
Asi segera mendelik. Entah sejenak kapan suaminya berubah menjadi messum. Padahal awal-awal menikah dia adalah orang yang pemalu. Bahkan pernah merasa insecure karena takut tidak bisa memuaskan istrinya. Namun, sering berjalannya waktu Hanafi sudah memiliki keahlian dalam mengambil kendali. Entah darimana dia belajar untuk menguasai istrinya.
Ais pun segera memberikan bonus sesuai dengan keinginan suaminya. Sebuah ciuman inti di bibir yang kini menjadi sebuah candu untuk Hanafi. Lima menit Ais memberikan bonus yang diinginkan oleh suaminya sebelum dia dilepaskan untuk turun dari mobil.
“Udah ya, Mas! Aku harus segera turun, karena Lita pasti sudah menungguku.”
“Baiklah. Kamu hati-hati ya! Tetap perhatikan langkahmu!” Satu kecu.pan pun mendarat di kening Ais.
“Walaikumsallam.”
Setelah memastikan istrinya masuk kedalam gedung kampus, Hanafi pun langsung menjalankan mobilnya untuk menuju ke sekolah tempatnya mengajar. Hari ini adalah hari pertama ujian semester akhir. Rasanya sudah tidak sabar untuk segera berakhir, karena setelah ini dia akan pulang ke rumah mertuanya yang ada di kota pendidikan itu. Dan pada saat itu tiba, Hanafi bisa mematahkan tentang tuduhan tentang Ais yang tidak bisa memberikan keturunan.
“Andaikan saja mereka mampu bersabar untuk sebentar saja, mungkin mereka tidak akan kehilangan berlian seperti Ais. Tapi sudahlah, mungkin ini sudah menjadi ketetapan Allah. Dan dari kejadian itu bisa dilihat jika mantan Ais lebih memilih harta ketimbang istrinya. Naudzubillahimindzalik, semoga aku dijauhkan dari sifat seperti itu.”
Tidak butuh waktu lama, kini mobil Hanafi telah masuk ke parkiran sekolah. Entah dia yang kesiangan atau murid yang kepagian, karena saat Hanafi turun sudah banyak anak-anak yang telah tiba di sekolah, termasuk juga dengan Sabian yang bisanya akan datang paling akhir, kini batang hidungnya telah terlihat.
“Tumben anak itu sudah datang? Apakah ini ada kaitannya dengan Iza? Aku yakin Iza telah membuat anak itu berubah. Sungguh luar biasa Iza,” gumam Hanafi dengan pelan.
Hari ini adalah hari yang paling mendebarkan, karena ini adalah hari pertama ujian akhir semester di mulai. Bagi anak yang mempunyai kepintaran, mereka tidak takut untuk melewati ujian ini. Namun, bagi anak yang tidak mempunyai kepintaran diatas rata-rata, mereka akan sangat jantung, tetapi itu tidak berlaku untuk Sabian. Meskipun dia tidak memiliki kepintaran, dia tetap santai, karena ada seseorang yang bisa dia andalkan.
__ADS_1
“Ingat ... tidak boleh ada yang mencontek. Jika sampai ketahuan, Ibu akan mengisi nilai rapor kalian!” ucap Iza setelah membagikan kertas ujiannya.
Selama ujian berjalan, mata Iza tetap mengawasi murid-murid agar mereka tidak berbuat kecurangan. Namun, matanya tak lepas dari pandangannya ke Sabian. Meskipun anak itu terlihat sangat santai, tetap wajib untuk dicurigai, karena tidak mungkin Sabian tidak melakukan kecurangan.
Sabian yang merasa sedang diawasi oleh ibu gurunya, hanya bisa mendengus dengan kasar. Mungkinkah jika ibu gurunya tahu jika dia akan beraksi?
Kalau gini caranya, gimana aku bisa mengambil kunci jawaban? Dasar Bu Iza enggak peka! Awas aja nanti! Aku pasti akan memberikan pembalasannya.
Iza terus mengawasi semua murid tanpa terkecuali. Dia tidak ingin menemukan muridnya berbuat kecurangan.
“Sudah siap?" tanya Iza saat mendekat ke meja Bian.
Bian yang duduk dengan dengan santai memilih untuk menggelengkan kepalanya. “Belum.”
“Lalu kenapa kamu tidak mengerjakannya? Apakah tidak bisa? Atau sedang menunggu jawaban dari teman kamu? Mulai hari ini Ibu yang akan bertanggung jawab atas kelas kalian. Jadi ibu akan mengawasi kalian dengan cara ibu sendiri,“ ucap Iza dengan pelan di di samping Bian.
“Ibu, kalau ibu tidak bisa membantu mending Ibu duduk aja, deh! Gak usah mondar-mandir! Mataku sepet lihat Ibu!” ucap Bian dengan pelan, ketika Iza mendekat ke mejanya.
“Tapi Ibu suka mondar-mandir, gimana dong?”
Bian benar-benar tak diberikan celah untuk meminta jawaban dari temannya, karena Iza malah mengambil kursinya untuk duduk di samping Bian.
...##...
...Hayo ... kira-kira jodoh Iza anaknya atau bapaknya 😂...
__ADS_1