Aisyah Bukan Istri Mandul

Aisyah Bukan Istri Mandul
BAB 53


__ADS_3

Malam ini Hanafi mengutarakan niatnya kepada orang tuanya untuk pindah ke rumah yang telah dibelinya. Menurut Hanafi jika telah menikah lebih baik memisah dari orang tuanya, karena dia telah mempunyai sebuah tanggung jawab sendiri untuk keluarga kecilnya.


Keinginan yang sangat berat untuk diterima oleh ibunya, karena Hanafi adalah anak sematang wayang yang dimilikinya. Namun, sang ibu tidak bisa menahan, karena saat ini Hanafi telah menikah.


“Hanaf, apakah kamu yakin akan pindah rumah secepatnya?” tanya sang ibu yang masih belum rela untuk ditinggal oleh Hanafi.


“Iya, Bu. Sekarang Hanaf sudah menjadi seorang suami yang harus bisa bertanggung jawab atas keluarga Hanaf. Hanaf ingin mandiri, Bu. Lagian jarak rumahnya enggak jauh kok. Ibu bisa datang kapanpun yang ibu mau, karena rumah Hanaf akan selalu terbuka lebar untuk Ibu.”


Sang ibu hanya bisa menghela napas beratnya, karena merasa berat untuk merelakan anaknya pindah rumah.


“Ya sudahlah, terserah kamu aja. Yang penting kalian harus hidup bahagia. Jika ada masalah selesaikan dengan kepala dingin. Ibu tidak mau mendengar jika kamu menyakiti Ais. Awas saja jika kamu sampai berani untuk menyakitinya!” ancam ibunya.


Hanafi hanya tersenyum kecut saat sang ibu lebih mengutamakan Ais ketimbang dirinya. Padahal Hanafi-lah anak kandungnya, tetapi sang ibu lebih menyayangi Ais. Namun, Hanafi merasa bersyukur dan berharap perlakuan ibunya kepada Ais tidak akan berubah sampai kapanpun.


“Ais ... jika di rumah baru Hanafi ada menyakitimu, cepetan lapor ke ibu biar ibu ulek dia!” lanjut sang ibu pada Ais yang duduk disebelah Hanafi.


Bibir Ais tersenyum kecil, karena dia mendapatkan perlakuan hangat dari keluarga Hanafi. Bahkan ibu Hanafi sama sekali tidak mempermasalahkan status jandanya.


“Iya, Bu. Ibu tenang aja, nanti kalau Mas Hanaf menyakiti Ais, Ais akan segera melaporkan pada ibu.”


Angin malam semakin berhembus dingin, tetapi pasangan pengantin baru itu belum beranjak naik keatas tempat tidur, karena mereka berdua masih fokus pada salah satu drama yang ditontonnya.


Sebenarnya Hanafi melarang Ais untuk menonton drama yang dianggap hanya akan menambah dosa, karena ada beberapa adegan yang menodai matanya. Namun, karena Ais terus mengiba, membuat Hanafi tidak tega. Dengan berat hati Hanafi luluh dan memberikan izin.


“Ais, ini sudah malam. Ayo tidur!”


“Tunggu bentar lagi, Mas. Mas Hanaf kalau udah ngantuk, tidur duluan aja soalnya nanggung, bentar lagi end,” ucap Ais dengan mata yang tak berkedip, karena terlalu fokus pada layar televisinya.


“Apakah kamu sering menonton drama seperti ini?” tanya Hanafi ingin tahu.

__ADS_1


“Dulu sering, Mas. Tapi setelah pindah kesini, enggak ada waktu untuk menonton lagi.”


“Apakah kamu nontonnya juga berdua dengan Azam?”


Mendengar nama sang mantan, tubuh Ais mendadak membeku. Meskipun sudah tidak mempunyai perasaan apa-apa, tetap saja setiap kali nama itu disebut hati Ais terasa sangat sakit. “Enggak, Mas. Aku enggak pernah nonton sama mas Azam. Biasanya aku nontonnya sama temenku. Mas ... bisakah aku meminta tolong jangan pernah sebut nama dia lagi. Aku benar-benar tidak ingin mendengar nama itu, Mas.”


Hanafi mengangguk dengan pelan. “Iya Ais. Aku minta maaf telah menyebut nama dia. Aku tahu memang tidak mudah untuk menyembuhkan sebuah luka, tetapi aku berharap jika aku bisa menjadi penawar atas lukamu, sekalipun aku tak sempurna seperti dia.”


“Mas Hanaf ... harus berapa kali aku mengatakan kepada Mas Hanaf untuk tidak berbicara seperti itu. Bukankah Mas Hanaf pernah mengatakan jika kita berdua akan saling melengkapi. Tolong jangan pesimis, Mas. Aku yakin suatu saat nanti Nyctophobia ( pobia gelap ) itu akan hilang. Dan itu bukanlah sebuah kekurangan, Mas Hanaf ... tolong jangan berkecil hati ya.”


