
Akhirnya tiba juga di penghujung bulan. Terima kasih telah setia menemani Author dalam novel ini. Semoga bisa menghibur dana menemani waktu luang kalian semua. Berhubung kisah Ais dan juga Hanafi udah enggak ada konflik lagi, author akan menganggap cerita mereka telah berakhir dan untuk bab selanjutnya akan digunakan untuk cerita Bian, Iza dan Raka. Tapi tenang aja, kisah Ais akan tetap ada sebagai pemanisnya. Jadi anggap aja ini season kedua dari novel Aisyah Bukan Istri Mandul ya. Semoga kalian masih setia menemani Author disini. 💜💜 Lope you sekebon durian
SELAMAT MEMBACA LAGI .....
Sabian benar-benar tidak menyangka jika saat ini dia berada di acara tasyakuran milik salah satu gurunya. Dan yang membuatnya hampir tak percaya adalah ketika baru mengetahui ternyata wanita yang pernah membuat degup jantungnya berdetak lebih kencang adalah istrinya pak Hanafi, salah satu guru yang paling dia segani.
Andaikan saja sejak awal Bian mengetahui siapa pemilik acara, mungkin Bian tidak akan ngekori ayah dan bu Iza. Lebih baik tidur di rumah main game, daripada harus menjadi obat nyamuk dan disaksikan oleh beberapa orang guru yang telah hadir dalam acara tersebut.
Karena bosan dengan acara yang tak kunjung usai, Bian memutuskan untuk pergi. Namun, sebelum meninggalkan tempat itu Sabian berpamitan terlebih dahulu kepada ayahnya agar nantinya tidak dicari.
“Yah ... Bian duluan ya! Bosen nunggu gak kelar-kelar!” pamit Bian pada ayahnya.
“Kamu mau kemana?”
“Mau nongkrong sama temen-temen.”
“Mau balapan?” celetuk Iza yang mendengar.
“Apaan, sih! Emangnya kalau nongkrong sama temen itu balapan? Kan enggak juga!” ketus Bian yang mencoba untuk menahan rasa kesalnya.
“Ya kan memang seperti itu kenyataan,” balas Iza.
Sabian yang tidak ingin membuat keributan memilih untuk pergi saja, dari menambah moodnya semakin jelek. “Serah Ibu aja!”
Belum sembuh rasa kecewanya karena keinginan ditolak mentah-mentah oleh gurunya, kini Sabian harus merasakan kekecewaannya karena wanita yang mampu menggetarkan hatinya ternyata telah dimiliki orang lain dan saat ini sedang bunting besar. Sungguh nasib yang tak memihak padanya.
“Sungguh menyedihkan!” umpat Bian sambil mengenakan helmnya.
Seperti biasa tempat tongkrongan adalah sebuah Cafe milik salah satu temannya. Ditempat itu biasanya Bian menghabiskan waktunya jika sedang suntuk ataupun badmood. Ditempat itu juga Bian bisa mengetahui dimana akan diadakan balapan liar.
Tak butuh waktu lama, motor yang dibawa oleh Bian telah berhenti di sebuah Cafe tempat yang terkenal untuk tongkrongan para anak muda lainnya.
Baru juga masuk lambaian tangan menyambut kedatangan Bian. “Sabian .... !” teriak Gala.
__ADS_1
Bian Lang berjalan pelan menuju meja Gala yang sudah diisi oleh beberapa teman lainnya.
“Tumben kesini? Ada masalah apa?” tanya Gala saat Bian telah menarik tempat duduknya.
“Sok tahu!” ketus Bian sedikit acuh.
“Bukan sok tahu, tapi emang seperti itu kenyataannya, Bi! Kamu hanya akan ke tempat ini kalau suasana hati kamu sedang buruk. Tapi kedatangan kamu itu selalu tetap sasaran karena hari ini ada balapan lagi sama geng sebelah. Apakah kamu tertarik untuk ikut?”
Sabian terdiam untuk sesaat. Bagaimana bisa Sabian tidak tergiur dengan kata balapan, karena itu adalah salah satu hobinya, sekalipun telah dilarang keras oleh ayahnya.
“Dimana?” tanya Bian datar.
“Tempat biasalah! Jadi mau dimana lagi?”
“Ah, gak seru kalau di tempat biasa lagi. Sekali-kali cari tempat lain napa? Gak bosen apa ditempat yang sama terus!” protes Bian, karena tidak ingin kejadian yang lalu terulang kembali. Bian tidak ingin ketahuan oleh ayahnya jika dia ikut balapan, karena Bian sudah berjanji tidak akan mengulanginya lagi.
“Itu adalah satu-satunya tempat paling aman dari razia polisi, Bi!” timpal Gala.
Rasa bimbang menyelimuti hati. Bian benar-benar merasa ragu apakah dia akan ikut atau tidak. Sungguh pilihan yang sangat berat.
Aduh ... gimana ini? Aku sudah berjanji kepada ayah dan juga Bu Iza untuk tidak ikut balapan liar lagi. Tapi balapan ini adalah sebagai dari nyawanyaku, tentu saja aku tidak bisa hanya menjadi seorang penonton saja. Akulah pemainnya, jadi apapun yang akan terjadi aku tetap akan ikut. Ayah ... maaf Bian harus ingkar, karena balapan adalah bagian dari hidup Bian.
Sabian langsung mengangguk dengan pelan menyetujui tawaran Gala untuk mengikuti balapan yang akan diadakan nanti malam.
