Aisyah Bukan Istri Mandul

Aisyah Bukan Istri Mandul
BAB 34


__ADS_3

Sudah berulang kali Hanafi dan juga Ais mengatakan jika keduanya tidak melakukan apa-apa, tetapi tak membuat Adam beserta keluarga Hanafi percaya begitu saja. Apa yang dilihatnya sudah membuat mereka merasa malu, terlebih beberapa anak kontrakan yang melihat keduanya. Padahal ibunya Hanafi sudah berwanti-wanti pada semua penyewa agar tak membawa laki-laki untuk datang ke kontrakan agar tak menimbulkan fitnah.


Namun, nyatanya anak sendiri yang mematahkan peraturannya.


"Ibu, tolong percayalah kepada Hanaf. Kami berdua tidak melakukan apa-apa, meksipun kami tidur disana selama satu malaman. Bukankah ibu tau jika Hanaf mempunyai kekurangan. Hanaf tidak berdaya jika sudah berada di dalam kegelapan, Bu. Tolong percayalah. Kami berdua bisa masih menjaga kesucian diri kita, Bu." jelas Hanafi yang mencoba untuk meyakinkan ibunya.


Meskipun ibunya bisa mempercayai ucapan anaknya, tetapi akan diletakkan dimana rasa malunya pada orang-orang disekitar yang juga ikut menyaksikan keduanya dalam satu ruangan, sementara dalam peraturan, ibu Hanafi melarang semua penyewa rumah untuk tidak membawa laki-laki masuk kedalam kontrakan.


Ya, tadi pungkiri Ibu Hanafi memang sangat menginginkan anaknya bisa berjodoh dengan Ais, tetapi dengan tidak cara membuatnya malu seperti ini. Sudah pasti kejadian tadi malam akan menggemparkan tempat kontrakan yang.


"Iya, Ibu percaya jika kalian berdua tidak melakukan apa-apa. Tapi apakah mereka yang melihat kalian berdua akan percaya begitu saja? Tidak Hanaf! Mereka tidak akan percaya begitu saja terlebih mereka melihat kalian sedekat itu. Apa yang harus ibu lakukan untuk tetap menjaga nama baik ibu di mata para penyewa rumah kontrakan. Ibu malu, Hanaf. Malu!"


"Jujur, aku kecewa denganmu, Han! Meskipun aku memang membutuhkan bantuanmu, tetapi tidak dengan cara seperti ini. Seharusnya kamu memberitahuku sebelum kamu membawa Ais agar aku tidak khawatir. Asal kamu tau, aku hampir saja masuk penjara karena telah menghajar Azam," ucap Adam dengan helaan napas panjang.

__ADS_1


Bola mata Ais langsung mendelik dengan lebar. "Apa? Mas Adam menghajar mas Azam? Kok bisa? Terus gimana keadaannya sekarang?" tanya Ais dengan rasa terkejut.


"Semua ini karena kamu, Ais! Kamu tak memberitahu Mas jika sedang bersama dengan Hanafi. Mas pikir kamu sedang disembunyikan oleh Azam jadi ya begitulah. Mas langsung hajar Azam untuk mengakui dimana dia menyembunyikanmu. Tak taunya kamu tidur bersama dengan Hanafi di rumah kontrakan!"


"Iya, Mas Maafkan Ais. Sungguh ini diluar prediksi, Mas. Ais juga tidak menyangka jika akan terjebak disana. Semua itu karena Mas Hanaf yang takut dengan hujan dan gelap," keluh Ais sambil melirik kearah Hanafi.


Hanafi yang menyadari akan kekurangan yang dimiliki hanya menunduk diam tanpa kata. Andaikan saja Hanafi tidak takut dengan Hujan dan kegelapan, dia tidak akan membawa Ais masuk kedalam masalahnya.


"Ais, sungguh aku minta maaf. Semua ini salahku," ucap Hanafi dengan lemah.


Hujan yang datang secara tiba-tiba, terlebih jika Hanafi masih berada di dalam mobil akan membuatnya merasa trauma dengan sebuah kecelakaan yang membuat kakaknya mengalami kelumpuhan. Sejak saat itu Hanafi menyalahkan dirinya sendiri. Tidak sampai disitu saja, ternyata Hanafi harus dipukul dengan kenyataan jika sang kakak memilih mengakhiri hidupnya saat mengetahui ternyata dia mengalami kelumpuhan. Dari situ, Hanafi akan merasa trauma jika hujan turun dengan tiba-tiba.


Meskipun perbuatan mereka berdua bisa dimaafkan oleh pihak keluarga, tetapi tidak dengan warga yang telah mendengar kabar jika Hanafi dan Ais tidur bersama di rumah kontrakan.

__ADS_1


Suara keributan terdengar dengan jelas. Banyak warga yang saat ini sudah berteriak di depan rumah Hanafi, karena mereka tidak terima dengan Hanafi yang mempunyai status guru ngaji serta panutan untuk anak-anak mereka, ternyata mempunyai sisi buruk. Tidur bersama dengan wanita yang belum menjadi istrinya. Itu sama saja Hanafi sudah melakukan perzinahan.


"Bu Maryam keluar! Jangan sembunyikan anak ibu di dalam. Kami warga komplek menentang dengan keras apa yang telah dilakukan anak Ibu tadi malam!" teriak salah satu dari sekian pendemo di depan rumah Hanafi.


Semua orang yang berada di dalam rumah tentu saja merasa sangat terkejut dengan sekelompok orang yang datang dengan berteriak di depan rumah.


"Bu, itu warga ngapain kesini?" tanya Adam yang merasa heran.


"Ibu juga tidak tau, Dam. Aduh ... Pak ini gimana?" Ibu Hanafi merasa sangat panik.


"Bapak juga gak tau, Bu. Mungkinkah ini ada hubungannya dengan Hanaf dan Ais tadi malam?" tebak bapaknya Hanafi.


"Tuh kan ... ibu udah yakin jika kejadian tadi malam hanya akan dimanfaatkan oleh orang yang tak bertanggung jawab. Ibu yakin ada seorang yang telah mengolah kejadian itu menjadi gosip hingga membuat mereka mendemo kita. Hanaf, ini bagaimana?"

__ADS_1


Hanafi yang tidak tau apa-apa hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Hanaf tidak tau, Bu."


...***...


__ADS_2