Akibat Dilarang KB

Akibat Dilarang KB
Tidak ada kabar


__ADS_3

Akhirnya aku bisa bernafas dengan lega, tidak ada Lisa di rumah ini yang membuat kepalaku pusing. Tidak apa-apa aku berkorban sedikit membantu dalam resepsi pernikahannya, menjadi seorang babu atau pembantu. Aku kembali pada rutinitas yang biasa aku lakukan mulai membuka orderan yang sekarang aku jual lewat online, bisnis yang cukup menguntungkan namun kue, roti, bolu, dan brownies tidak bisa bertahan lama. Aku membuat sesuai dengan yang pelanggan order, usaha yang dirintis dari nol mulai berkembang secara perlahan. 


Kini usia kandunganku sudah berjalan empat bulan, dan selama itu pula suamiku belum pulang sejak dia merantau. Rasa rindu yang mendalam begitu menghantui pikiranku, hubungan jarak jauh dan kondisiku dalam keadaan hamil menjadikan permintaanku tidak berarti. Seperti sekarang, aku ingin sekali memeluknya tapi hal itu tidak terkabul karena Mas Angga akhir-akhir ini mulai sibuk dengan pekerjaan barunya. 


Dia sudah diterima menjadi mandor dalam proyek besar, aku sangat beruntung karena suamiku telah mendapatkan pekerjaan yang lebih tinggi. Dia berjanji padaku yang akan pulang dua bulan lagi, tentunya aku tidak sabar menantikan hari itu tiba.


"Melamun tidak akan menyelesaikan pekerjaan rumah, cepat cuci baju sana!" 


Aku mendengar suara ibu mertuaku dan mengangguk, jujur saja di kehamilan yang menginjak trimester kedua membuatku sangat malas melakukan pekerjaan rumah. 


"Aku lakukan nanti sore aja, sekalian mau mandi, Bu."


"Kamu itu ya … harusnya sedang hamil itu banyak bergerak, agar persalinan lancar."

__ADS_1


"Mau gimana lagi Bu, selama ini kan aku tidak pernah malas, bawaan si jabang bayi yang membuat aku enggan melakukan pekerjaan rumah."


"Jangan jadikan itu sebuah alasan yang klise, memang kamu nya saja yang pemalas." 


Aku tidak ingin berdebat karena hampir setiap hari selalu saja berisik, dan hal itu hanya akan mempengaruhi kehamilanku. Segera aku melakukan pekerjaan rumah walau sedang enggan, kupaksakan langkahku dan gerak-gerik ku.


Setelah menyelesaikan semuanya aku melihat ibu melirik ponselnya yang ada di atas meja, aku yang bingung segera menghampirinya karena rasa penasaranku lebih besar. 


"Ada apa, Bu? Aku lihat ibu tidak tenang dari tadi?" tanyaku yang ikut duduk di sebelahnya.


Awalnya aku bersimpati saat melihat raut wajahnya yang kusut, tapi perlahan memudar saat aku mengetahui alasan di balik semua itu. 


"Positif thinking aja Bu, siapa tahu Lisa lupa."

__ADS_1


"Ahh, Masa sih dia lupa sama Ibu nggak seperti biasanya. Ibu kan pengen shopping dan jalan-jalan, uang tabungan juga sudah habis."


Mendengar kejujuran ibu membuat mataku terbelalak seakan tidak percaya, ternyata uang dari hasil menjual rumah wasiat bapak sudah habis tak bersisa. "Bagaimana dengan uang yang dikirim oleh Mas Angga?"


"Dia mengirim Ibu cuma satu juta delapan ratus ribu rupiah, uang segitu di zaman sekarang tidak berarti apa-apa."


Aku menghela nafas, sudah tahu maksud dari perkataan ibu yang mengartikan kalau aku telah menguasai anaknya dan juga gaji dari mas Angga.


"Kamu telepon Angga, dan bilang Ibu mau bicara!"


"Aku sudah menelponnya tapi tidak diangkat, akhir-akhir ini sangat sulit menghubunginya nanti saja karena pekerjaannya."


"Coba kamu telepon sekali lagi, soalnya ini penting. Ibu butuh uang mau beli perhiasan yang sedang ibu incar." 

__ADS_1


Aku mencoba untuk menghubungi kembali suamiku tetapi tidak terhubung, perasaanku tiba-tiba mengatakan ada hal yang mengganjal yang tidak tahu apa itu. Aku berdoa kepada Tuhan agar semuanya baik-baik saja melindungi suamiku yang jauh di rantau orang, serta memberikannya kesehatan.


__ADS_2