
...Ketika kita meninggalkan suatu keburukan, maka Allah akan menggantikannya dengan sebuah kebaikan...
Dalam gelap Iza hanya bisa meratapi atas nasib yang tidak berpihak kepada dirinya. Setelah sebelumnya dia menghancurkan rumah tangga Ais dan juga Azam, kini dia tidak berani untuk mendekat kepada Ais, sekalipun tak ada niat buruk untuk merebut Hanafi. Tetap saja sebutan pelakor itu akan melekat pada dirinya karena telah merebut Azam dari tangan Ais.
Dunia serasa sempit, karena Iza harus hadir diantara rumah tangga Ais. Namun, untuk kali ini dia tidak bermaksud untuk mengambil suaminya, karena kisahnya dengan Hanafi telah usai saat Iza memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya di luar negeri.
Tak perlu ada yang disesali karena takdir Allah itu pasti lebih baik. Hanya saja butuh waktu untuk berproses, karena semua akan indah pada waktunya.
“Ais, maaf jika telah hadir dalam kehidupanmu dan juga Hanafi. Tapi kamu tenang saja aku tidak akan mengambil Hanafi dari tanganmu. Aku yakin kamu pasti mempunyai rasa trauma jika bertemu denganku, karena sebelumnya aku telah merampas kebahagiaanmu. Tapi asal kamu tahu, aku sama sekali tidak mempunyai niat untuk menghancurkan rumah tanggamu dengan mas Azam, terlebih saat itu Mas Azam enggak jika dia adalah pria beristri. Ais sekali lagi aku minta maaf.”
Berbeda dengan Iza yang sedang meratapi nasibnya, kini Ais benar-benar menikmati kebahagiaan yang datang bertubi-tubi kepada dirinya. Mungkin ini adalah balasan atas rasa sakit yang pernah dia rasakan sebelumnya.
Seorang ibu mertua yang sangat baik dan sangat menyayangi dirinya melebihi anak kandungnya sendiri serta seorang suami yang teramat sangat mencintai dirinya sekalipun pernikahan mereka berawal dari sebuah kesalahpahaman. Namun, suaminya tetap menghujani Ais dengan cinta dan kasih sayangnya. Terlebih saat ini Allah telah memberikan sebuah amanah kepada Ais untuk menjadi seorang ibu. Betapa bahagianya Ais sampai-sampai tak lelah untuk mengucap kata syukur kepada Allah.
“Bu, kami pulang dulu! Lain waktu kami akan singgah kesini lagi,” pamit Ais sebelum meninggalkan rumah ibu mertuanya.
“Iya, kamu harus menjaga diri kamu dengan baik. Jika kamu membutuhkan sesuatu segera hubungi Ibu, karena saat itu juga ibu akan segera datang untukmu,” ujar ibu mertuanya.
“Iya, Bu.”
Ais sengaja tidak mengeluarkan buah durian yang dia beli siang tadi, karena sudah pasti Ibu mertuanya akan mengizinkan Ais memakannya, karena ibu mertuanya hampir sama dengan Hanafi yang sangat protektif.
“Mas sampai rumah kita langsung belah duren ya! Pasti enak banget,” celetuk Ais ditengah perjalanan pulangnya.
Hanafi langsung menautkan kedua alisnya saat mendengar sang istri minta adalah duren. Pikirannya sudah melayang jauh karena memang akhir-akhir ini dia tidak mendapatkan asupan gizi, karena takut untuk menyakiti janin baru saja menghuni rahim istrinya.
“Emangnya kamu udah yakin mau belah duren? Nanti pas di tengah jalan kamu minta perhatian,” sahut Hanafi dengan senyum jahilnya.
__ADS_1
Ais langsung mengernyit dengan heran atas tanggapan dari suaminya. Padahal Ais hanya ingin belah buah durian, bukan untuk belah duren. Kepalanya pun langsung menggeleng dengan pelan. “Mas Hanaf!” sentak Ais. “Sekaramg pikiran Mas suka messum. Ais kan cuma pengen belah buah durian yang Ais beli tadi, Mas! Bukan minta durian yang itu ... !”
Hanafi pun membulatkan matanya dengan lebar karena salah mengartikan ucapan istrinya. Mungkin karena saat ini belah duren yang itu telah menjadi candu untuknya, sehingga pikiran langsung mengarah kesana.
“Ah ... aku pikir kamu memang menginginkan yang itu. Jika pun kamu menginginkannya dengan lapang dada aku bersedia untuk membukanya, karena seluruh tubuh ini adalah milikmu,” goda Hanafi yang terlanjur malu.
“Dasar Mas Hanaf messum!” cibir Ais.
“Messum sama istri sendiri enggak apa-apa, asal jangan messum dengan istri orang,” balas Hanafi.
***
Tak perlu ditanya seberapa besar rasa cinta yang dimiliki oleh Hanafi untuk istrinya. Jika diukur rasa cinta Hanad seluas samudra dan setinggi gunung Everest.
Sesuai dengan keinginan Ais, Hanafi langsung membelah durian karena Ais yang terus merengek memintanya untuk membelah duriannya.
