Akibat Dilarang KB

Akibat Dilarang KB
Bab 87


__ADS_3

Satu minggu telah berlalu, sesuai dengan kesepakatan bersama, jika pernikahan akan diadakan setelah Huan sudah khitan. Itu pun banyak drama yang dilalui oleh keluarga Tari, semuanya heboh dengan apa yang terjadi pada mempelai pria yang selalu banyak bicara. 


Kini tibalah saat yang paling di tunggu-tunggu oleh semua orang, tapi yang paling bersemangat adalah Huan. Dia tampak rapi dengan setelan jas hitam yang dipadupadankan dengan kemeja berwarna putih dan juga dasi kupu-kupu berwarna maroon menonjolkan kulit putihnya. Rambut yang disisir rapi, wajah tampan nan mempesona menjadi daya tarik tersendiri. Senyuman yang terlukis di wajah menjadi gambaran kebahagiaannya saat ini, sudah tidak sabar untuk mengucapkan ijab qobul. 


"Kamu sudah siap?" tanya Tari dan Ken yang masuk ke dalam ruangan, takjub dengan penampilan Huan yang terlihat sempurna. 


"Tentu saja, aku sudah menanti hari ini."


"Penantian seminggu saja kamu sudah mengeluh."


"Tapi bagiku seminggu rasa setahun, sangat lama dan hari-hari berjalan lama." 


"Wah, Paman terlihat sangat tampan," celetuk Raja yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan, berjalan mendekati Huan menatap dari ujung rambut hingga ke ujung kaki. Dia menunjukkan jempolnya dan mengayunkan nya ke udara, namun terdiam saat melihat sesuatu yang sedikit aneh. "Apa Paman sudah bisa berjalan normal?" 


"Tentu saja bisa, bahkan Paman sudah bisa berlari, berenang, dan berjalan." 


"Sebaiknya kita keluar, sebentar lagi pihak perempuan segera tiba di sini." 


"Iya." 


Dalam satu ruangan yang luas, semua orang hadir ikut dalam menikmati khidmat dari pernikahan yang akan di langsungkan. Kyai Abdullah mengundang semua kenalannya, dan termasuk para santri ikut hadir dalam meramaikan. Pihak perempuan yang memenuhi ruangan itu, sementara pihak keluarga laki-laki bisa di hitung jari. 


Huan berkeringat di bagian pelipis dan juga tangannya, saat ini kepercayaan diri yang sudah dikumpulkan menghilang seketika dan dia malah dihinggapi rasa gugup yang luar biasa. 


"Ya ampun, ini kali kedua aku gugup setelah ditagih hutang oleh kak Ken," gumam Huan di dalam hati. 


Huan berusaha untuk menyamarkan kegugupannya, mengedarkan pandangan keseluruh ruangan yang penuh. Dia merasakan sesak, bukan sebab orang-orang menyaksikan dirinya mengucapkan kalimat sakral pengikat dua insan dalam bahtera rumah tangga, melainkan tak melihat keberadaan Adiba dan sangat penasaran dengan penampilan calon istri yang sebentar lagi menjadi istri sah. 


"Adiba ada di kamar, setelah selesai mengucapkan ijab kabul maka kamu diperbolehkan untuk melihatnya." 


Huan hanya manggut-manggut kepala. "Rasanya aku sudah tidak sabar, seperti apa rupa Adiba. Namun seperti apapun itu, aku akan tetap mencintainya tanpa berkurang," pikir Huan, yang sebenarnya sebelum pernikahan diperbolehkan untuk melihat wajah sang calon istri, tetapi dia ingin menjadi surprise di malam pertama ketika sudah sah mengikat wanita itu dalam pernikahan. 


Acara yang sakral disaksikan oleh banyak orang, suasana yang mencekam dan juga tegang itu akhirnya terselesaikan dengan dua kali pengucapan ijab qobul. 


"Sah?" 


"Sah," balas semua orang dengan serempak. 


Huan bisa bernafas lega, dia sudah sah menjadi seorang suami. Rasa bahagia yang tak bisa digambarkan begitupun dengan Adiba yang meneteskan air mata bahagia. 


Huan masuk ke dalam kamar dan ingin menyentuh ubun-ubun sang istri, tak lupa dengan doa yang mengiringi. Wajahnya langsung tertegun saat melihat Adiba yang melepaskan cadar, di luar ekspektasinya karena seperti mendapatkan bonus. 

__ADS_1


"Cantik." Satu kata yang keluar dari mulut Huan, sedangkan Adiba menunduk kepala di sertai dengan rasa malu menahan wajahnya yang merona. 


*


Hari yang sangat melelahkan, sekarang adik iparku telah menikah. Aku, suamiku, dan anak-anak tidur di kamar yang sudah di siapkan oleh istri kyai Abdullah, karena kelelahan setelah acara. 


