
Sesampainya di kampus, Ais telah ditunggu oleh satu-satunya teman dekatnya. Siapa lagi jika bukan Jelita. Gadis dengan kacamata tebal serta rambut berkepang itu langsung melambaikan tangannya saat melihat sosok Ais yang berjalan sendiri melewati koridor kampus.
“Ais!” teriaknya.
Ais yang melihat serta mendengar nama dipanggil oleh Jelita langsung berlari kecil untuk menyambangi temannya itu. Meskipun Jelita terlihat seperti gadis culun, tetapi dia memilih senyum yang manis. Andaikan saja tak ada kacamata tebal dan wajahnya sedikit dipoles dengan bedak tipis, Jelita akan terlihat lebih cantik seperti namanya.
“Assalamualaikum, Lita,” sapa Ais setelah sampai didepan Jelita.
“Waalaikumsalam Ais. Sepertinya kamu sedang bahagia. Ada apa? Oh iya, tadi aku sempat lihat kamu turun dari mobil. Kamu diantar siapa? Kakak kamu?” tanya Jelita yang merasa ingin tahu siapa yang baru saja mengantarkannya. Jelita yang belum pernah melihat bagaimana sosok kakaknya Ais, meksipun Ais sering menceritakan sang kakak pada Jelita.
“Ah itu ... itu tetanggaku yang kebetulan satu arah, jadi aku numpang,” kilah Ais dengan sedikit gugup.
Mas Hanaf ... maaf untuk saat ini Ais harus menutupi status pernikahan kita. Bukan Ais tak ingin mengakui jika mas Hanaf adalah suami Ais, tapi untuk saat ini Ais benar-benar belum siap, Mas. Ya Allah, maafkan Ais.
“Oh ... tetangga. Aku pikir pacar kamu,” celetuk Jelita dengan senyum jahilnya. “Eh, gimana, kamu udah kerjain tugas dari dosen baru itu belum? Kalau belum, kita kerjain bareng ya? Tapi kalau kamu enggak mau juga enggak apa-apa, kok.”
“Oh iya, aku sampai lupa kalau masih ada tugas dari dosen Azam. Aku aja sampai lupa kalau ada tugas dari dia. Ya udah nanti pulang kuliah, kita kerjain bareng aja, tapi jangan di rumah aku ya. Aku takut nanti kamu enggak nyaman sama kakakku. Soalnya dia tuh galak,” ujar Ais.
Mas Adam ... maafkan Ais yang harus berbohong lagi. Ais juga belum siap semua orang tahu kalau mas Adam itu kakaknya Ais.
“Enggak apa-apa. Kita ngerjain tugasnya di rumahku aja. Kebetulan Mama sama Papa aku lagi enggak ada di rumah.”
Setelah terjadi sebuah kesepakatan, keduanya langsung menuju ke ruang kelasnya. Karena Ais tidak terlalu akrab dengan teman yang lainnya, dia hanya menempel pada Jelita. Begitu juga dengan Jelita yang tidak mempunyai teman akrab selain Ais, karena hampir teman satu angkatannya tidak menyukai penampilan Jelita yang dianggap culun. Beruntung saja Jelita bisa dipertemukan dengan Ais, sehingga dia tidak merasa sendiri lagi.
__ADS_1
“Ais, apakah kamu sama sekali belum mempunyai pacar?” tanya Jelita yang merasa penasaran status Ais. “Kalau belum, maukah kamu aku kenalkan dengan kakakku? Kamu tenang aja, dia ganteng dan pasti bisa bertanggung jawab. Hanya saja dia masih trauma dengan para wanita yang datang untuk menipunya.”
Seketika tubuh Ais membeku dengan mata yang telah membulat dengan lebar. Bahkan untuk menelan salivanya saja rasanya sangat berat.
“Ais ... kamu kenapa malah tegang seperti itu sih? Apakah ada yang salah dengan ucapanku? Aku hanya ingin memperkenalkanmu kepada kakakku. Apakah kamu tidak percaya denganku?”
“Bukan ... bukan begitu, Lita. Tapi sebenarnya aku ... ” Rasanya terasa sangat sulit untuk mengatakan jika saat ini dirinya telah menikah..
