Akibat Dilarang KB

Akibat Dilarang KB
Lisa akan menikah


__ADS_3

Aku tidak tahu bagaimana kabar kehamilan ketiga ku terungkap, dimanapun aku berada selalu di pandang rendah. Benar kata orang tua dahulu, kita akan menjadi sasaran empuk kebencian dari orang-orang karena memiliki anak susun paku dan berjejer dengan usia yang hampir berdempetan.  


Saat mengendarai motor butut milik mas Angga, tidak sengaja aku melihat ibu mertuaku yang berkumpul dengan teman-teman sebayanya. Saat aku lewat, mereka menatapku sinis, sepertinya ibu menanamkan kebencian di hati mereka.


Aku menyapa mereka yang membuat semuanya terlonjak kaget. "Bu, mau pulang bareng?" tanyaku yang menatap ibu mertuaku. 


"Kamu aja yang pulang, Ibu masih betah di sini."


"Oh ya sudah, aku pergi dulu bu-ibu." Ucapku pada semua orang dan tak lupa senyuman di wajahku, menutupi rasa sedihku karena ibu sana-sini mengumbar keburukan kepada orang lain. 


"Iya." Jawab mereka serempak. 


Aku tersenyum tipis karena tahu bahwa mereka pasti menggosipkan aku, menjadikanku bahan utama karena sangat cocok menambah suasana semakin memanas. 


"Harusnya Angga menikah dengan Ima anak saya, Bu. Tapi malah memilih Tari, gak punya masa depan sama sekali." Ucap salah satu ibu-ibu yang mulai bergosip setelah kepergian Tari. 


"Sebenarnya saya juga gak setuju Tari dan anak saya, paling dia pakai pelet atau ilmu pemanis wajah hingga Angga bisa terjebak olehnya." 


"Saya dengar, Lisa anak Ibu sudah pulang ya." 

__ADS_1


"Iya, Bu. Memangnya kenapa? Tumben nanyain Lisa." Kedua raut wajah wanita paruh baya itu berkerut. 


"Kita sama-sama tahu, Lisa sudah dewasa dan sepantasnya dia sudah menikah." 


Dia hanya tersenyum menyetujui perkataan dari temannya. "Benar, tapi dia belum punya calon." 


"Bagaimana dengan anak pak camat? Kebetulan pak camat mau mencari calon menantu yang sesuai untuk anaknya."


"Anak pak camat yang mana Bu?" 


"Itu … yang namanya Rusli, dia butuh pendamping karena usianya sudah menginjak tiga puluh tahun." 


"Di coba dulu toh Bu, siapa tahu anak Ibu beruntung ke pilih. Beruntung gadis yang di pilih olehnya, secara anak pak camat yang di kenal tajir di sini." 


Gosip sekaligus mendapatkan informasi bagus, kebetulan dirinya ingin menjodohkan Lisa. Sepanjang perjalanan pulang, dia selalu menghayal hidup sebagai orang kaya, di segani oleh orang-orang. 


"Benar kata mereka, tidak salahnya aku mencoba. Lisa itu cantik dan prestasinya tinggi, mendapat gelar sarjana ekonomi."


Sesampainya pulang kerumah, dia melihat anak perawannya sedang membuat konten menari menggunakan pakaian mini yang kurang bahan. Karena tidak suka anak gadis satu-satunya yang berpakaian mini, dengan sengaja melempar sendal jepit yang dia kenakan dan tepat mengenai wajah anaknya. 

__ADS_1


"Apa sih Bu." Gerutu Lisa melempar sendal itu sembarang arah. 


"Mulai sekarang kamu harus berdandan cantik!" 


"Lah, memang perlu ya Bu?"


"Sangat perlu, Ibu ingin menikahkanmu." 


"Perjodohan? Heh, yang benar saja Bu. Zaman sekarang kok mainnya menjodohkan anak, sudah ketinggalan zaman Bu. Lebih baik Ibu urungkan niat Ibu untuk menjodohkan aku." 


"Dengarkan penjelasan Ibu dulu, dan terserah kalau kamu mau atau tidak. 


"Apa?" 


"Ibu berencana untuk menikahkanmu dengan Rusli, anak pak camat yang di kenal tajir melintir." 


Seketika itu pula minat Lisa tiba-tiba tertarik, saat melihat kalimat di akhir yang di ucapkan oleh ibunya. 


"Aku mau Bu, yang penting aku bisa hidup enak menjadi orang kaya." Semangat Lisa yang menggebu-gebu tanpa mengenal bagaimana sikap dan sifat Rusli. 

__ADS_1


__ADS_2