
Ratu kembali di paksa menjalankan bisnis toko roti milik ibunya, sangat bertentangan dengan minat dan juga hobi. Dia merasa kalau kehidupan ini bukan miliknya, seperti patung kayu yang dimainkan oleh orang lain. Meratapi nasibnya sebagai anak yang ditinggalkan orang tua, ingin sekali menjerit untuk menghilangkan tekanan batin. Beginilah nasib bagi anak yang di tinggalkan ibunya, hidup diantara pilihan orang lain dengan alibi itu yang terbaik. Padahal dia punya keinginan dan juga harapan, apa salahnya mengikuti keinginan hati.
Kemudian dia teringat pada ayah kandungnya, Angga. Sudah bertahun-tahun dia tidak bertemu dengan ayah kandung yang dulu menelantarkannya, berpikir untuk mencari keberadaannya. "Sebaiknya aku pergi menemui ayah Angga," monolognya untuk meyakinkan diri, walau dia sendiri tidak tahu keberadaan dari ayahnya itu. Pertemuannya hanya sekali, bahkan wajahnya saja tidak terlalu ingat. Entahlah, apakah dia bisa bertemu dengan ayahnya? Tetap yakin walau itu terlihat mustahil. Hanya satu orang yang tahu seperti apa rupa ayahnya, yaitu paman Huan.
Keesokan harinya, seperti biasa semua orang sibuk dengan aktivitas masing-masing. Ratu yang tidak punya aktivitas selain melukis itu memutuskan untuk mencari ayahnya dengan alibi jalan-jalan agar semua orang terutama Raja tidak mengkhawatirkannya secara berlebihan.
Ratu membawa tas kecil di punggungnya, masuk kedalam mobil dan memainkan ponsel. Sepanjang perjalanan dia menikmati waktu, kembali ke rumah yang dulu pernah mereka tempati yang sekarang menjadi pusat pembuatan kue terbesar. Ada rasa deg-degan setelah sekian tahun tidak bertemu, apakah ayahnya masih mengenalinya atau tidak. Mencari alamat dengan bertanya pada orang-orang, berharap pencariannya itu berhasil. Namun hasilnya nihil karena dia juga tidak tahu pasti bagaimana ciri-ciri dari ayahnya, pasti sudah banyak berubah dari tahun ke tahu. Dia harus menelan pil pahit, pencarian itu hanya sia-sia saja.
Cukup lama dia berkeliling, tapi tidak ada hasilnya. Ratu menghela nafas, tujuannya gagal mencari dimana keberadaan ayahnya. Tidak ada informasi yang di terima membuatnya putus asa, namun dia akan mencari ayahnya dan memerlukannya saat dia akan menikah nanti.
"Aku tidak punya foto dan juga tidak tahu percis ciri-cirinya, ini pasti sulit menemukannya," gumamnya.
"Ini sudah maghrib, apa kita meneruskannya atau pulang?" tanya pak supir seraya mengeluarkan ponselnya yang sedari tadi berdering. "Tuan Huan menelepon, saya angkat telepon dulu!"
"Iya, silahkan." Ratu melihat kepergian dari pria paruh baya yang dipanggil pak supir, kemudian ponselnya juga berdering. Tertera nama kak Raja di layar, enggan untuk tidak menjawab malah semakin gencar ponselnya berdering setiap saat bagai momok menakutkan.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam," jawab Ratu.
"Kamu dimana dek? Ini sudah maghrib loh, anak perawan seharusnya sudah sampai di rumah."
"Apa sih kak, ini juga mau pulang."
"Cepat pulang!"
"Iya … iya," sahut Ratu yang kesal, bukan karena di minta pulang tapi tidak berhasil menemukan keberadaan ayahnya. Dia berpikir sejenak, apakah ayah Angga masih ada atau sudah tiada.
"Cepat ya, kakak tunggu kamu di rumah."
"Hem." Ratu memutuskan sambungan telepon, dan kembali menyimpan ponselnya.
Sesampainya di rumah, Ratu di kelilingi oleh semua orang yang mencemaskannya. Raja menatapnya tajam dan sebagai seorang tersangka. Dia malah merasa bahwa semua orang bukan mengkhawatirkannya, tapi hanya bisa merundungnya. Di dalam posisi itu, dia merasa sendiri berada di dunia ini dan mengingat bagaimana ibunya yang memberikan kasih sayang dan selalu mendukung nya dalam kondisi apapun. Cairan bening itu lolos begitu saja melewati pipi, tapi dengan cepat di seka tak ingin terlihat lemah, hal itu malah membuat Raja kembali khawatir.
