
Terdengar suara gemericik air hujan kini mulai deras. Sore beriring kabut mendung. Awan tak kuasa menampung air di dalam perutnya. Melepaskan satu persatu tetes ke bumi membuatnya lega. Setiap cuaca terkadang menyebabkan rasa. Masih kurang percaya dan menjadi salah satu korbannya.
Sejujurnya Ratu tak begitu menyukai hujan. Suara guntur dan derasnya air semakin membuat mencekam. Dia lebih menikmati gerimis kecil hujan dan pasca hujan itu reda. Mendamaikan. Menyejukkan. Dingin yang menghangatkan. Suasana yang selalu di inginkan.
Walaupun begitu, Ratu tidak sepenuhnya membenci cuaca. Dia malu karena akhirnya tak bisa menyembunyikan rasa takut kala itu. Betapa tidak, dia termakan dan terjebak dengan omongannya sendiri, memikirkan nasibnya kedepan yang sepertinya mustahil terjadi.
Ratu cukup ketakutan, selalu memilih menguatkan diri sendiri dengan menggenggam tangan. Tak banyak berkutik, mengakui kelemahannya yang begitu cepat mengambil keputusan. Sekarang dia terjebak, tak bisa mundur maupun maju, benar-benar harus menyelesaikan sendiri permasalahannya.
"Bagaimana ini?" pikirnya sambil menggigit ujung jari. "Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, aku terjebak."
Setengah jam bermain dalam pikiran, Ratu beranjak dari duduknya dan memilih untuk menemui kakaknya. Yah, seperti yang kalian bayangkan kalau dia meminta keringanan. Memang menginginkan untuk menikah, tapi tidak adanya calon suami menambah beban yang pundak.
"Ada apa menemuiku?" tanya Raja menoleh di iringi kilatan petir yang menyambar, suasana semakin mencekam apalagi lampu di ruangan itu tidaklah terang.
"Kak, setelah aku berpikir. Kalau aku … aku." Kedua tangannya yang meremas dan berkeringat, menandakan kecemasan dan kegugupan pada Ratu. "Soal perkataanku__."
"Jangan pernah mencoba untuk bermain-main dengan kata-kata itu lagi, apa kamu tidak sadar dan tahu apanya arti pernikahan?" sela Raja yang tahu akan kegelisahan adiknya. "Kamu berucap hanya ingin menjauh dariku."
"Maaf, aku terbawa emosi sesaat. Itu tidak benar-benar aku katakan, semua hanya__."
"Munafik. Lain diucap lain di hati. Tidak perlu membebani pikiranmu dengan menjauh dariku, tidak perlu capek membuat drama kuno seperti itu lagi."
"Aku … aku."
"Sudahlah, kamu ingin terbebas dari kakakmu bukan? Kalau begitu aku akan menjauh sesuai dengan keinginanmu, anggap saja kita orang asing di rumah ini." Raja pergi setelah mengucapkan kata itu, menahan semuanya hanya untuk menyadarkan adiknya yang bersikap kekanak-kanakan.
"Kak, tunggu aku!" Ratu berusaha mengejar kakaknya, tapi kakinya tersandung dan menyebabkan lututnya berdarah. Dia menangis dan tersedu-sedu merasakan kesalahan yang fatal di lakukan olehnya. Hingga Bugh … dia terbangun dari tidurnya di saat tubuh terjatuh ke lantai.
"Ternyata itu hanya mimpi," lirihnya seraya menyeka keringat membasahi dahi.
Ratu merasa mimpi itu adalah mimpi yang paling menakutkan, dia tak suka bila kakaknya mengucapkannya. Memang dia ingin Raja untuk tidak mengekang nya lagi dan membiarkannya mengambil keputusan untuk dirinya sendiri, tapi dia juga takut kehilangan kakaknya karena hanya dialah keluarganya kandung yang menyayanginya tanpa syarat.
"Bagaimana ini?" Ratu merasa putus asa, mungkin dia akan meminta maaf dan mengakui kalau perbuatannya sangat salah, kembali lagi ke kehidupannya yang dulu. "Apa yang sebenarnya yang diinginkan hatiku?" monolognya seraya mengusap wajah dengan kasar.
Ratu tak ambil pusing, dia berdiri dan berjalan untuk mengambil air wudhu, mencurahkan seluruh perasaannya dan berharap menemukan jalan juga jawaban dari keinginan hatinya. Jam menunjukkan pukul tiga dini hari, sangat cocok untuk melakukan sholat tahajud.
