
Mama Maya menatap lekat pada Azam yang tiba-tiba muncul begitu saja, setelah menghilang tanpa kabar. Wanita itu dibuat geram dengan anaknya sendiri yang melepaskan Iza begitu saja. Bahkan dengan bodohnya dia bersedia membayar sejumlah uang yang seharusnya dibayar oleh Iza.
“Puas kamu sekarang, Azam” sentak mama Maya penuh emosi.
Azam tak lagi peduli dengan kemarahan mamanya. Tanpa kata, dia pun langsung pergi untuk meninggalkan rumah. Sementara itu mama Maya memilih menjatuhkan kasar tubuhnya diatas sofa.
Hatinya benar-benar sangat kacau, karena tidak bisa memberikan apa yang diinginkan suaminya.
“Apa yang harus aku lakukan? Azam sudah menalak Iza, itu artinya aku sudah tidak mempunyai kesempatan lagi untuk memiliki cucu dari rahim Iza. Lalu siapa lagi aku harus mencari siapa lagi untuk mendapatkan cucu, agar warisan ini tidak jatuh ke panti asuhan,” gumam Mama Maya pelan.
Hancur sudah semua pondasi yang telah dibangun oleh mama Maya, karena Azam memilih untuk melepaskan Iza.
“Dasar anak durhaka! Aku mati-matian mempertahankan agar dia mendapatkan bagian warisan ini, tetapi anak itu dengan mudahnya menghancurkan semuanya. Apa jadinya jika warisan ini benar-benar jatuh ke panti asuhan? Sia-sia semua pengorbananku!” gerutu Mama Maya dengan kesal. Tak ada lagi yang bisa dilakukan oleh Mama Maya selain pasrah karena dia memang sudah kalah.
Azam masih bisa mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh Mamanya. Dia tidak pernah menyangka jika ambisi sang mama untuk mendapatkan! warisan begitu sangat tinggi, hingga melakukan segala cara untuk mendapatkannya.
“Ma, untuk kali ini maafkan jiak Azam memilih untuk menjadi anak durhaka, daripada Azam harus menyakiti perasaan wanita lagi. Dan mulai saat ini Azam tidak akan menuruti keinginan Mama lagi!” tegas Azam sebelum benar-benar meninggalkan rumah mamanya.
Sebenarnya sangat berat untuk mengucapkan kata seperti itu kepada seorang wanita yang telah melahirkannya, tetapi kini Azam sadar jika apa yang dilakukan mamanya itu tidak benar. Hanya karena ingin mendapatkan warisan, Azam sampai mengorbankan kebahagiaan. Namun, kini Azam sadar bahwa harta warisan tidak akan menjamin kebahagiaan seseorang.
“Azam, pergi kamu! Percuma Mama berkorban untukmu, tetapi kamu sama sekali tidak menghargai usaha mama. Puas kamu sekarang kan? Silahkan kamu pergi kemanapun yang kamu mau, karena ditempat ini kamu sudah tidak memiliki apa-apa lagi!” usir Mama Maya dangan emosinya.
Azam sama sekali tidak keberatan dengan keputusan Mamanya. Dia sudah siap akan tinggal konsekuensi apa yang akan dia terima.
***
Ternyata acara resepsi itu terasa sangat melelahkan, sekalipun mereka berdua hanya duduk manis diatas pelaminan. Nyatanya kaki dan pinggang Ais terasa pegal, karena harus stay di tempat duduk hingga acara berakhir.
“Capek ya?” tanya Hanafi saat melihat Ais yang merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur tanpa ingin mengganti pakaian yang terlebih dahulu.
“Iya. Capek banget. Pinggang sama kaki Ais rasa pegel.”
“Ya udah ganti baju dulu aja, nanti aku pijitin. Tapi aku mau mandi dulu, udah gerah ini!”
“Tapi ini udah malam, Mas! Nanti masuk angin!” cegah Ais.
__ADS_1
“Baru juga jam 11, belum jam 2 malam. Biasanya juga mandi jam jam segitu.”