"Jangan menangis!" ucap Raja hendak menghampiri, tapi langkahnya tertahan saat Ratu menunjukkan telapak tangannya sebagai tanda tidak perlu mendekat.
"Memangnya aku punya pilihan lain? Ratu tidak boleh begitu, Ratu tidak boleh begini. Apa kalian pernah menanyakannya dulu padaku apa yang aku inginkan? Tidak 'kan." Ratu menyeka air matanya, dia sudah sangat lelah mengikuti perkataan orang lain, dan hal itulah menciptakan karakternya yang bar-bar. Dia selalu di cap sebagai gadis pembuat onar di pesantren, tanpa ada yang tahu kalau itu bukanlah menjadi keinginannya. Dia terus menguatkan dirinya, seakan-akan tidak terjadi apapun. Tanpa ada yang tahu bahwa hatinya sedang sangat terluka, banyak hal yang dia alami selama di pesantren yang tidak di ketahui kakaknya.
"Kenapa kamu bicara seperti itu?" Raja terluka melihat adiknya yang meneteskan air mata, menatapnya dengan intens sembari menunggu jawaban yang akan keluar dari mulut adiknya. Tapi dia tidak mengerti, mengapa Ratu begitu sedih dan bahkan sudah melenceng dari pertanyaan yang di ajukan.
__ADS_1
"Aku harus apa? Dari kecil kakak selalu memerintahku ini dan itu, tanpa pernah bertanya apa yang sebenarnya aku inginkan. Apa aku ini hanya boneka? Aku juga ingin hidup atas kendaliku sendiri."
"Tapi kamu adikku, dan menginginkan yang terbaik." Raja berusaha menjelaskannya, tapi sepertinya Ratu memperdulikan hal itu.n
"Ya, aku memang adikmu." Ratu meninggikan suaranya karena dia sudah muak dengan semua aturan yang membuatnya menjadi pembangkang.
"Katakan padaku! Mengapa kamu pulang terlambat?" tanya Raja, sedangkan yang lainnya membiarkan kakak dan adik itu berbicara.
"Aku hanya ingin mencari ayahku, itu saja," ungkap Ratu yang sudah sangat kesal, ingin rasanya dia pergi dari sana dan membutuhkan waktu sendiri. Kebebasan adalah hal emas yang sulit di gapai olehnya, setidaknya dia diberikan kebebasan dalam melangkah bahkan mencari keberadaan ayahnya masih di pertanyakan.
"Seharusnya kamu mengatakannya padaku, kamu pergi tanpa memberi kabar."
"Aku sudah menghubungimu, tapi tidak di angkat."
Raja segera mengecek ponselnya, dan memang benar ada tiga panggilan tak terjawab. Dia mengusap wajahnya dengan kasar, karena sibuk bekerja sampai dia lupa mengecek ponselnya.
Ratu tersenyum meringis, sambil menatap kakaknya yang selalu sibuk dengan pekerjaan, tapi tetap menyalahkannya. "Kakak sibuk dan tidak pernah ada, tahunya hanya menyalahkan aku, bahkan aku juga disalahkan karena tidak lulus dua tahun lalu. Aku juga ingin lulus dua tahun sebelumnya, mau sekeras apapun aku belajar tetap tidak bisa menangkap pelajaran. Aku … aku." Bibir Ratu tak mampu berucap, masalah yang selama ini di simpan langsung mengeluarkannya dalam bentuk kemarahan dan unegnya.
Raja terkejut mendengar perkataan Ratu, dia terdiam dan lidahnya terasa keluh. "Ini dua hal yang berbeda, dia tidak akan mengerti," pikirnya.
"Berhentilah mengatur kehidupanku!" Ratu yang hendak pergi di cekal oleh Raja. "Ada apa lagi?"
Puncak kemarahan Ratu sudah mencapai ubun-ubun, dia menepis tangan kakaknya. "Karena Kakak tidak pernah tahu apa yang aku inginkan, banyak hal yang aku lewatkan dalam tekanan dan selalu aku yang disalahkan." Dia langsung berlalu pergi menaiki beberapa anak tangga dan berlari masuk ke dalam kamarnya, tak lupa menutup pintu.
Semua orang terdiam melihat sikap Ratu yang sangat berlebihan, padahal mereka hanya mengkhawatirkan gadis itu.
