Akibat Dilarang KB

Akibat Dilarang KB
Kesalku mendatangkan hikmah


__ADS_3

Aku sangat sibuk di dapur, mencampur beberapa bahan yang sudah aku beli ke dalam wadah secara berurutan. Dengan penuh hati-hati, aku melakukannya dengan sepenuh hati demi mengabulkan keinginan anak sulungku. Andai saja Lisa tidak memukul tangan Raja, sudah pasti aku tidak melakukan semua ini karena tahu harga bahan membuat brownies itu lumayan mahal bagiku. 


Dengan penuh keuletan, aku membuat adonan yang pernah aku pelajari di Taiwan. Ya, aku juga pernah di minta untuk menjaga toko kue dan berbagai roti lainnya. Ilmu yang kudapatkan dari  majikanku yang baik hati, rela memberikan beberapa resep kue dan brownies yang rasanya seperti kue mahal. 


Setelah adonan tercampur rata, lalu aku mengukus brownies dengan waktu yang di tentukan. Aku membuat topping di atasnya dengan parutan keju, coklat, dan lain-lain. Bahkan tampilan browniesku lebih indah dan menggugah selera. 


Setelah menunggu beberapa menit, brownies yang di kukus aku angkat dan membiarkannya dingin, barulah memberikan topping sesuai selesa. Bahan yang aku beli membuatku bisa membuat tiga buah brownies, satu untuk di makan dan dua lainnya ingin aku letakkan di warung. Aku berharap kalau brownies yang sudah ku potong dan masukkan ke dalam plastik nantinya ingin ku titipkan di warung-warung dan meletakkan harga ekonomis. 


"Wangi sekali, tercium sampai ke dalam kamar." 


Aku tersenyum saat mas Angga menyukai aroma dan bentuk dari brownies buatanku, karena selama ini aku tidak pernah membuatnya dan ini kali pertama aku mencoba resep dari mantan majikanku di Taiwan. 

__ADS_1


"Cobain dong Mas, baru kemudian menilainya." 


Aku tersenyum melihat suamiku bersemangat ingin mencicipi brownies buatanku, di gigitan pertama matanya kedap-kedip dan tersenyum sumringah. 


"Browniesnya enak, bahkan ini lebih enak dari yang di beli Lisa." Ucap mas Angga memuji kue buatanku.


"Syukurlah kalau Mas suka. Semua bahan tadi aku buatkan brownies dan dapat tiga loyang, dua loyang sudah aku potong dan memasukkannya ke dalam plastik, ingin menitipkan ke warung-warung." 


"Wah, ide kamu sangat bagus. Selama ini aku tidak pernah melihatmu membuat brownies, darimana kamu belajar sampai bisa seenak ini? Bahkan, toko roti di sini masih kalah jauh." 


"Oh ya? Kue apa saja yang kamu kuasai?" 

__ADS_1


"Aku bisa membuat berbagai kue, bahkan satu adonan roti juga bisa diolah dengan bermacam jenis." 


"Bagaimana kalau kita membuat usaha kue? Siapa tahu berhasil dan mempunyai peluang, dapat bersaing dengan toko-toko mewah." 


"Benar juga, tapi kita tidak punya modal Mas." Aku sedikit ragu dengan modalnya, bisa saja menggunakan tabungan masa depan dari anak-anakku, tapi aku takut jika mengalami kerugian dan bangkrut. 


"Aku akan gadaikan motor milikku." 


"Jangan Mas, aku takut kue buatanku tidak di minati. Lagipula itu motor satu-satunya yang kita punya, dan setelah di jual Mas mau pakai apa?" 


"Tapi kita masih punya sepeda ontel, Mas akan perbaiki dulu di bengkel dan membantu berjualan." 

__ADS_1


Aku melihat keyakinan dari suamiku, semangatnya yang ingin membuka usaha membuat keraguanku turut menghilang. 


Aku memasukkan beberapa potong brownies dan menyuguhkannya untuk ibu dan Lisa, tak lupa yang paling utama untuk Raja. Namun, niat baik ku malah ditolak oleh mereka dan menganggap kalau brownies ku tidak enak. Karena tidak ingin ambil pusing, aku kembali mengambilnya dan dimakan habis oleh mas Angga. 


__ADS_2