“Udah enggak usah takut. Kakakku orang baik kok. Cuma dia sedang menutup diri karena sering disakiti oleh para wanita. Tapi aku yakin saat dia mengenalmu, pasti dia akan merasa nyaman. Sama seperti yang aku rasakan saat ini. Kamu mau ya, cuma kenalan aja, kok.” Jelita masih berusaha untuk meyakinkan Ais agar mau dikenalkan dengan kakaknya.
Namun, Ais tetap berusaha untuk menolak keinginan Jelita, karena statusnya saat ini adalah seorang istri. Ada hati yang harus dia jaga, meskipun dia belum bisa berterus terang kepada Jelita jika sebenarnya dia telah menikah.
“Maaf Lita, aku tidak bisa karena aku ... ” Belum sempat Ais menjelaskan statusnya kepada Jelita, tiba-tiba seorang dosen telah masuk ke dalam ruang kelas. Terpaksa Ais tidak melanjutkan lagi apa yang ingin dia katakan pada Jelita.
Hampir selama materi berlangsung, Ais hanya menunduk tanpa sedikitpun ingin melihat kearah dosen yang sedang memberikan materinya. Itu semua karena dosen yang sedang memberikan materi adalah Azam, mantan suaminya.
Ingin rasanya Azam menyapa Ais, namun bibirnya terasa kelu. Wanita yang pernah pernah menjadi miliknya, kini telah menjadi milik orang lain. Semua itu karena kesalahannya yang tidak bisa memperjuangkan cintanya untuk Ais.
Ais ... mengapa hati ini rasanya sangat sakit saat kamu telah dimiliki oleh orang lain. Mengapa seolah aku tidak terima jika kamu menjadi milik orang lain. Ais ... jika waktu bisa diputar kembali aku tidak akan pernah mengikuti keinginan mama. Ais ... sungguh aku tidak rela jika harus memiliki anak dari rahim wanita lain, tapi Aku tidak bisa berbuat apa-apa Ais. Semua ini karena mama yang tidak adil padaku. Aku hanya menginginkan hak-ku. Ais taukan kamu jika sampai detik ini aku masih mencintaimu.
Jelita yang peka dengan pandangan sang dosen langsung menyenggol lengan Ais dan berbisik pelan padanya. “Ais, sepertinya dosen baru itu sejak tadi terus memperhatikanmu. Mungkinkah dosen baru itu terpesona denganmu?”
Lagi-lagi tubuh Ais langsung menegang. Dengan susah payah dia berusaha untuk menelan salivanya. “Lita ... kamu ngomong apa? Enggak mungkin pak Azam terpesona denganku,” lirih Ais.
__ADS_1
“Tapi sejak tadi dia terus memperhatikanmu, Ais. Lalu apa namanya jika dia tidak terpesona denganmu?”
“Mungkin itu hanya perasaanmu saja, Lita. Tidak mungkin seorang pak Azam terpesona denganku. Dia kan udah punya istri.”
Jelita langsung melotot dengan lebar saat mendengar ucapan Ais. Dia sangat terkejut mengapa Ais bisa tahu jika dosen baru itu telah memiliki istri.
“Ais, kok kamu tahu kalau pak dosen itu udah punya istri? Kamu kenal sama dia? Atau jangan-jangan kamu istrinya. Kalian kan sama-sama pindahan dari Universitas yang sama. Ais ... katakan itu tidak benar kan?”
Ais hanya membuang napas kasarnya dan langsung menepis apa yang dikatakan oleh Jelita, karena memang Ais bukanlah istrinya Azam.
“Bukan ... aku bukan istrinya pak Azam.”
“Lalu mengapa kamu bisa tahu jika dia udah punya istri? Ais .. jangan bilang pak Azam itu tetangga kamu ya?”
“Lita ... sebenarnya pak Azam itu ... ” Baru saja Ais ingin memberitahu siapa itu Azam, tiba-tiba suara deheman menyentuh telinganya.
Heemm ... heemm ...
Ais dan juga Jelita langsung tersentak dengan keterkejutannya. “Pak Azam,” gumam mereka berdua.
“Bagus ya, saya memberikan materi di depan sana, tetapi kalian berdua malah asyik mengghibah disini. Kalian berdua maju dan presentasikan apa yang saya jelaskan tadi!” ujar Azam yang telah berdiri di samping Ais.
“Tapi Pak ... ” protes Jelita.
__ADS_1
“Tidak ada tapi-tapian. Jika tidak mau, silahkan tinggalkan kelas ini!”
...###...