
Ais sangat terkejut dengan pengakuan Jelita yang mengatakan jika dia menyukai dosen Adam yang tak lain adalah kakaknya sendiri. Namun, sebisa mungkin Ais mencoba untuk menyembunyikan keterkejutan agar Jelita berpikir macam-macam.
“Ais, kok kamu malah diam aja. Aku lagi sedih karena enggak bisa bertemu lagi dengan pak Adam.”
Ais hanya menghela napas. Ais tidak tahu apa yang akan terjadi pada Jelita jika dia mengetahui Adam adalah kakaknya. Jika Ais berterus terang, dia takut akan membuat Jelita merasa kecewa karena Ais telah membohonginya. Padahal baru beberapa hari yang lalu sebuah kebenaran tentang dirinya yang telah menikah terkuak..
“Kamu tetap optimis, Lita. Semoga saja suatu saat bisa bertemu dengan pak Adam. Tapi ngomong-ngomong, mengapa kamu bisa menyukai pria seperti itu? Bukankah wajah pak Adam itu hanya pas-pasan dan orangnya daftar. Orang seperti itu enggak bisa diajak romantis, Lita!”
Sama seperti Mas Hanaf, Lita! lanjut Ais dalam hati.
Jelita langsung menautkan kedua alisnya, karena dia sangat heran dengan ucapan Ais yang mengatakan jika ketampanan dosen Adam hanya pas-pasan dan juga pria datar.
Menurut pengamatan Jelita yang sudah hampir dua tahun, dosen Adam itu menjadi salah satu kandidat dosen muda dan dosen ganteng di kampusnya. Banyak para mahasiswi yang mengidolakan dosen Adam, tetapi dosen Adam mengacuhkannya. Dan itulah yang menjadi alasan mengapa Jelita terus memendam perasaan yang dimilikinya.
“Ais ... kamu enggak tahu bagaimana pesona pak Adam. Mungkin karena kamu adalah mahasiswi baru jadi tidak bisa mengenali tentang dosen Adam. Sudahlah, mending kita masuk aja!”
Lita ... aku sangat mengenali tentang mas Adam, karena dia adalah kakakku. Kamu hanya mengenali luarnya saja, tetapi bisa mengenali sampai akar-akarnya. Kamu bisa memujinya karena kamu tidak tahu bagaimana tentang mas Adam yang sebenarnya, Lita! Dia itu Datar, hampir sama dengan Mas Hanafi.
***
Kabar tentang Hanafi yang telah menikah juga sudah menyebar ke rekan guru lainnya. Mereka hampir tidak percaya jika Hanafi yang tiba-tiba menikah, karena selama ini Hanafi tidak pernah dekat dengan wanita manapun.
“Selamat pagi Pak Hanafi. Tumben bawa bekal?” tanya Pak Budi, salah satu rekannya.
“Selamat pagi juga, Pak Budi. Oh ini ... ini bekal dari istri saya.”
“Ciee ... ciee ... yang udah punya istri. Kayaknya setiap hari udah gak akan ada traktiran makan siang, karena bandarnya udah bawa bekal,” timpal pak Budi.
Hanafi hanya tertawa kecil. Ya, selama ini hampir setiap hari Hanafi meneraktir beberapa guru untuk makan siangnya bersama. Baginya berbagai itu indah. Namun, untuk kedepannya dia tidak bisa sering-sering berbagai karena sekarang sudah ada istri sebagai tempat berbaginya.
__ADS_1
Baru saja Hanafi masuk ke dalam kantor guru, ponselnya terasa bergetar tetapi itu hanya sebentar. Dengan cepat Hanafi mengeluarkan ponsel dari sakunya. Saat dilihat satu panggilan nomor baru. Karena merasa penasaran Hanafi langsung menghubungi kembali nomor tersebut. Dan tak butuh waktu panggilan pun tersambung.
“Halo Assalamualaikum. Ini siapa ya?” tanya Hanafi saat panggilan telah terhubung.
“Walaikumsalam.”
Deg!
Jantung Hanafi seakan ingin berhenti saat mendengar suara dari seberang telepon. Meskipun tidak pernah mendengar suaranya lagi, tetapi Hanafi masih bisa menandai suara siapa itu.
“Iza,” gumamnya dengan pelan.
“Iza, Mas. Ini Iza.”
