
Huan begitu kesal dengan keputusan Ken yang langsung membawanya ke dokter khitan, berawal dari bangun tidur dan saat membuka mata dirinya sudah ada di dalam mobil yang berhenti di sebuah bangunan putih yang tidak terlalu besar.
Huan sangat panik, ingin sekali dia kabur tapi apalah daya tangan dan kakinya diikat dengan tali yang simpulnya cukup sulit dilepaskan. "Kak, kamu ini kenapa? Kamu mengikatku seperti hewan qurban."
Ken menoleh sekilas karena dirinya duduk di depan mengemudikan mobil, terkekeh melihat Huan yang sudah seperti tawanannya. "Memangnya aku harus apa? Aku hanya membantumu, dan pernikahan itu diundur oleh kyai Abdullah, setelah kamu khitan alias sunat … baru boleh menikahi Adiba.
"Hei, mana boleh begitu. Aku sampai rela berhutang padamu agar hari ini menjadi pernikahanku," kata Huan yang masih menatap Ken kesal, dirinya yang begitu bahagia sampai terbawa ke alam mimpi, pernikahannya dengan Adiba tentunya.
Pletak
Ken menjitak kepala Huan yang menurutnya sangatlah bodoh. "Kamu punya otak tapi tidak jalan. Itu salah satu persyaratan dari Adiba dan keluarganya, kalau kamu menolak? Ya, terpaksa pernikahan itu tidak akan terjadi.
Huan terdiam saat Ken mengkaji nama Adiba. "Baiklah, demi wanita pujaan hatiku. Aku rela disunat," lirihnya dengan suara yang tidak terlalu bersemangat. "Apa itu sakit? Maksudku, saat kamu sunat apa itu menyakitkan?"
"Mau bagaimana lagi, aku menganggapnya sebagai pengorbanan dan itu berhasil. Aku menahan rasa sakit saat itu dilakukan, dan setelahnya tidak asal kamu tidak menyentuhnya."
"Apa kamu serius?"
"Apa kamu pikir aku ini berbohong?" ketus Ken menatap jengkel Huan.
"Kami 'kan selalu begitu, mana aku bisa mempercayaimu."
"Tidak perlu percaya, dan selamanya kamu tidak akan menikah," kecam Ken, di dalam hatinya sudah tertawa lepas melihat raut wajah Huan yang bimbang namun terpaksa agar menikahi wanitanya.
"Baiklah. Bisa kamu bukakan ikatan ini?"
"Tapi janji kamu tidak kabur," sahut Ken.
"Hem ya, aku berjanji."
Setelah melepaskan ikatan yang mengikat kaki dan tangan Huan, mereka keluar dari mobil masuk ke dalam klinik khusus khitan.
Huan mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, perlahan keringat membasahi pelipis dan juga tangannya. Ken yang melihat itu hanya menggeleng-gelengkan kepala.
"Kalau takut sebaiknya kita undur saja, begitupun dengan pernikahanmu."
__ADS_1
"Aku takut? Heh, tidak mungkin."
"Benarkah? Tapi aku melihat pelipismu berkeringat."
"Itu karena hawanya di sini sangat panas."
"Ruangan ber-AC kamu bilang panas?"
"Ya, mungkin AC-nya rusak."
"Mungkin saja. Kamu tunggu di sini, aku akan bicara dengan dokternya dulu."
"Ya."
Huan ikut mengantri, duduk di antara tiga orang anak kecil yang juga ingin khitan. Semua orang menjadikannya pusat perhatian, lebih tepatnya para bocah itu terkejut jika pria dewasa ingin khitan.
"Psst … psst, mendekatlah Om," bisik salah seorang bocah laki-laki yang duduk di sebelah Huan.
"Ada apa?" tanya Huan yang menundukkan kepala.
"Apa sewaktu kecil Om kabur saat ingin di sunat?"
"Temanku pernah cerita, kalau alat sunat untuk dewasa itu ukurannya lebih besar."
"Itu 'kan katanya, jangan menggangguku!" kesal Ken yang sebenarnya menjadi takut, tapi berpura-pura tetap cool agar harga dirinya tidak jatuh di hadapan ketiga bocah.
