
Huan dan Ferdi berhasil mengalahkan Soni, sesuai perjanjian tidak tertulis kalau mereka bisa dibebaskan dari tim. Sedangkan Soni tidak pernah bisa menerima kekalahan, dia semakin marah dengan perbuatan mantan timnya yang memilih untuk melepaskan tanggung jawab dan berniat akan membalasnya di kemudian hari bila mendapatkan kesempatan.
Semua sudah selesai, Huan menatap lurus melihat pemandangan taman yang sangat tidak terawat, seakan dia sedang berada di hutan belantara. Menghela nafas sambil menggelengkan kepala, suasana yang dulu juga pernah dialaminya sebelum menikah.
"Kamu menyukai pemandangan asrinya?" ucap Ferdi seraya menyerahkan secangkir teh kepada Huan.
"Tidak terawat dan seperti hutan. Apa ular tidak bersarang di sini?" sindir Huan membuat sang empunya tertawa.
"Benar. Dalam satu bulan ada empat sampai lima kali ular bertamu ke rumahku, bahkan ada ular kawin juga."
"Dasar jorok, minimal kamu tebang semak-semak itu."
"Untuk apa? Aku lebih suka seperti ini, rasa lelahku bekerja sedikit terobati dengan ini, seakan aku berada di hutan."
Huan mendengus kesal, percuma menasehati Ferdi yang ucapannya hanya masuk ke telinga kanan keluar dari telinga kiri. Dia menyeruput teh dan mulai berpikir. "Apa kamu yakin Soni tidak akan mengejar kita lagi?"
"Aku rasa dia akan kembali lagi, andai saja kita tidak kehabisan tenaga, pasti sudah berhasil membunuhnya. Dan yang paling aku sesalkan adalah kamu."
"Aku?" Huan menunjuk dirinya sendiri.
"Kemana kekuranmu yang seperti seekor macan? Sepertinya kekuatanmu berkurang semenjak menikah."
"Aku jarang berlatih, itu saja."
Dua orang itu bersantai dan menikmati tiupan angin yang menyejukkan, mereka juga mengobati luka yang memenuhi sekujur tubuh setelah bertarung dengan sengit melawan musuh.
"Pertarungannya sudah selesai, mengapa kamu belum pulang?"
"Aku tidak ingin membuat istriku cemas saat melihat banyaknya luka di tubuhku," jawab Huan seraya mengobati luka di bagian lengannya.
Ferdi mulai mengerti situasi yang dihadapi oleh temannya. "Biar aku tebak, apa istrimu tidak tahu pekerjaanmu di masa lalu?"
"Tidak."
"Benarkah? Kenapa kamu berbohong padanya?"
Huan menghentikan aktivitasnya yang mengobati lengannya, menatap Ferdi intens untuk beberapa saat. "Aku tidak ingin terjebak dengan masa lalu yang bisa membahayakan istri dan juga anak-anak."
Ferdi menghela nafas kemudian menepuk bahu Huan. "Kamu pria yang mencintai keluargamu."
"Tentu saja. Aku juga harus menjaga keponakanku," kata Huan.
"Keponakan? Kapan Kenzi menikah dan punya anak?" Ferdi mengenal kakak angkat Huan dan sedikit cerita dengan pria itu, hanya saling mengenal tapi tidak dekat.
Huan menatap lurus sambil membayangkan kejadian masa lalu. "Bukan anak kandungnya, anak yang dibawa oleh istrinya."
"Kamu menjaga anak sambungnya?" Ferdi mengerutkan kening tak percaya apa yang baru dikatakan oleh Huan.
"Kak Ken dan istrinya yang sedang hamil sudah meninggal dunia, saat kami pergi berlibur."
"Aku turut berduka cita, sepertinya aku banyak melewatkan sesuatu."
"Begitulah."
"Ceritakan istrimu," ujar Ferdi malah menjadi bumerang untuknya.
Huan yang tidak terima kalau istrinya menjadi konsumsi publik, langsung tangannya melingkari leher Ferdi dan menekannya kuat sampai sang korban merasa tercekik.
"Kami ingin membunuhku?" umpat kesal Ferdi setelah berhasil melepaskan cengkraman itu.
"Dilarang keras membicarakan istriku, untuk apa aku menceritakannya padamu."
"Kamu salah paham, Kawan. Aku ingin tahu, wanita mana yang sial menikah denganmu," tutur Ferdi sembari tertawa lepas.