“Ya udah, terserah kamu aja, Mas!” Ais yang merasa lelah tidak tertarik untuk melanjutkan pembahasannya karena jawaban Hanafi sudah dianggap tidak sejalan dengan pembahasan awal.
Sepeninggal Hanafi ke kamar mandi, Ais benar-benar sudah tidak bisa menahan rasa kantuk yang telah menyerangnya. Perlahan matanya mulai menutup. Namun, baru saja matanya ingin menutup, tiba-tiba dia merasakan tetesan air di pipinya. Karena terasa dingin, Ais menyekanya dengan pelan.
“Ais, ganti baju dulu,” ucap Hanafi dengan pelan.
Mendengar suara tepat di depannya, Ais pun membuka kembali matanya. Dilihatnya wajah Hanafi sudah ada berada tepat di atas wajahnya. Bahkan Ais juga bisa merasakan hembusan nafas pria itu. Kedua mata saling bersitatap dengan mendalam. Bahkan Ais mengabaikan tetesan air dari rambut Hanafi yang membasahi pipinya. Cukup lama dua insan saling menatap penuh cinta hingga akhirnya tanpa disadari kedua bibir mereka telah menyatu. Sentuhan lembut mulai bergerilya untuk menjelajah tanpa celah. Hanafi begitu larut dalam ciummannya malam ini.
Pria yang semula masih malu-malu, kini telah berubah liar manakala telah berada diatas ranjang bersama dengan istrinya. Pria itu kini sudah bisa mengambil kendali dan telah menjadi seorang pilot yang handal untuk membawa istrinya terbang melayang.
Sejenak Hanafi melepaskan ciummannya dengan napas tersengal untuk menghirup pasokan udara yang hampir habis karena telah menggebu-gebu untuk menjalin bibir istrinya. Begitu juga dengan Ais yang hampir kehabisan oksigen karena mengimbangi permainan suaminya.
Menyadari akan kelakuan, dua insan malah menertawakan kegilaan mereka. Baru sajak ingin memulai babak baru tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.
Tokk .... tookk ... tookk
“Ais ... Hanaf, apakah kalian berdua sudah tidur? Maaf ibu mengganggu waktu kalian sebentar. Asa yang ingin ibu katakan kepada kalian berdua.”
Sontak keduanya langsung gelagapan ketika mendengar panggilan dari luar. Dengan cepat Hanafi bangkit dari tubuh Ais untuk membuka pintu, karena itu adalah suara ibunya.
“Ibu ... Ibu menangis? Ada apa, Bu?” tanya Hanafi mulai panik.
“Han ... tante Maryani kecelakaan. Sekarang ada di rumah sakit.”
Bola mata Hanafi langsung membulat dengan lebar karena terkejut dengan kabar yang disampaikan oleh ibunya.
“Innalillahi, kok bisa, Buk?”
“Tadi setelah acara selesai, Yani izin keluar swalayan untuk membeli sesuatu, tapi naasnya ada mobil yang nyerempetnya,” jelas ibunya.
Hanafi menyugar kasar rambutnya. Bahkan dia juga melihat suasana rumah telah riuh. Ada anggota yang menangis ada juga yang sedang bersiap-siap untuk ke rumah sakit. Namun, dalam hati Hanafi terasa sangat berat untuk melihat tentang keadaan bibinya, karena tidak tega untuk meninggalkan istrinya sendirian.
“Bu ... Hanaf ... ” Hanafi menahan ucapan karena terasa berat untuk mengungkapkannya.
__ADS_1
Sang ibu hanya mengangguk pelan dan mengerti apa yang akan dikatakan oleh anaknya. “Ibu tidak memintamu untuk datang melihat Bibi Yani malam ini. Ibu hanya sekedar memberitahumu saja, Han. Kamu dan Ais beristirahat saja dulu! Besok pagi saja jika ingin melihat keadaan bibi Yani. Maaf ibu sudah mengganggu aktivitas kalian. Ya udah lanjutkan lagi kegiatan kalian.” Ibunya pun berlalu meninggalkan Hanafi yang masih terpaku. Helaan napas panjang pun terdengar begitu berat.