Di pagi hari, Ratu melihat semua orang yang sudah ada di meja makan. Memberanikan diri untuk melangkah mendekati semua orang, dan pastinya mengakui kesalahannya. Sebab tidak mungkin dia akan menikah, darimana dia mendapatkan calon suami?
"Aku ingin mengatakan kalau__."
"Kita sarapan dulu!" ucap Adiba yang menyela perkataan Ratu.
Ratu menarik kursi dan ikut sarapan, diam-diam dia mengamati ekspresi semua orang tanpa ada senyuman di pagi hari. Dia menyuapi makanan dengan sendok, memaksakan diri untuk mengunyah makanan dan menelannya.
Selesai makan, Ratu langsung berdiri mengikuti Raja, dengan cepat dia menarik lengan kakaknya dan menatapnya sendu. Kedua matanya menunjukkan penyesalan mendalam, mengakui kalau perkataannya sudah menyinggung hati semua orang terutama Raja.
"Aku mohon, tolong maafkan aku."
Raja yang berekspresi dingin itu menoleh menatap adiknya. "Kamu sendiri ingin menikah 'kan? Maka aku akan mencarikan jodoh untukmu. Kami semua sudah membicarakan ini dengan kakek dan nenek."
Deg
__ADS_1
"Apalagi ini?" batin Ratu yang meraung-raung ingin berteriak sekeras mungkin, suasana semakin kacau mendengar semua ini.
"Dua hari lagi calon suamimu akan datang kesini, setelah aku menuntaskan tanggung jawabku padamu, maka aku menyerahkan tanggung jawab itu pada suamimu nanti. Dan di saat itulah, kamu boleh pergi kemanapun dan aku akan mengurus diriku sendiri."
"Kak, aku tidak bermaksud mengatakan itu. Kakak sudah salah paham dengan yang aku maksud." Ratu terus menggenggam tangan Raja, berharap kakak nya bisa mengerti dengan ucapannya kali ini.
"Aku tahu kamu tidak punya calon suami, jadi kami sudah menyiapkannya untukmu. Bertemulah dengannya dua hari lagi, dan siapkan mental lahir dan batin sebelum menuju jenjang pernikahan." Raja melangkah pergi menuju mobil, dia harus berangkat ke kantor dan menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat.
"Paman … Aunty," panggil Ratu yang memelas, berharap mendapatkan bantuan untuk meredakan kemarahan dan sikap kakaknya yang dingin.
"Kami tidak bisa ikut campur, semua dilakukan sesuai dengan keinginanmu. Kamu ingin menikah? Kami menyiapkan jodoh yang baik untukmu." Huan juga begitu, pergi meninggalkan meja makan dan berangkat ke kantornya.
Satu persatu semua orang meninggalkan meja makan, Ratu yang biasanya bersemangat makan menjadi tidak berselera. Dia juga memutuskan untuk kembali ke kamarnya, mengurung dirinya dan menuangkan perasaan lewat lukisan di atas kanvas.
*
"Bun, aku tidak ingin menikah! Mengapa kalian terus memaksaku?" protes seseorang yang mengikuti kemana langkah bundanya pergi.
"Tapi ini sudah menjadi keputusannya."
"Bagaimana keputusan itu bisa diambil secara sepihak? Sudah aku katakan ingin menikah saat menginjak usia kepala tiga."
"Itu kelamaan, Bunda mau cepat-cepat gendong cucu."
Pria itu mengusap wajahnya dengan kasar. "Kalau Bunda masih menjodohkan aku. Aku … aku akan minggat dari rumah!" ancamnya yang sudah sangat kesal.
"Yasudah, pergi saja. Toh Bunda masih punya stok anak," jawab wanita paruh baya dengan santainya. Bagaimana tidak? Ketiga anaknya berjenis kelamin laki-laki, dan usia perbedaan usia mereka hanya satu tahun. Ya, ini kasus yang sama sebab suaminya melarang untuk KB.
"Ya harus tega sama anak sendiri, sudah dewasa tapi belum nikah," sindir wanita paruh baya yang sibuk dengan aktivitasnya memasak.
Pria itu berusaha untuk mengontrol emosinya. "Baiklah, aku menerima perjodohan ini. Tapi aku harus lihat siapa calon perempuannya, dan aku juga berhak memutuskan ingin menikahinya atau tidak," putusnya.
"Dua hari lagi!"
"Apa?"
"Kita akan mengunjungi rumah gadis itu dua hari lagi."