__ADS_1
"Diam atau aku membuatmu diam dengan kepalan tanganku ini," ancam Huan.
****
Adiba tersenyum menyambut kedatangan para khadimah yang ternyata sangat merindukan dirinya, hal yang sama merasakannya juga. Sesekali dia melirik Ratu yang sedang bermain seorang diri, karena Raja asyik belajar dengan buku yang diberikan oleh kyai Abdullah.
"Selamat ya Adiba, kamu sudah jadi ibu," ucap Nunung yang tersenyum.
"Iya Nung, terima kasih sudah berkunjung."
"Sama-sama."
"Kami mengira kalau kamu akan menikah dengan ustadz Yusuf, tapi ternyata sama santri baru," celetuk Sri.
"Panjang ceritanya, namanya juga jodoh sudah di atur."
"Iya sih. Anakmu tampan sekali, apa sudah di beri nama?"
"Suamiku menamainya Zayn dan Zayden."
"Nama yang indah," sahut Nunung dan Sri bersamaan, mereka sangat gemas melihat anak kembar yang sangat tampan dan juga terlihat menggemaskan.
"Lihat kamu begini, aku juga mau jodoh dari Taiwan tapi yang muslim."
"Duh … Nung, mau kayak Adiba ya harus ngaca dulu toh," cerocos Sri.
"Berkhayal dulu gak apa-apalah," cetus Nunung.
Mereka yang berdebat membuat suasana menjadi hidup, Adiba tersenyum dan sesekali melirik Ratu.
"Gadis kecil yang bermain sendiri itu siapa? Aku baru melihatnya." Sri menunjuk Ratu, keningnya berkerut akibat rasa penasaran yang tinggi.
"Ooh, mereka itu keponakannya suami aku. Kedua orang tua mereka sudah meninggal tepat setelah satu hari pernikahanku, kami merawat mereka bagai anak sendiri," jelas Adiba bersedih dengan nasib anak-anak yang kehilangan orang tua, sama sepertinya dulu yang tidak memiliki arahan.
Ya, mereka bertiga berasal dari keluarga yang bermasalah. Hanya saja Adiba yang nasibnya paling menyedihkan di antara mereka.
"Kasihan dia main sendiri, apa aku boleh membawanya pergi? Sekaligus mengenalkannya ke khadimah lain." Sri sangat bersemangat ingin mengajak Ratu ikut bersamanya, dia sangat menyukai anak kecil.
"Aku tanyakan dulu pada Ratu."
"Jadi namanya Ratu?" tanya Nunung.
"Iya, dan kakaknya bernama Raja," sahut Adiba, dia melambaikan tangan dan memanggil gadis kecil itu. Sebenarnya merasa kasihan tak bisa menemani dengan kondisinya yang seperti ini, tapi dia sekarang tidak berdaya dan belum lepas empat puluh hari masa nifas.
"Iya Aunty, ada apa?"
"Sayang, kenalkan … ini teman-teman Aunty. Yang berkerudung coklat namanya aunty Nunung, dan kerudung putih namanya aunty Sri. Mereka mau jadi teman Ratu," jelas Adiba yang memperkenalkan teman-teman sesama khadimah.
Ratu tersenyum mencium satu persatu tangan teman auntynya, menjadi anak penurut membuatnya langsung di sukai.
"Daripada Ratu main sendiri, bagaimana kalau Aunty Nunung bawa ke dapur? Disana banyak khadimah yang pasti menyukai keberadaan Ratu."
"Boleh Aunty," sahut Ratu yang mengangguk setuju.
"Adiba, kami pergi dulu ya! Gak apa-apa 'kan kamu tinggal."
"Gak apa-apa kok Sri, jaga Ratu yaa."
"Iya pasti."
Adiba tersenyum sambil menatap kepergian mereka yang menghilang di balik pintu, salah satu anaknya terbangun dan menangis. Segera dia memberikan ASI untuk menenangkan anaknya yang menangis karena lapar, selang beberapa menit putra keduanya juga ikut menangis.
Adiba menyusui kedua anaknya dan tersenyum bahagia, menjadi seorang ibu dan seorang istri tunggal tanpa harus menjadi yang kedua. "Zayn dan Zayden terlihat seperti ayah mereka, hanya mataku saja yang mirip selebihnya Huan."