“Gak apa-apa, demi kamu.”
“Dih ... apaan sih, Mas!” Ais tersipu malu.
Baru dibelah aromanya sudah menyeruak keseluruhan ruangan. Mata Ais sangat berbinar dan sudah tidak sabar untuk mencicipi buah kesukaannya. Namun, sesuai dengan kesepakatannya dengan Hanafi, Ais tanya diizinkan makan secukupnya saja tanpa diizinkan untuk menghabiskan semuanya.
“Kok rasanya hambar ya, Mas? Jangan-jangan kita dibohongi oleh penjualnya! Udah mahal-mahal hambar!” gerutu Ais setelah mencicipinya.
Hanafi langsung mengernyit dengan heran. Tidak mungkin penjual membohongi mereka, terlebih durian yang mereka beli adalah jenis durian king. Tidaklah mungkin jika rasanya hambar.
“Masa sih?” Hanafi pun tertarik untuk mencicipinya. Seketika Hanafi terdiam sesaat untuk meresapi rasa durian yang dikatakan hambar. “Ya ampun Ais ... enak kayak gini kamu bilang hambar? Lidah kamu mati rasa ya!”
__ADS_1
“Enggak Mas! Serius rasanya hambar! Udahlah untuk Mas Hanaf aja! Aku udah enggak selera untuk makannya!” Ais pun berlalu begitu saja meninggalkan Hanafi yang masih menikmati duriannya.
“Dasar aneh! Jelas-jelas enak kayak gini bisa-bisanya dibilang enggak enak!”
Di dalam kamar, tangan Ais ragu untuk mengambil satu-satunya pakaian yang dianggapnya haram, karena bentuknya seperti jaring-jaring ikan. Entah mengapa malam ini rasanya ingin memakainya.
“Pakai enggak ya?” Ais masih bimbang dengan keputusannya. Andaikan saja Adam tidak memberikan pakaian itu, sudah pasti Ais tak akan mempunyai pakaian jenis seperti itu. Melihatnya saja Ais sudah beristighfar. Pernah beberapa kali Ais memakainya dan saat melihat dari pantulan kaca, dirinya hampir serupa dengan wanita malam di luar sana.
“Astaghfirullahaladzim.” Ais segera menutup pintu lemari dan membuang jauh keinginannya untuk memakai pakaian jaring ikan itu. Namun, tiba-tiba Ais merasakan sebuah pelukan dari belakang. Tangannya berhenti tepat di perutnya sambil mengelus dengan pelan. Sebuah kecu*pan hangat mendarat di bahunya.
“Pakai aja! Lagian kita juga udah lama enggak belah duren. Emangnya kamu enggak mau berlayar?” bisik pelan Hanafi tepat di telinga Ais hingga membuatnya bergidik geli.
“Mas .... ” lenguhnya.
Tak ada perlawanan ketika Hanafi langsung menuntun Ais untuk naik ke atas tempat tidur. Padahal sebelumnya mereka sudah sepakat untuk tidak melakukan pelayaran sebelum usia kandungan Ais menginjak satu bulan, karena mereka berdua takut jika pelayaran mereka hanya akan menyakiti calon buah hatinya. Namun, malam ini kesepakatan itu harus mereka ingkari. Keduanya sama-sama sudah tidak bisa menahan diri untuk saling melengkapi.
Hanafi yang sudah berada di atas tubuh Ais menatap lekat wajah sang istri. Tangan mengelus lembut pipi mulus dan kemudian berhenti tepat di bibir Ais.
“Sekalipun bukan aku yang pertama merasakan bibir ini, tetapi akulah pemilik bibir untuk ini untuk selamanya. Bukan hanya bibir saja, tapi juga tubuh ini. Ais, berjanjilah kepadaku apapun yang terjadi nanti, kita tetap bersama.”
Ais pun juga menatap lekat tatapan suaminya yang terlihat sangat tulus mencintainya, sekalipun keduanya tidak pernah jika keduanya akan ditakdirkan untuk hidup bersama. Tangan Ais pun juga membelai pipi Hanaf.
“Mas ... apakah kamu masih meragukanku? Aku bukanlah orang yang mudah untuk jatuh cinta, tapi entah mengapa saat ini aku benar-benar terbuai dengan cintamu. Aku mencintaimu ikhlas lahir dan batin. Karena aku percaya akan takdir yang telah Allah tentukan untukku. Mungkin aku harus belajar dari kegagalanku yang sebelumnya agar aku bisa mementaskan diri untuk menjadi seorang istri sekaligus menjadi seorang ibu. Mas, terima kasih telah mencurahkan cinta dan kasih sayangmu untukku.”
Dua insan larut dalam tatapan hingga tanpa mereka sadari kedua bibir telah menyatu. ( Lanjutkan sendiri apa yang mereka lakukan )
...###...
__ADS_1
...Bagi yang punya Vote boleh dong Vote novel ini, 🤭 Bunga sama kopi juga enggak papa hihihi. Selamat hari Senin, selamat menjalankan aktivitas masing-masing. Jangan lupa tetap bersyukur dan selalu bahagia apapun yang sedang terjadi 😊...