Dada Hanafi bergerumuh sangat kencang. Dia tidak menyangka jika Iza akan menghubunginya. Mungkinkah saat ini Iza sedang ada masalah, mengingat suaminya masih belum bisa mengikhlaskan Ais?
“Iza, ada apa? Mengapa tiba-tiba kamu menghubungiku? Apakah kamu sedang ada masalah?”
Sejenak Hanafi terdiam. Mengapa disaat dia telah mempunyai seorang istri, Iza datang kembali. Kenapa tidak kemarin-kemarin Iza datang padanya, sehingga Hanafi bisa membantunya.
Takdir yang begitu rumit. Cinta yang tak harapkan datang kembali saat Hanafi telah memberikan cintanya untuk Ais.
“Iza, maaf bukan aku tidak mau membantumu untuk mencari pekerjaan, tetapi untuk saat di tempatku mengajar belum ada lowongan lowongan. Tetapi jika kamu mau bersabar, aku akan membantumu mencari pekerjaan. Bagaimana?”
“Tidak apa-apa, Mas. Aku juga sedang berusaha. Sekali lagi terimakasih atas bantuannya. Maaf jika aku telah merepotkanmu.”
“Iya, enggak apa-apa, Iza.”
Karena tidak ada lagi yang ingin dibahas lagi, Hanafi pun memilih untuk mengakhiri panggilan telepon. Dia tidak ingin menciptakan celah untuk mengingat masa lalu yang telah terkubur dalam, karena saat ini ada hati seseorang yang harus dia jaga. Tak peduli bagaimana dengan jalannya, yang paling penting bagaimana mereka berdua bisa saling menerima.
__ADS_1
“Mas Hanafi, maaf aku tak punya pilihan lain lagi. Aku benar-benar terpaksa untuk minta bantuanmu, karena aku tidak tahu harus kemana. Aku disini tidak punya siapa-siapa,” ucap Iza, setelah panggilan berakhir.
Mungkin kali ini Iza akan terkesan mengemis pada Hanafi, karena dia tidak tahu akan untuk meminta bantuan kepada siapa lagi. Azam sudah pergi tanpa berpamitan sedangkan mama mertuanya sudah pulang ke kotanya. Tidak mungkin Iza pulang ke rumah orang tuanya dengan kondisi yang seperti saat ini. Iza tidak mau kedua orang tuanya mengkhawatirkan keadaan dirinya yang ternyata telah dicampakkan oleh Azam.
Tidak mudah rasanya bangkit seorang diri ditempat yang asing, tetapi Iza mencoba untuk tetap ikhlas dan tegar untuk menjalani takdir yang telah ditentukan kepadanya.
***
Setelah pulang kuliah Ais memutuskan untuk pulang ke rumah ibu mertuanya. Bukan karena takut untuk berada di rumah sendiri, tetapi dia ingin melihat bagaimana keadaan Ibu mertuanya yang sedang sakit akibat datang bulannya.
“Ais ... tunggu!” teriak Jelita yang berlari Untuk menghentikan langkah Ais.
Mendengar namanya dipanggil Ais langsung menoleh ke belakang dan melihat Jelita sedang mengajar dirinya.
“Lita, ada apa?”
“Kamu kok buru-buru sih? Ada apa?”
“Aku enggak buru-buru, kok. Aku cuma mau nunggu taksi aja.”
Jelita langsung menautkan kedua alisnya. Dia merasa heran karena Ais yang hendak menunggu taksi, karena biasanya selalu di jemput.
“Tumben nunggu taksi? Emang kamu nggak dijemput? Biasanya kalau enggak kakak kamu, ya suami kamu yang jemput.”
“Mereka sedang sibuk,” balas Ais.
“Ais, aku ikut sama kamu ya. Aku sedang ada masalah sama papa dan mamaku yang pulang tadi malam. Boleh kan, aku ikut pulang ke rumah kamu?”
Ais terdiam untuk sesaat. Dia merasa tidak tega jika menolak keinginan Jelita dan pada akhirnya sebuah anggukan kepala menjadi sebuah jawaban. “Ya udah kamu boleh ikut, tapi dengan satu syarat jika setelah sampai di tempat ibu mertuaku, kamu harus sopan.”
__ADS_1
“Oke, tidak masalah!” timpal Jelita.
...###...