__ADS_1
*
"Ternyata buku yang dipinjamkan oleh kakek sangat luar biasa," gumam Raja setelah membaca habis buku itu. Menyandarkan punggungnya ke kursi untuk beberapa saat. "Aku harus mengecek Ratu, aku takut dia mengganggu aunty Adiba."
Langkah kecil itu beringsut dari ruangan itu, berjalan menuju tempat dimana aunty dan adiknya bermain. Setelah mengetuk pintu dan mengucapkan salam, dia masuk setelah di persilahkan oleh auntynya, celingukan melihat keberadaan adiknya yang tidak terlihat.
"Aunty, dimana Ratu?"
"Ratu pergi bersama teman-teman Aunty, katanya ke dapur bagian wanita. Kamu mau kemana?"
"Mau menyusul Ratu, Aunty. Ibu dan ayah sudah memberikan tanggung jawab mengenai Ratu, Raja akan menyusulnya dulu."
"Iya."
*
Ratu sangat bosan berada di dapur dan meminta izin pada para khadimah untuk keluar sebentar, dia berlari seorang diri dan tertawa bahagia. Hingga tawa itu terhenti saat tak sengaja menabrak anak kecil yang terjerembab ke lantai.
"Maaf, aku tidak sengaja." Ratu menundukkan wajahnya dan menatap remaja laki-laki itu sekilas.
"Kotor 'kan jadinya, kamu sih!" tegas remaja laki-laki menatap Ratu dengan kesal.
"Aku tidak sengaja."
"Lain kali jalan itu pakai mata," sarkas remaja itu menatap sinis.
"Aku sudah minta maaf, lagipula tidak sengaja," lantang Ratu yang tersulut emosi. "Jalan itu pakai kaki bukan mata," lanjutnya.
"Dasar bocah ingusan, jangan pernah menunjukkan wajahmu di hadapanku lagi," tutur remaja itu yang pergi meninggalkan tempat itu.
Ratu berbalik menatap punggung remaja laki-laki yang telah membuatnya kesal. "Ya … ya, pergilah yang jauh sana. Aku juga tidak ingin bertemu dengan orang galak sepertimu, huh," pekiknya sambil menolak pinggang. "Dia menyebalkan sekali, aku sudah minta maaf malah marah-marah," gerutunya.
"Kamu sedang apa disini?"
Sontak Ratu terlonjak kaget saat tangan kakaknya menepuk pundaknya. "Aku kesal dengan anak itu," sahutnya kemudian.
Raja celingukan dan melihat siapa yang dimaksud oleh adiknya. "Siapa?"
"Orang gila. Ayo pergi!" Ratu menarik tangan kakaknya dan menjauh dari tempat itu.
Raja segera menepis rasa penasarannya, inilah yang di takutkan bila sang adik di tinggal sendiri. Sikap adiknya sangatlah bar-bar, hanya dia yang tahu mengenai ini karena paman dan aunty nya hanya mengenal Ratu sebagai anak yang penurut.
"Masalah apa yang kamu ciptakan?"
"Masalah? Aku tidak melakukan kesalahan, sungguh."
"Jangan bohong Ratu, Kakak mengenalmu dengan sangat baik."
Ratu menghela nafas. "Tadi aku bosan di dapur, jadi keluar dan bermain sendiri. Tidak sengaja aku menabrak anak laki-laki yang lebih tua dari Kakak, aku minta maaf, eh … dia marah-marah gak jelas."
Raja menggelengkan kepala. "Tolong jangan buat masalah selama kita disini."
"Aku tidak mencari masalah, masalah itu yang mencariku."
Di usia yang masih kecil, Raja dituntut untuk membimbing adiknya di jalan yang benar. "Jangan pergi kemanapun, kalau mau jalan-jalan tunggu Kakak ataupun kakek. Mengerti?"
"Iya Kak."
"Kalian dari mana saja?" tanya Adiba yang menggendong salah satu anaknya, menatap dua kakak beradik yang juga menatapnya.
"Aku pergi mencari Ratu, Aunty."
"Apa Ratu sudah mengatakan kalau kamu disini? Takutnya aunty Sri dan aunty Nunung mencari."
__ADS_1
"Aku lupa bilang, Aunty." Ratu kembali berlari pergi tanpa menghiraukan tatapan sang kakak yang sebenarnya tidak ingin mengizinkan pergi.