Akibat Dilarang KB

Akibat Dilarang KB
Bab 115


__ADS_3

Hari yang paling ditunggu-tunggu oleh semua orang, hari yang akan dikenang sepanjang waktu, hari dimana ikatan dua keluarga akan di langsungkan. Semua orang sudah berkumpul di dalam ruangan itu, baik dari tamu undangan, kolega bisnis, dan lainnya, semuanya turut hadir dalam meramaikan acara pernikahan yang sebentar lagi akan di langsungkan. 


Semua orang sibuk mengurus pekerjaan masing-masing yang sudah dibagi terlebih dulu, tanpa terkecuali karena semuanya sudah memainkan perannya. 


Harapan mereka hanya satu, yaitu acara pernikahan berjalan dengan lancar tanpa ada halangan. 


Ratu membuka matanya dengan perlahan, menatap dirinya lewat cermin besar yang ada di hadapannya. Dia sangat tidak percaya, hasil make up di wajahnya membuatnya seperti orang lain. Dia sangat cantik dengan mengenakan kebaya putih, dan ada mahkota di atas kepala. Sesuai namanya, persis seperti seorang ratu yang nantinya akan menjadi ratu selama seharian. 


"Apa ini benar-benar aku?" Pertanyaan konyol yang diajukan oleh Ratu, masih tidak percaya dirinya sudah berubah menjadi cantik. menoleh kiri dan kanan beberapa kali, untuk melihat sisi yang ternyata sempurna. 


MUA itu tersenyum, dia juga pangling melihat Ratu yang begitu cantik dalam balutan kebaya berwarna putih, dan hasil maha karyanya sungguh luar biasa. "Itu berkat anda yang pada dasarnya sudah sangat cantik, aku hanya membantu memoleskan make up tipis." 


Ratu membalas senyuman wanita yang sudah merias wajahnya, namun tak bisa memungkiri jika hatinya sangat deg-degan. Memikirkan banyak hal membuatnya sangat lapar, namun belum sempat dia mengatakannya, sudah melihat aunty Adiba yang masuk ke dalam kamar dengan nampan yang berisi makanan di tangan. Seketika raut wajahnya menjadi sumringah, tatkala melihat apa yang ada di atas nampan itu, aroma yang menggugah selera bila tercium. 


"Aunty tahu kamu lapar, makanlah soto dan nasinya selagi punya kesempatan."


Ratu ingin melahap nya, tapi teringat akan make upnya yang bisa luntur. Dia tidak ingin kalau album pernikahan ada kesalahan, karena ini hanya akan terjadi sekali seumur hidup.


Adiba menautkan kedua alisnya, tidak memahami pola pikir dari keponakannya. "Ada apa? Kalau tidak suka bisa Aunty tukar menunya." 


"Tidak … jangan," ucap Ratu sembari menggigit bibir bawah sebelah kanan sambil menatap semangkuk soto dengan nasi hangat, pasti sangat nikmat sekali dan menari-nari ke dalam mulut. 


Adiba memahami apa yang ada di otak Ratu, melirik MUA dan memberikan kode isyarat dan Alhamdulillah di mengerti. 


"Tenang saja, kalau make upnya luntur dan takut rusak bisa saya perbaiki." 


Ratu tersenyum lega, mengambil nampan yang berisi makanan dan mengucapkan terima kasih pada aunty Adiba yang sudah memahami keinginannya. Dengan mencium aroma kuah soto yang khas seakan memanggil namanya untuk mengeksekusi makanan itu dan di campur dengan nasi akan bertambah nikmat plus kenyang. 

__ADS_1


Ratu yang mengalihkan kecemasan, deg-degan, juga gugup itu dengan makanan. Lain halnya dengan Bara yang berusaha tenang, menghafal ijab qobul dan berharap bisa sekali hembusan nafas. 


"Ini hari membahagiakan, tapi aku merasa gugup," batin Bara yang belum pernah mengalami gugup. 


Pintu terbuka mengalihkan seluruh perhatiannya, menatap seorang pria yang usianya beberapa tahun di atasnya, pria itu akan menjadi kakak iparnya. 


Raja masuk ke dalam menghampirinya, melihat seberapa persiapan sang mempelai pria. "Kamu sudah siap?" 


"Hem, aku sudah siap." Cairan bening yang mengalir dari pelipis dan juga dahi, menandakan situasi sebenarnya. Raja tersenyum, tahu kegugupan calon adik iparnya, dan berusaha untuk menghiburnya. 


