
Kegaduhan yang terjadi di rumah Tari terdengar oleh semua orang, satu komplek menjadi heboh. Salah satu di antara mereka menghubungi polisi untuk menindak lanjuti, seorang pria yang melihat bukti jika ibu Angga yang bersalah. Saat dia mendengar jeritan yang memilukan itu, dia melihat ke arah jendela dan melihat wanita paruh baya yang menusuk perut Tari dengan gagang sapu, kesaksiannya itu akan berguna membawa hal ini ke kantor polisi. Pria itu bernama Satrio, dia terlambat untuk menolong Tari yang menjadi korban kekerasan dari ibu mertua.
Ibu Angga sebenarnya sangat takut, tapi dia terus menutupi rasa ketakutannya agar tidak di curigai sebagai dalang atas penganiayaan Tari. Dengan santainya dia berpura-pura sedih sambil menggendong kedua cucunya, mengeluarkan air mata buaya untuk menipu semua orang.
Tapi, para tetangga tak percaya karena mereka mendengar pertengkaran sebelum Tari di larikan ke rumah sakit.
"Gak perlu drama lagi Bu Weni, kami dengar teriakan Ibu yang terus menghina menantu Ibu."
"Itu saya lakukan untuk membela diri." Elaknya.
"Dengan menghantam perut menantumu dengan gagang sapu?" Satrio maju ke depan membelah kerumunan, dia membawa dua orang polisi membuat wanita paruh baya itu takut.
"Jangan asal nuduh kamu."
"Saya gak nuduh sembarangan dan punya rekamannya." Satrio menunjukkan video pada bu Weni yang semakin berkeringat dingin, sudah ketahuan dan tidak bisa mengelak lagi.
Kedua polisi itu membawa bu Weni mengamankannya ke kantor polisi, para tetangga yang melihat hal tidak memiliki simpati karen membenci wanita paruh baya yang selalu menebarkan kebencian mengenai menantunya. Mereka sangat bersyukur kalau wanita itu sudah di bawa ke kantor polisi dan berharap mendapatkan hukuman berat.
Sementara disisi lain, Angga sangat mencemaskan keadaan istrinya dan melupakan panggilan telepon yang ternyata banyak panggilan tak terjawab. Hingga suara berisik itu membuatnya kesal dan melihat banyak panggilan tak terjawab dari Siska.
"Ada apa?"
"Halo mas, kenapa gak di angkat sih."
"Hubungi aku nanti saja, aku sibuk!"
__ADS_1
"Ada yang ingin aku katakan mas, ini penting!"
"Cepat katakan!"
"Aku positif hamil mas."
"Apa? Bagaimana bisa?" Angga mengusap wajahnya dengan kasar, dia tak tahu permasalahan semakin melebar. Dia tidak ingin menceraikan Tari, karena istrinya itu sudah sempurna dan sangat sulit mencari yang seperti itu. Dia sudah sangat khawatir bagaimana kondisi istrinya, ditambah lagi Siska hamil seperti bom waktu.
"Ya bisalah, hampir setiap malam kita melakukannya."
Angga terdiam seraya mengatur nafasnya yang tidak beraturan, ingin sekali melempar ponsel tapi tak mungkin.
"Bagaimana mas? Kamu harus tanggung jawab lho."
"Tanggung jawab kamu bilang? Kita kan sudah sepakat dari awal atas dasar saling suka, aku juga menyuruhmu pakai KB."
"Sudahlah Siska, jangan menambah bebanku."
"Apa? Jadi aku ini bebanmu mas? Enak banget kamu, setelah dapat semua dari aku, kamu pergi gitu aja tanpa tanggung jawab."
"Gugurkan saja janin itu, selesaikan."
"Aku gak mau tahu ya mas, kalau dalam dua hari kamu belum ke sini? Maka aku sendiri yang akan mengunjungimu di sana, bersiaplah!"
Tut … tut … tut
__ADS_1
Sambungan telepon terputus dengan sepihak, Angga yang tidak terima melempar ponselnya ke dinding. Dia mengusap wajahnya karena permasalahannya semakin meluas, sangat mencemaskan dan mengkhawatirkan Tari berharap istrinya itu dan juga calon anaknya tidak kenapa-napa.
Tidak lama kejadian itu, seseorang berlari menghampirinya dengan membawa berita yang sangat penting. Angga sangat penasaran mengapa tiba-tiba orang itu datang sampai ke rumah sakit.
"Ada apa Jono?"
"Ibumu masuk penjara atas tuduhan penganiayaan kepada menantunya."
"Apa?"
Angga semakin kalap dengan permasalahan yang datang bertubi-tubi, antara harus menemani istrinya yang sedang melawan kematian atau menjenguk ibunya yang ditahan di kantor polisi.
"Aarghh." Angga berteriak hingga akhirnya memilih ibunya, langsung bergegas menuju kantor polisi.
Sedangkan Tari yang menjalani operasi tanpa sadar mengeluarkan air matanya, dokter dan suster yang menangani saling melirik dan kembali melakukan pekerjaan mereka dengan sebaik mungkin.
Tari berada di sebuah taman yang sangat indah, dia berjalan-jalan dan tersenyum melihat dunia taman yang sangat indah yang baru pertama kali dilihatnya. Menyusuri tempat itu dengan raut wajah yang tersenyum, namun langkahnya terhenti saat merasakan pakaiannya di tarik.
Tari tersenyum dan berjongkok menyamakan tinggi anak kecil yang berjenis kelamin perempuan. "Hai, siapa namaku Sayang?"
Beberapa kali Tari menanyakan nama tetap tak di jawab oleh gadis kecil itu, dia terkejut mendapatkan pelukan mendadak.
"Ibu, aku mencintaimu."
Tari terdiam beberapa saat dan melepaskan pelukannya, memperhatikan wajah anak itu yang sangat imut dan memakai pakaian putih. "Kamu panggil aku apa?"
__ADS_1
"Ibu, aku mencintaimu." Ucap gadis kecil yang tersenyum cerah dan mencium kedua pipi Tari dengan sangat lembut.
Tari meneteskan air mata saat dia menutup mata beberapa detik dan setelah membukanya tak melihat gadis kecil itu.