
Mau menghubungi kembali untuk meminta penjelasan saja aku tak sanggup, hatiku hancur berkeping-keping. Aku memaafkan kesalahan mas Angga yang pernah mengacuhkanku dan juga anak-anak, tapi dia kembali membuat kesalahan baru yaitu mengkhianati aku.
Kedua mataku masih terbelalak tak percaya, masih terngiang apa yang aku lihat barusan. Tidak ada yang bisa menggambarkan kehancuran hatiku saat ini, bahkan untuk menangis saja air mataku tidak keluar sama sekali. Dadaku sesak … sangat sesak, bahkan aku lupa dengan kedua anakku.
Aku melamun, pandangan lurus kedepan dan juga kosong. Aku tak tahu apapun selain bayangan itu terus menari-nari dalam pikiranku. Entah berapa lama aku seperti itu, rasanya duniaku berhenti seketika. Suami yang sudah aku percayakan telah mengkhianati aku, pantas saja tidak ada kabarnya selama ini.
Tari terus melamun dengan tatapan kosong, begitu banyak cobaan yang dia hadapi saat ini dan harus menelan pil pahit mengenai perselingkuhan dari suaminya. Angga selalu saja membuat kesalahan yang kali ini tidak bisa dia maafkan, dia mentolerir sikap acuh tapi tidak dengan kekerasan rumah tangga dan juga pengkhianatan tak berdasar.
Seorang wanita paruh baya langsung menerobos masuk, telinganya sangat sakit mendengarkan tangisan Raja yang tanpa henti. Dia sedikit terkejut juga kesal pada Tari yang hanya melamun tanpa melakukan apapun, hal itu semakin membuat darahnya mendidih. Dengan sengaja dia melemparkan sandal tepat di wajah Tari, akhirnya sadar dengan cara perbuatan kasar.
"Heh, apa melamun buat kita kenyang? Masak sana!"
Tari menoleh menatap ibu mertuanya yang bertolak pinggang, dia terdiam tanpa bereaksi apapun dan kembali melamun.
__ADS_1
"Heh, ada apa dengan anak ini? Tidak sepertinya dia diam? Biasa dia akan melawanku setelah apa yang aku lakukan tadi." Gumam si ibu mertua yang ikutan bingung, ada yang lain dari menantunya yang tidak dia ketahui. Hatinya mulai tergerak, segera menggendong Raja dan memberikannya susu formula. Bahkan dia sendiri yang mengerjakan pekerjaan rumah dan juga merawat kedua cucunya.
Merasa ada yang tidak beres, takut kalau Tari kerasukan atau bisa jadi ada hal yang lebih menakutkan lagi. Dia mencoba menghubungi Lisa, tapi sampai sekarang pun anak bungsunya tidak pernah mengangkat telepon darinya, dia bingung dengan langkahnya.
Di malam harinya, sang ibu mertua melihat Tari yang masih dalam posisi yang sama tanpa beranjak dari sana. Hal itu membuatnya segera berlari meminta pertolongan pada ustadz atau ustadzah.
"Tolong Bu ustadzah, karena dari tadi siang Tari terus saja melamun bahkan posisinya tidak berubah."
"Tari, mengapa kamu melamun?"
"Eh, kenapa banyak orang disini?" tanya Tari yang linglung. Segera dia beranjak dari posisinya dan celingukan mencari keberadaan kedua anaknya. "Bu, dimana anak-anak ku? Aku harus memberi mereka makan, pasti sudah lapar." Baru saja dia hendak berdiri, tiba-tiba tangannya dicegah.
"Anakmu sudah tidur, lihat jamnya." Jawab ibu mertua yang melembut.
__ADS_1
"Sudah malam?"
"Apa yang terjadi?"
Sekilas pertanyaan itu mengingatkan Tari pada rasa sakit yang teramat dalam, tiba-tiba dia menangis mengeluarkan seluruh yang ada di dalam hatinya saat ini. Hal itu membuat orang lain bingung mengapa Tari sangat dramatis.
"Ada apa Tari?" tanya ustadzah, sedangkan ibu mertuanya menunggu jawaban yang keluar dari mulut menantunya.
"Mas Angga Bu … mas Angga selingkuh." jawab tari yang menangis, jeritan hati yang tidak bisa diukur.
"Itu tidak mungkin."
Tari berlari keluar dari rumah menuju lapangan, hal itu diikuti oleh semua orang yang penasaran. Di sana mereka terkejut melihat wanita itu berteriak histeris mengeluarkan isi hatinya, teriakan itu sangat memilukan bagi seorang wanita, istri, dan juga ibu yang terus menuntutnya.
__ADS_1