Pria itu tak punya kesempatan untuk menolak, bisa-bisa dia dikeluarkan dari kartu keluarga juga tak namanya bisa di hapus dari ahli waris. Dia berjalan keluar dan memutuskan untuk pergi bekerja, sepanjang jalan wajahnya kusut seperti kain yang belum di setrika. Dia menjadi tidak fokus, bahkan beberapa orang menyapanya tidak dihiraukan, masalahnya kali ini cukup serius.
"Ini zaman modern, seharusnya tidak ada perjodohan," kesalnya di dalam hati, berusaha mengontrol dirinya.
"Maaf, anda di panggil oleh tuan Raja!"
"Apa?"
"Pak bos memanggil anda untuk datang ke ruangannya."
Pria itu mengangguk dan tersenyum, berjalan gontai masuk ke dalam ruangan. Tak lupa dia mengetuk pintu, setelah mendapatkan izin, barulah masuk ke dalam.
"Ada apa Tuan?" tanyanya penasaran.
__ADS_1
"Tuan Wijaya menghubungiku."
"Ayahku menghubungimu, Tuan? Ada masalah apa?"
"Beliau mengatakan untuk memberimu izin cuti dua hari kedepan, dan aku memanggilmu. Aku memberikan izin libur, selama ini kamu juga tidak pernah mengambil jatah libur."
Bara tersenyum kecut. "Terima kasih Tuan."
Raja tersenyum saat melihat kepergian dari asistennya yang menghilang di balik pintu, perjodohan yang tidak disangka-sangka sekaligus tidak diduga. Padahal dia hanya ingin bercerita kepada Kyai Abdullah mengenai sikap dan keinginan adiknya yang ingin sekali menikah tapi tidak mempunyai calon. Entah mengapa, dia juga tidak tahu alasan dari Kyai Abdullah yang dipanggil dengan sebutan kakek mengusulkan Bara sebagai calon adik iparnya.
"Mengapa kakek malah menunjuk Bara? semoga saja perkataan kakek benar, bahwa Bara adalah pria yang cocok untuk adikku, Ratu."
"Apa-apaan ini? Ayah juga meminta izin pada bos Raja, sepertinya ini sudah terencana," pikir Bara yang terus berjalan tanpa melihat situasi, hingga dia tidak sadar membuat orang lain tertabrak.
"Kalau jalan itu lihat-lihat, bukan melamun!"
Bara yang akhirnya tersadar menoleh dan membantu gadis yang mengenakan kerudung warna biru. "Maaf, aku tidak sengaja."
"Aku bisa sendiri."
Hingga tatapan keduanya saling bertemu, merasakan sesuatu debaran yang membuat jantung bekerja dua kali lipat.
"Ratu?" Bara tersenyum melihat gadis yang begitu di kaguminya, entah sejak kapan dia mencintai gadis itu.
"Mengapa dia tersenyum?" pikir Ratu yang mengira kalau Bara sudah gila.
"Sini aku bantu," ucap Bara yang hendak menolong, tapi Ratu terus menolaknya. Dia segera menarik tangannya dengan kosong. "Kamu ingin menemui kakakmu?"
Ratu ku tidak menjawab, hanya menganggukkan kepala, masalah ini harus dia selesaikan dengan kakaknya hari ini juga, berharap jika sang kakak berubah pikiran dengan dia meminta maaf.
"Aku harus pergi!"
Bara berteriak memanggil nama Ratu tapi tidak digubris. Dia memutuskan untuk pergi dan memikirkan masalahnya sendiri yang tidak mendapatkan jalan.
*
Dua hari kemudian..
Ratu sudah bersiap dan dibantu oleh aunty-nya, hari ini adalah pertemuan dengan pihak laki-laki yang akan datang berkunjung ke rumah. Semua orang yang telah bekerja sama untuk membentuk suatu hubungan, bahkan Kyai Abdullah dan Nyai Fatimah ikut hadir sebagai perantara perjodohan.
"Kamu sangat cantik, Ratu." Adiba memuji kecantikan keponakannya.
"Aunty, aku tidak ingin menikah. semua yang aku katakan hari itu adalah kesalahpahaman saja."
"Semua sudah diatur, ayo kita turun!" ucap Adiba yang tidak mendengarkan perkataan Ratu.
Setelah bersiap mereka keluar dari kamar dan menuruni anak tangga satu persatu, di bawah sudah ramai dipenuhi oleh dua keluarga yang akan mengikat lewat pernikahan.
Hingga akhirnya kedua orang yang akan dijodohkan itu saling bertatap mata, sontak hal itu membuat keduanya sangat terkejut.
"Kak Bara?"
__ADS_1
"Ratu?"