“Oke, aku ikut,” ujar Bian dengan mantap.
Gala langsung menyunggingkan senyum di bibirnya dan langsung menghubungi seseorang untuk memberitahu jika Sabian akan mengikuti balapan untuk malam ini.
“Oke ... ! Udah aku kasih tau sama miminnya. Jangan lupa jam 10 malam main di tempat biasa,” ujar Gala untuk mengingatnya.
***
Disisi lain, setelah mengikuti serangkaian acara tasyakuran, Iza dan Raka pun langsung memutuskan untuk pulang. Meksipun jarak rumahnya tidaklah terlalu jauh, Raka tetap mengantar Iza sampai ke rumahnya, sebagai bentuk tanggung jawab. Berangkat di jemput, pulang pun juga harus diantarkan.
Baru saja Iza hendak turun dari mobil, matanya sudah diterkejutkan dengan semua barang-barang miliknya telah dikeluarkan oleh seseorang yang tidak dikenalnya. Dengan cepat, Iza pun menghampiri untuk menanyakan apa yang sedang terjadi mengapa barang-barang miliknya dikeluarkan semua.
__ADS_1
“Tunggu .... ! Ini ada apa? Mengapa semua barang-barang ini dikeluarkan dari rumah? Kalian siapa?” tanya Iza dengan kepanikannya.
Tidak Mungkin dia diusir dari kontrakan karena Iza sendiri sudah membayar sewanya selama 1 tahun kedepan.
“Ada apa kamu bilang?” tanya seorang wanita bertubuh gemuk keluar dari dalam rumahnya. “Aku tidak menerima wanita seperti kamu yang hanya mencemari kontrakanku saja! Aku kembalikan uang sewamu dan pergilah kamu dari tempat ini!” Pemilik kontrakan itu melemparkan sejumlah uang dapat di hadapan Iza.
Iza masih tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi sehingga dia diusir dari tempat kontrakannya. Padahal Iza, dia tidak melakukan sebuah kesalahan sehingga merugikan pemilik kontrakan maupun tetangganya. Namun, tiba-tiba saja dia harus diusir dengan cara tidak baik.
“Ini ada apa, Bu? Mengapa semua barang-barang ini dikeluarkan?” tanya Raka yang tak kalah dengan rasa keterkejutannya.
Pemilik kontrakan tersenyum sinis kearah Raka. “Oh, jadi ini laki-lakinya? Mending kamu bawa wanita ini pergi dari tempatku, karena aku tidak sudi jika tempatku kalian jadikan tempat bermaksiat!”
Raka dan juga Iza saling menautkan kedua alisnya, karena tidak mengerti dengan ucapan memilih kontrakan yang menyebutkan bahwa rumah kontrakannya dijadikan tempat bermaksiat, sementara Iza sendiri jarang berada di rumah.
“Tunggu! Maksud Ibu, apa? Bermaksiat seperti apa? Saya tidak mengerti dengan apa yang Ibu tuduhkan karena saya sendiri jarang ada di rumah!” protes Iza, yang benar-benar tidak tahu apa yang sedang terjadi.
“Halah ... tidak usah mengelak. Kamu pikir aku tidak tahu apa yang lakukan di rumah ini bersama dengan para laki-laki dan salah satunya dia! Jika kamu ingin jangan di tempat ini!” usir pemilik kontrakan.
Iza hanya bisa mengembangkan kepalanya manakala dia mendapatkan sebuah fitnah. “Bu ... saya bukan orang seperti itu! Mungkin ibu salah orang. Dan saya sendiri jarang berada di rumah karena pekerjaan saya. Jadi jika ibu menuduh saya bermaksud di rumah ibu, itu salah besar, Bu!”
Pemilik kontrakan sama sekali tidak peduli dengan alasan yang diberikan oleh Iza, karena baginya saat ini adalah mengusir Iza dari rumah kontrakan. Dia tidak ingin kehadiran Iza hanya akan membawa petaka.
“Pak ... ini ada apa? Aku tidak seperti itu, Pak! Ini tidak benar, Pak! ini fitnah! Astagfirullahaladzim Pak, apa salahku?” Iza mencoba untuk mengadu pada Raka, karena dia memegang tidak seperti apa yang dituduhkan oleh pemilik kontrakan.
Raka sendiri yang hampir setiap hari bersama dengan Iza, jelas tidak percaya dengan apa yang harus jadi dudukan kepada Iza. Andaikan saja Raka bisa memeluk Iza, mungkin detik ini Raka akan memberikan pelukan sebagai bentuk dukungannya. Namun, sayang Raka tidak bisa menyentuh Iza, karena memang selama ini Iza menjaga diri dan sama sekali tidak mau bersentuhan dengannya.
“Aku tahu itu! Ini hanya sebuah fitnah. Sudahlah, tidak usah kamu hiraukan! Aku akan membawamu pulang ke rumahku!” kata Raka untuk menenangkan hati Iza.
Namun, dengan cepat Iza menggelengkan kepalanya. “Tidak, Pak. Aku akan mencari rumah sewa yang baru lagi.”
“Tapi Za .... ”
“Tidak Pak! Kita bukan siapa-siapa. Lalu apa pandangan orang padaku jika aku tinggal di rumah bapak. Pak Raka enggak usah khawatir, aku baik-baik aja.”
...****...
__ADS_1
...Tes aja, kalau ada yang minat aku lanjutkan, kalau sepi terpaksa cukup sampai disini ☺️...