
Aku sangat terkejut melihat kedatangan Rusli yang mengetahui keberadaan istrinya, aku melihat Lisa yang menatap suaminya dengan ketakutan luar biasa. Bisa di lihat seberapa kejamnya Rusli, aku tidak tahu apa saja yang di lakukan oleh pria itu yang jelas aku harus membantu Lisa.
Aku segera berdiri dan memasang badan, tidak peduli yang aku lawan adalah anak pak camat. Diam-diam aku merekam pembicaraan, dan luka fisik yang di alami Lisa juga akan menjadi bukti.
"Aku tidak punya urusan denganmu, menyingkirlah kalau masih ingin selamat!"
Lisa bersembunyi di belakang punggung ku, dia menggelengkan kepalanya dan sangat ketakutan melihat kemurkaan daei suaminya.
"Pergilah dari rumahku!"
"Heh, hanya wanita miskin tapi sombong. Biarkan aku membawa istriku pergi!"
"Istri yang mana? Agar kamu bisa menyiksanya? Pergi atau orang-orang tahu mengenai tabiat burukmu. Kamu pasti tahu apa akibatnya jika semua orang tahu? Posisi ayahmu bisa lengserkan sekejap mata." Aku mencoba untuk mengancam Rusli dan berdoa kalau kedua anakku tidak terkena imbasnya dari keberanianku menjadi pahlawan kesiangan untuk Lisa.
__ADS_1
Rusli tampak berpikir dan dengan terpaksa pergi dengan tangan kosong. "Tunggu saja, kalian sudah bermain-main denganku!" ancam nya dan berlalu pergi meninggalkan rumahku.
Lisa menangis ketakutan, terdengar jelas suaranya bergetar hebat. Aku berusaha menenangkannya tapi selalu saja gagal, segera aku ambilkan segelas air mineral dan menyuruhnya meneguk sampai habis.
Aku terkejut saat Lisa langsung bersimpuh di kakiku, dia menangis sejadi-jadinya menyesali perbuatan buruknya. Situasi sulit tidak ada kakak maupun ibu yang mendampinginya, hal itu membuatnya sadar akan kesalahannya padaku yang ada di saat dia benar-benar butuh pertolongan.
"Bangun Lisa, jangan bersujud di kakiku, ini tidak baik." Bujukku yang berjongkok dan menarik kedua bahunya.
Aku terdiam dan menarik tubuhnya paksa dan mendudukkannya ke atas sofa. "Jangan menangis lagi, sebisanya aku membantumu."
Lisa memelukku dengan erat, entah beberapa kali dia meminta maaf dan mengucapkan terima kasih padaku. "Aku memaafkanmu, jangan menangis lagi."
"Iya Mba. Kalau boleh tahu, bagaimana kabar kak Angga dan ibu?"
__ADS_1
Aku kembali terdiam sesaat, menarik oksigen dalam dan mengeluarkannya secara perlahan. "Mas Angga sudah menikah dengan Siska, dan ibumu pergi entah kemana setelah masa tahanannya di kurangi."
"Apa?"
"Hem."
Aku tidak ingin berbohong, jujur saja aku tidak bisa banyak membantu Lisa. Melakukan sebisanya, karena tidak ingin Rusli bertindak nekat melukai anak-anakku. Aku menceritakan semua mengenai ibu yang ingin tinggal di rumahku pada Lisa, dia sangat terkejut mengetahui kalau aku tidak memberikan tempat tinggal pada ibunya hingga mereka berpisah.
"Mba kok tega banget sama ibu, padahal ibu hanya ingin tinggal di sini. Mba munafik, membantuku tapi tidak ikhlas."
Bagai di sambar petir di siang bolong, ku kira Lisa berubah nyatanya sama saja. Aku hanya diam mendengar celotehannya yang membuat darahku berdesir, sudah tidak tahan dengan. semua makian yang dia katakan dan aku menamparnya.
"Sudah cukup kamu menghinaku, aku melakukan itu karena ibumu tidak berubah. Aku pikir kamu berubah, heh … tapi ternyata sama saja. Keluargamu tidak akan pernah berubah, aku tidak ingin terlibat urusanmu dengan Rusli. Pergilah dari rumahku sekarang juga!" usirnya.
__ADS_1