"Kenapa Ratu memberontak seperti itu?" tanya Huan yang terkejut dengan sikap Ratu,seperti menahan sesuatu dan meledak hari ini.
"Aku juga tidak tahu Paman, apa di pesantren dia mengalami perundungan?" cetus Raja seraya berpikir menatap Huan.
"Paman rasa ada yang tidak kita ketahui, dia memberontak seperti itu pasti ada sebabnya."
"Aku harus menyusulnya!" Raja hendak meninggalkan tempat itu, tapi di tahan oleh Huan. "Kenapa Paman?"
"Dia butuh waktu sendiri, biarkan saja!"
*
__ADS_1
Ratu memang sangat kesal, tapi dia juga melupakannya dengan cepat. Kemarahan sesaat itu hanya bentuk mengeluarkan semua uneg-uneg yang selama ini di tahannya, minimal beban yang sudah diledakkan itu sudah berkurang. Setelah bersiap-siap, dia keluar dari kamarnya dan menyapa semua orang tanpa mengingat kejadian kemarin.
Dia ikut sarapan bersama dan menatap semua orang secara bergantian, hal itu membuat Raja bingung.
"Ada yang ingin kamu sampaikan?"
"Aku ingin menikah!"
Sontak semua orang sangat terkejut dengan permintaan Ratu yang unlimited, tidak menyangka kalau itu keinginannya. Terutama Raja yang melirik pamannya, kemudian fokus pada sang adik yang menunjukkan raut wajah polosnya.
Segera Raja memeriksa dahi Ratu, memeriksa untuk mengecek suhu tubuh untuk membuktikan kalau adiknya tidak dalam keadaan sakit. "Suhu tubuh mu normal, mengapa tiba-tiba mau menikah di usia sembilan belas tahun?"
"Karena aku lelah berada di bawah ketiak kakak, jadi aku memutuskan untuk menikah saja."
Adiba menatap Huan dan tak percaya dengan alasan yang diberikan oleh Ratu. "Apa ini karena semalam? Kakak mu yang suka mengekangmu?"
"Tidak juga, aku hanya ingin menikah," ucap Ratu dengan santai. "Karena aku lelah, tidak ingin menjalankan bisnis keluarga, tidak suka berada di bawah ketiak kak Raja, juga ingin mengembangkan hobiku," pikirnya di dalam hati.
"Tidak boleh, usiamu baru sembilan belas tahun dan aku tidak akan mengizinkanmu menikah dengan alasan seperti itu. Kamu menikah harus siap lahir dan batin, jangan asal menikah!" tutur Raja memberikan nasehat untuk adik tersayangnya.
"Aku tetap ingin menikah."
Keras kepala Ratu tak akan bisa di lawan, Raja mengambil tindakan sebaliknya.
"Apa kamu sudah punya calon suami?" Raja menantang adiknya dengan sebuah pertanyaan yang langsung mematahkan semangat Ratu.
"Hah, benar juga. Aku mau menikah tapi tidak punya calon suami? Dasar konyol," ucapnya dalam hati. "Akan aku cari nanti."
Diam-diam Raja tersenyum melihat adiknya yang tidak bisa berkutik. "Ya sudah, kamu cari saja calon suaminya dan aku akan menyeleksi nya apakah dia pantas untukmu atau tidak."
"Aku akan membawanya ke sini untuk menemui kakak dan kalian semua." Ratu berlalu pergi dari tempat itu seraya berpikir panjang, bagaimana dia mendapatkan calon suami dengan cepat. "Aku memang konyol, ingin menikah tapi tidak ada pasangannya. Lalu apa dayaku, ini salah satu jalannya agar aku tidak selalu berada di ketiak kak Raja."
"Ada apa dengan Ratu, mengapa tiba-tiba dia ingin menikah?" pikir Huan yang semakin bingung dengan pola pikir sang keponakan.
"Itu artinya dia ingin menjauh dariku," jawab Raja yang sudah mengerti mengapa tiba-tiba adiknya ingin menikah.
"Bagaimana dengan tanggapanmu?"
"Paman tengah saja aku bisa mengatasi ini."
__ADS_1
"Aku percaya padamu."
"Tidak akan aku biarkan dia menikah hanya karena alasan ingin menjauhiku. Lihat saja nanti! Apa yang bisa aku lakukan," ucap raja di dalam hatinya serayan pergi meninggalkan tempat itu.