
Setelah melihat situasi aman, Huan sangat kesal dengan serangga yang menggigitnya. "Serangga sialan, kalian berani hanya berkelompok, kalau bisa kita by one," umpatnya yang kemudian beristighfar karena terbawa emosi pada hewan yang sebenarnya tidak bersalah, kesalahan terjadi karena ulahnya sendiri yang tak sengaja mengacaukan sarang hewan kecil itu.
Di sepanjang kaki melangkah, Huan berpikir bagaimana dia bisa bertemu dengan Adiba. Namun, berpikir terlalu keras maah membuatnya lapar. "Bukan solusi malah perutku berbunyi sebelum waktunya." Dia memutuskan untuk kembali ke asrama dan melihat apakah ada sisa uang.
Huan mencari setiap selipan pakaiannya, kali aja dia menemukan uang. Namun, dia baru menyadari kalau sudah kehabisan uang. "Kenapa uangku habis di saat genting begini, mana belum waktunya makan." Mengeluh pun percuma, minta makanan pada teman sekamar bukanlah solusi yang tepat," gumamnya.
Di langkahkan kakinya menuju dapur dan melihat para pria yang belum melakukan apapun, dengan terpaksa mengendap-endap menuju dapur milik wanita yang mungkin memasak.
"Hai ladies, maaf menganggu kalian." Huan menyapa beberapa khadimah yang memasak, dan tatapannya berhenti untuk beberapa saat melihat Adiba. Dia teringat kalau saat ini keadaannya lebih genting. "Jangn ada yang berteriak atau melaporkanku, aku kesini bukan untuk menggoda kalian," jelasnya dengan raut wajah yang memelas dan kedua mata berbinar menaruh harapan besar. "Aku lapar, apa kalian punya makanan yang bisa aku makan?"
Para khadimah itu terdiam melihat ketampanan Huan, segera mereka menundukkan kepala menahan pandangan.
"Kenapa tidak ke dapur khusus laki-laki? Kamu melanggar aturan, bagaimana kalau sampai bu Nyai tahu." Adiba menatap Huan sekilas, dia kesal ada seorang pria yng berani masuk ke dalam dapur khusus wanita.
"Mereka belum memasak, dan tidak ada makanan disana. Aku sangat lapar tapi tidak bisa memasak," terang Huan yang sejujur-jujurnya karena urusan perut nomor satu. "Berbaik hatilah padaku, tidak ada niat lain selain meminta sedikit makanan."
Adiba menggelengkan kepala dan berjalan mengambil beberapa potong singkong goreng, dia menyuguhkannya pada Huan. "Ini untukmu, aku baru menggorengnya. Sebaiknya kamu pergi, jangan sampai bu Nyai melihatmu ada di sini!"
"Apa ini bisa di makan?" Huan mencium aroma singkong goreng, karena dia tidak pernah memakannya.
"Singkong goreng, itu cukup mengenyangkan sama seperti nasi, roti, dan sagu."
"Terima kasih." Huan yang hendak menyuapi singkong goreng ke dalam mulutnya, teringat bila ini saatnya dia menanyakan Adiba mengenai perjodohan itu. "Adiba."
"Iya."
__ADS_1
"Ada yang ingin aku bicarakan padamu, ini penting."
"Bicarakan saja di sini, aku tidak ingin menimbulkan fitnah."
"Baiklah, apa bisa kita sedikit menjauh?"
Adiba tampak berpikir beberapa saat, kemudian mengangguk menyetujui perkataan Huan. "Waktumu tidak banyak, katakan ada apa?"
Huan mulai bingung mau memulai pembicaraan dari mana, ini menyangkut urusan pribadi gadis itu sedangkan posisinya hanya pria asing. "Maaf jika aku lancang, apa kamu bahagia dengan perjodohan dengan Yusuf?"
"Bukan urusanmu. Aku tidak ingin membahas masalah pribadi denga orang asing, jadi aku meminta padamu untuk tak ikut campur."
"Aku tahu. Yusuf sudah memiliki seorang istri dan dia sangat mencintai istrinya, apa kamu sanggup hiduo dengannya?"
Huan menatap kepergian Adiba, memang dia sudah lancang menanyakan hal yang bersifat sensitif. Dia merekam bagaimana tatapan tatapan gadis itu, seperti ada hal yang di tutupi. "Walaupun sebagian dari wajahnya tertutup, tapi aku bisa membaca raut matanya.