Hanafi pun hanya bisa mengangguk dengan pelan, berharap ada sebuah keajaiban yang mampu menghilangkan phobianya. Namun, saat mata Hanafi ingin menatap layar televisi tiba-tiba tangan Ais langsung menutupnya.


“Mas Hanaf jangan lihat!” ucap Ais dengan jantung yang berdebar.


Hanafi mencoba untuk menepis tangan Ais yang. “Ais ... apaan sih? Kenapa kamu tutup mataku? Kenapa, ada apa?”


“Pokoknya Mas Hanaf enggak boleh liat, kalau enggak mau mata mas Hanaf ternoda!”


“Astaghfirullahaladzim, Ais!” Mata Hanafi pun terbelalak dengan lebar. Dengan cepat dia mengambil remote untuk mematikan televisinya untuk menjaga matanya agar tidak semakin ternoda. “Nyebut Ais! Dosa tau nonton kayak gituan.”


“Kan cuma sekilas, Mas!” protes Ais.


“Meskipun hanya sekilas tetap saja dosa, Ais. Pokoknya aku nggak mau kamu nonton drama seperti itu lagi! Jangan messum, Ais?”


“Aku enggak messum, Mas! Lagian itu hanya sebuah ciumann aja, kok. Mas Hanaf harus sering nonton drama seperti ini biar lancar ciumannnya!”


“Tuh kan ... udah mulai messum. Aku pikir kamu itu adalah wanita polos, tapi gak taunya kamu seperti ini. Jangan-jangan kamu emang beneran messum!”


“Messum sama suami sendiri enggak apa-apa. Kan enggak dosa. Daripada messum sama suami orang.”

__ADS_1


Ya, setelah menikah kini Hanafi baru mengetahui satu sisi yang tak pernah ketahuinya. Bahkan Ais begitu rapat untuk menyembunyikan sisi lain yang dimilikinya. Diam-diam ternyata dia adalah seorang pemain handal.


Ais mampu mengobrak-abrik perasaannya, terlebih saat berada diatas tempat tidur. Sentuhan Ais mampu menyengat seluruh tubuhnya hingga menegang. Bahkan, saat ini tak ada rasa malu untuk Ais ketika melakukan sebuah penyatuan. Mungkin karena Ais lebih berpengalaman ketimbang Hanafi yang belum pernah melakukan penyatuan.


...***...


Malam panjang berlalu begitu saja. Sisa-sisa pergulatan membuat pasangan suami-istri terlelap dalam alam mimpinya, hingga suara Adzan berkumandang mereka berdua masih terlelap. Suara alarm yang terus bernyanyi tak sedikitpun mampu untuk membangunkan mereka berdua, karena keduanya benar-benar tengah terlelap.


“Hanaf .... Ais ... bangun!” Suara keras dari ibu Hanafi pun ikut membangunkan mereka berdua. Bahkan ketukan pintu yang digedor juga tidak membuat anak dan menantunya bangun.


“Ya ampun ... mereka ini tidur atau mati sih? Suara alarm di dalam kamar aja nggak dengar apalagi alarm dari luar. Dasar pengantin baru!” gerutu Ibu Hanafi, ketika usahanya tak membuahkan hasil.


“Sudahlah, Bu. Biarkan saja mereka, toh nanti juga bangun sendiri. Udah ayo kita sholat. Nanti keburu habis waktunya.”


“Tapi kalau dibiarkan mereka ujung-ujungnya nggak sholat, Pak!”


“Itu urusan mereka. Siapa suruh dibangunin nggak mau bangun. Itu salah mereka, Buk.”


Dengan berat hati Ibu Hanafi pun memilih untuk meninggalkan kamar anaknya yang telah digedor berulang kali tetapi tak membuat anak dan menantunya bangun. Begitulah jika masih baru yang lupa akan waktu.


Sebenarnya Ais mendengar gedoran pintu, tetapi saat melihat jarum jam di dinding, Ais merasa malu untuk menyahutinya, terlebih saat ini tak ada baju yang melekat ditubuhnya. Begitu juga dengan sang suami. Keduanya sama-sama polos, karena dua satu jam yang lalu mereka berdua sudah bangun. Bahkan mereka berdua juga sempat melakukan sholat malam. Namun, entah setan mana yang merasuki keduanya untuk melakukan penyatuan kembali, hingga akhirnya mereka berdua malah terlelap dengan sangat pulas.


“Mas ... Mas Hanaf... Bangun! Udah subuh, Mas.” Ais mencoba untuk menggoyangkan tubuh Hanafi.


“Ais ... bentar lagi. Mataku benar-benar masih lengket.”


“Mas, bangun! Kita harus sholat subuh, Mas. Ayo, bangun atau aku buka selimutnya!”


Seketika Hanafi langsung membuka matanya karena dia mengingat bagaimana keadaan tubuhnya saat ini yang tanpa sehelai benang yang menempel di tubuhnya.

__ADS_1


“Iya, iya aku bangun.”


...###...


__ADS_2