Satu persatu anak itu bergiliran masuk ke dalam ruangan, dan keluar menggunakan kain sarung dan di tangan mereka diberi lolipop sebagai penyemangat. Tibalah giliran Huan, ken ikut menemani karena takut kalau adiknya kabur atau bisa menghantam dokter.
Suster yang mendampingi dokter menahan senyum dengan pasien pria dewasa, tapi Huan berpura-pura cool agar harga dirinya tak di injak.
"Kamu siap?" tanya Ken sekali lagi.
"Aku sangat siap. Dokter, cepat lakukan! Aku memberimu kepercayaan penuh, jangan sampai kamu membuatku impoten atau klinik kecil ini langsung aku ratakan dengan tanah," kecam Huan yang sebenarnya menutupi rasa takutnya.
Huan berbaring di atas brankar dan menatap dokter dengan tajam. "Ingat Dok, jangan sampai aku impoten!"
__ADS_1
"Aku sudah berpengalaman, jangan khawatir."
"Berdoa lah agar ini cepat selesai."
"Iya iya, cerewet sekali."
Huan memejamkan mata tak ingin melihat prosesnya, sementara Ken terkekeh melihat senjata yang tidak bisa di atur. "Diam atau pisangmu bisa kena potong sampai ke tandan-tandan nya."
Setelah beberapa lama, akhirnya Huan keluar dari ruangan itu. Wajah yang tidak bersalah setelah drama apa yang telah diperbuatnya, kekesalan itu sangat tergambar di wajah Ken.
"Kamu membuatku sangat malu, anak kecil saja tidak akan berteriak seperti mu. Padahal dokter itu baru menjepitnya dengan gunting tapi kamu sudah sangat heboh, perkataan adalah doa. Memang kamu ingin jadi impoten? Beruntung dokter itu berpengalaman, kalau tidak aku yakin pasti salah potong."
"Yang lalu biarkan berlalu, sekarang nikahkan aku."
Pletak
Ken kembali menjitak kepala Huan. "Kamu lupa baru sunat? Luka baru sembuh seminggu atau dua minggu, itupun kalau kamu mau menahan dulu setelah menikah.
"Hei, jangan menjitakku, Kak." Huan protes sambil menatap Ken jengkel. "Aku tidak bisa menunggu selama itu," lanjutnya seraya berjalan mengangkang dengan tangan memegangi kain sarung.
"Dengan berjalan seperti itu? Hanya seminggu saja," jelas Ken.
Sesampainya di rumah, para pembantu, penjaga, tukang kebun berusaha menahan senyum mereka saat melihat cara berjalan Huan. Hal yang pernah dirasakan oleh Ken dulu sebelum dia menikahi Tari.
"Mereka berusaha tawa, seperti tidak pernah di sunat saja," umpat kesal Huan.
"Sudahlah, ayo masuk!"
Mereka berdua baru menginjakkan kaki di masuk melalui pintu utama, namun nasib malang dan kesialan malah menimpa Huan.
Huan berjalan dengan penuh hati-hati, cukup sulit bila berada dalam posisinya. Tanpa terduga, Raja yang asik bermain kejar-kejaran dengan Ratu tak sengaja menabrak Huan. Hingga pria yang baru di sunat itu berteriak kesakitan, tidak ada yang lebih buruk selain rasa ngilu yang teramat dalam.
"Maaf Paman Huan," ucap Raja yang menyesal.
Huan yang tak mampu berkata-kata segera di bawa lari ke kamar terdekat dan menghubungi dokter untuk memastikan semuanya. Hal yang sangat di sesali Tari karena tidak berhasil membuat anak-anak tenang, dan malam membuat adik iparnya sengsana.
__ADS_1
Sekarang Huan berada sendirian di dalam kamar setelah di periksa dokter, dengan sengaja menyalakan kipas angin karena menggunakan AC tidak mempan. Membuka lebar kedua kaki dan membiarkan angin merangkap di dalam kain sarung, sedikit mengurangi beban derita dan itu semua dilakukan demi calon istrinya.
"Adiba, demi kamu … aku sanggup merasakan rasa sakit ini, asal kamu bisa menjadi milikku," tuturnya dramatis dan penuh semangat. Kembali menikmati kipas angin yang menyejukkan bagian dalam yang di perban.