Ken tersenyum saat melihat Raja dan Ratu yang sudah pulas tertidur, aku bergeser untuk mendekatinya. 


"Kenapa menatapku begitu?" tanya Ken yang salah tingkah. 


"Aku cukup beruntung mendapatkan suami dan ayah yang terbaik." 


"Aku mencintaimu, hanya itu." 


"Aku bosan." Memang benar aku sangat jenuh saat ini, perubahan mood selalu saja muncul di waktu yang tidak tepat. 


"Mau liburan?" tawar Ken langsung aku membalasnya dengan gelengan kepala. 


"Bisa berikan aku gambaran?" 


"Aku juga tidak tahu apa yang aku inginkan." 


"Sepertinya kamu butuh liburan, bagaimana kalau kita berlayar saja? Melihat pemandangan di atas laut." 


"Baiklah. Kita akan liburan selama tiga hari, sekaligus mengajak pengantin baru itu ikut bersama." 


"Lebih banyak orang, itu sangat menyenangkan." 


"Hem, tidurlah dulu!" 


Aku mengangguk patuh, namun heran saat melihat suamiku yang beringsut dari tempat tidur. "Mau kemana?" 


"Ingin menemui Huan dulu." 


"Suamiku tersayang, jangan mengganggu mereka." 


"Aku tidak mengganggu." 


Aku menghela nafas saat Ken sudah menghilang di balik pintu. "Selalu saja begitu."


Sementara di sisi lain, Huan yang sangat ingin menikmati malam romantis malah di ganggu dengan suara ketukan pintu beberapa kali. 

__ADS_1


"Ya ampun, siapa yang menggangguku?" batinnya Huan yang mendengus kesal. Dengan terpaksa membuka pintu dengan celah yang sangat sedikit mengingat istrinya tidak memakai cadar. 


Perasaan kesal semakin kesal melihat kakaknya ada di depan pintu, menunjukkan senyum tak bersalah. "Kamu tahu ini malamku, mengapa kamu datang ke sini? Pergilah!" Usirnya sarkas. 


"Aku ingin bicara denganmu, penting." 


"Apa yang penting dari malam pertamaku? Tidak ada, pergilah karena itu hanya sia-sia saja." Baru saja Huan hendak menutup pintu, tapi ditahan oleh kaki Ken. "Apalagi sekarang?" geramnya. 


Ken tersenyum tanpa bersalah sedikitpun, menyeret tangan Huan agar menjauh dari kamar menuju sebuah ruangan yang hanya ada mereka berdua. 


"Ada yang ingin aku bicarakan padamu," jelas Ken. 


"Apa?" 


"Dua hari lagi aku ingin berlibur dengan anak-anak dan juga istriku, melihat pemandangan laut di atas kapal pesiar. Tari juga menginginkan kamu ikut bersama istrimu, kita pergi berlibur sekaligus honeymoon mu."


"Honeymoon tercipta karena ada dua orang yang ingin memadu kasih, jika pergi bersama-sama itu namanya piknik." Huan menunjukkan wajah yang tersenyum masam. 


"Anggap saja sama. Apa kamu setuju? kuharap kamu setuju karena ini permintaan dari Tari yang tidak bisa aku abaikan." 


Huan terdiam beberapa saat kemudian mengangguk. "Baiklah." 


Ken yang merasa senang menepuk pundak adiknya dan tersenyum. "Sebenarnya ada hal yang lebih serius daripada itu," lanjutnya. 


"Apa?" 


"Beberapa hari ini aku merasakan ada hal yang aneh tapi aku tidak bisa menjelaskan apa yang akan terjadi." 


"Apa kamu berkata seperti ini karena ingin memperpanjang waktuku? Ini malamku jangan mengganggu dengan cerita bualan itu." Huan yang diselimuti gairah malah emosi dengan Ken yang berusaha mengulur waktu. 


"Aku tidak berminat ataupun tertarik untuk mengganggu malammu. Ada satu hal yang ingin aku katakan padamu, bila aku dan Tari tidak ada di dunia ini … aku ingin kamu merawat anak-anakku walaupun Raja dan Ratu bukanlah anak kandungku." 


"Kamu ini bicara apa? Mengatakan itu seperti mau pergi saja," gerutu Huan. 


"Aku serius. Raja dan Ratu sudah aku anggap seperti anak kandungku sendiri, aku tidak bisa mempercayai ayah kandungnya dan juga nenek mereka." 


"Baiklah, aku akan menjaga mereka sesuai dengan perkataanmu. Kamu puas?" 


"Sangat puas." 


"Aku pergi dulu," pamit Huan yang berlalu pergi meninggalkan Ken seorang diri. 

__ADS_1


"Aku mempercayaimu Huan," lirih Ken yang tersenyum lega. 


__ADS_2