"Cuma membaca ijab qobul, bukan sedang berperang hidup dan mati. Jangan cemas dan bersikap gentleman!" Setelah menepuk bahu Bara, Raja berlalu pergi meninggalkan tempat itu. Dia hanya belum ditempatkan pada posisi ini, cukup enteng mengatakan hal itu bila belum memiliki pengalaman. 


"Itu terdengar seperti kata menjatuhkan. Aku ingin lihat, bagaimana ekspresinya sebelum ijab qobul." 


Sebelum keluar dari persembunyiannya, Bara menarik nafas dalam dan mengeluarkannya secara perlahan, melakukannya sebanyak sepuluh kali. Demi meyakinkan dirinya untuk tidak melakukan kesalahan dalam mengucapkan kalimat itu. 


Pengucapan kedua baru lah Bara berhasil dan sekarang statusnya sudah berubah, tinggal melakukan peresmian di saat malam pertama. Ingin sekali dia melihat istri yang baru saja di persunting, gelagat tak sabaran itu di baca oleh beberapa orang dan akhirnya membolehkan pasangan baru suami istri untuk bertemu. Tak lupa Bara menyentuh ubun-ubun istrinya dan sebelah tangannya merapalkan doa agar melunakkan hati istri dan menjadikan pernikahan yang sakinah mawadah warahmah. 


Untuk pertama kalinya Ratu menyentuh tangan pria asing yang sekarang sah menjadi suaminya, bahkan masing-masing bisa merasakan keringat dan juga suhu dingin di telapak tangan mereka. 


Setelah selesai ijab qobul, kini mereka harus berganti pakaian untuk acara resepsi pernikahan. MUA meminta kedua pasangan suami istri itu mengganti pakaian mereka di dalam kamar. Ratu yang tak henti-hentinya bersikap was-was, baru pertama kali berganti pakaian depan orang lain. Begitupun dengan Bara, bukan was-was tapi di otaknya sudah memikirkan hal yang mesum saat takjub melihat bentuk tubuh yang selama ini di tutupi oleh gamis dan kerudung. 


Kedua pengantin sudah duduk di mandap singgasana mereka, menjadi raja dan ratu dalam sehari. Tidak banyak melakukan aktivitas, tapi rasa lelah itu sangat terasa, dan perut keroncongan juga menjadi hiasan. 


Ratu yang kembali lapar kembali tersenyum sumringah saat disodorkan makanan berat, berupa nasi dengan lauk rendang daging, orek tempe, sambal cabe hijau, ayam kecap, dan kerupuk. Menu komplit yang di antarkan oleh aunty Adiba yang memang memperhatikan urusan perut.


"Ayo turun dari singgasana mu, makan dulu!" ajak aunty Adiba. 

__ADS_1


Aku yang sangat lapar, sempat tergoda dengan tamu undangan yang makan tepat di hadapanku. "Mas, kita makan dulu yuk!" ajakku sambil berbisik. 


Bara tersenyum mendengar nama panggilan barunya. "Kamu panggil aku apa tadi?" 


"Mas." 


"Ayo Sayang, Mas juga sudah lapar. Masa tamu undangan yang makan, kita malah jadi penonton," balas Bara yang menggandeng tangan Ratu dengan mesra, membantu istrinya turun dari singgasana. 


Hari yang sangat melelahkan, bahkan acara berakhir jam lima sore. Tapi aktivitas di tempat itu masih berjalan, hingga keduanya memutuskan untuk beristirahat di kamar pengantin.


Bara tersenyum saat melihat istrinya yang tengah membersihkan make up, mendekati sang istri bermaksud untuk mengadakan ritual malam pertama. Bukan dengan kata-kata, tapi dia melakukannya dengan tindakan. Dengan sengaja memijat kedua bahu Ratu yang perlahan menjalar itu. 


"Aduh Mas, maaf …" Ratu mengerti lanjutannya. 


"Maaf kenapa Dek?"


"Aku lagi merah." 


Deg


Seakan kilatan petir menyambar di siang bolong, Bara yang sudah tak tahan dan berada di ujung meringis dengan nasibnya. 


"Berapa hari lagi?" 


"Lima hari lagi, ini baru hari kedua." 


Bara tak bisa memaksa, dia tahu bagaimana emosi wanita yang sedang datang tamu bulanan. Amat sangat mengerikan, bahkan singa saja kalah. 

__ADS_1


"Lima hari pasti berjalan lama," ringisnya yang gagal malam pertama. 


__ADS_2