Sementara di sisi lain, Adiba berlari masuk ke dalam kamarnya di rumah milik sang paman. Dia menangis dengan pertanyaan yang di ajukan oleh Huan, air mata yang tidak bisa di tutupi namun tak ingin di lihat oleh orang lain.
Adiba membuka cadar yang menutupi sebagian wajahnya, dia menangis sambil mengingat bagaimana perjodohan itu berlangsung. Ya, dia tahu kalau Yusuf mencintai istri pertamanya yang bernama Aisyah.
Saat malam itu, tidak ada pria yang ingin meminangnya apalagi dengan masa lalu yang buruk. Adiba pernah di lecehkan oleh ayah tirinya, dan kehilangan keperawanan saat dia remaja. Hampir putus asa membuatnya ingin mengakhiri hidup, namun paman dan bibinya datang menyelamatkan hidup dan memberinya tempat tinggal. Kebaikan dari paman dan bibinya, sekaligus pemilik pesantren membuatnya hidup lebih baik. Belajar agama, dan perlahan melupakan kejadian itu.
Saat usia yang pantas seorang gadis untuk menikah, tidak ada pria yang mau meminangnya dan bahkan menolak lamaran hanya karena masa lalu perlahan terkuak. Dia merasa bersalah dan membuat malu paman dan bibinya karena masa lalu yang terus saja menghantui. Hingga dia pasrah dan hanya bertawakal kepada sang Kuasa.
Hanya satu pria yang mau melamarnya, dia Muhammad Yusuf. Pria tampan yang ikut partisipasi mengajar di pesantren yang di kelola oleh paman dan bibi Adiba.
__ADS_1
Adiba awalnya menyukai perjodohan itu, tapi dia kecewa saat tahu calon suaminya telah beristri dan lebih menyakitkan kalau perjodohan itu di usulkan oleh Aisyah, istri Yusuf. Mau kecewa pun percuma, agar bibi dan pamannya tidak malu sekaligus membalas budi, dia rela untuk menikah dan tak masalah menjadi yang kedua.
Terdengar suara ketukan pintu kamar, segera Adiba menyeka air mata saat tahu itu suara bibinya. Segera dia membuka pintu, memperlihatkan wajahnya yang tidak di tutup. "Iya Bi, ada apa?"
"Loh, kok mata mu bengkak?"
"Ini kemasukan debu Bi, tadi Adiba membersihkan rak buku."
"Hem, ya sudahlah. Bibi kesini mau pastikan sekali lagi, bagaimana perasaanmu dengan Yusuf?"
Ingin sekali dia mengatakan bahwasanya menolak pernikahan yang sebentar lagi akan di adakan, tapi dia juga mengingat budi dan tidak ingin memberi beban tambahan pada paman dan juga bibinya.
"Seperti ari mengalir Bi, Adiba menerima perjodohan itu."
"Kamu masih punya waktu, Sayang. Yusuf sangat mencintai istrinya, kamu sangat tahu niatnya menikahimu, mereka ingin anak."
"Adiba tahu Bi, bukankah jodoh sudah di atur? Bila Yusuf adalah jodohku, maka aku akan menerimanya."
Wanita paruh baya menatap sendu keponakannya, memeluknya di dalam dekapan mengingat status Adiba sebagai anak yatim piatu. "Kamu sudah seperti Suci dan Ibrahim, sudah Bibi anggap seperti anak kandung sendiri. Jangan karena budi kamu mengorbankan perasaan dan juga mengkhianati hatimu, katakan yang sebenarnya sebelum hari itu tiba!"
Adiba meneteskan air mata, dan menyekanya dengan cepat. Menatap kepergian bibinya yang mulai menjauh, segera dia menutup pintu dan kembali menangis. "Ya Allah ya Tuhanku, bila Yusuf adalah jodohku, berilah aku keikhlasan menerima takdir darimu," lirihnya.
Huan tak sengaja mendengar para khadimah yang membicakan pernikahan Adiba dan Yusuf, mereka bergosip setelah kepergian Adiba.
"Kasihan sekali Adiba, dia terpaksa menerima perjodohan ini. Aku akan membantunya, mungkin dia jodohku," kekeh Huan yang segera pergi dari sana.
__ADS_1