“Sudahlah! Besok pagi saja! Bibi Yani, maafkan Hanaf, tapi Hanaf tidak bisa meninggalkan Ais malam ini,” gumamnya sebelum menutup pintu.
Langkah Hanafi terlihat gontai saat menuju ke ranjang tempat tidur. Pikiran kalut, karena dia harus memilih diam di rumah demi istrinya yang memang sedang membutuhkan dirinya.
“Ais, ” panggil Hanafi saat melihat Ais masih tetap berada di posisi semula. Dan saat dilihat, ternyata Ais sudah tidur dengan gaun resepsi yang masih melekat di tubuhnya. “Dia pasti kelelahan.”
Dengan penuh kelembutan, Hanafi mencoba untuk membuka gaun yang masih berada di tubuh istrinya. Mungkin karena terlalu kelelahan Ais tidak merasakan apa-apa saat gaun itu berusaha untuk dilepaskan.
Dua rasa bergejolak di dalam hati, membuat Hanafi sulit untuk memejamkan mata, sekalipun tubuhnya juga sudah terasa sangat lelah. Pikirannya tidak tenang karena terus terbayang akan keadaan bibinya. Namun, dalam keheningan malam tiba-tiba ponsel Hanafi berbunyi. Sebuah notifikasi pesan masuk ke dalam ponselnya. Saat dilihat itu adalah pesan dari ibunya yang mengatakan jika keadaan Bibi Maryani baik-baik saja. Hanya patah tulang yang rencananya akan langsung dioperasi malam ini juga. Ibunya Hanafi juga berpesan kepada Hanafi untuk tidak memikirkan tentang keadaan bibinya, karena sudah ada anggota keluarga lain yang menunggunya.
“Semoga saja operasi Bibi Yani berjalan dengan lancar. Amin.”
Setelah menyimpan kembali ponselnya di atas bantal, Hanafi segera menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Baru saja ingin memejamkan mata, tiba-tiba lampu kamar mati.
Jantung Hanafi berdengung dengan kencang. Bayang-bayang masa lalu satu persatu mulai bermunculan hingga membuat kepala terasa sangat sakit.
“Tidak ... tidak boleh!” racaunya.
Ais yang samar-samar mendengar suara Hanafi berusaha untuk me membuka mata. Betapa terkejutnya Ais ketika melihat suasana telah menjadi gelap gulita.
“Astaghfirullahaladzim .... Mas Hanaf.” Seketika Ais mengingat jika suaminya takut dengan kegelapan. Dengan cepat tangan Ais meraaba kesebelahnya untuk memastikan keadaannya sang suami. “Mas ... kamu disini kan, Mas?” Ais menjadi panik manakala tak mendengar sahutan dari suaminya.
“Kalau Mas Hanaf masih di sini, Mas Hanaf tenang dulu ya, Ais akan cari senter hp dulu!”
Ais segera meraaba diatas bantal karena di tempat itulah biasanya dia menyimpan ponselnya. Tak butuh waktu lama cahaya ponsel pun telah memberikan penerangan dalam kegelapan.
“Mas Hanaf, kamu enggak apa-apa kan, Mas?” Kini Ais bisa melihat tubuh suaminya sedang meringkuk dengan rasa penuh ketakutan. Dengan cepat Ais memeluk dan menenangkan suaminya yang benar-benar sedang merasa takut.
“Mas Hanaf, tenang. Disini ada Ais!”
“Ais ... aku takut! Aku takut Ais!”
Ais mengerat pelukannya, berharap sang suami bisa lebih tenang. Meskipun sulit dipercaya, tapi begitulah suaminya yang mempunyai Nyctophobia ( fobia gelap )
__ADS_1
“Enggak usah takut! Ada Ais disini!”
...###...