Akibat Dilarang KB

Akibat Dilarang KB
Bab 109


__ADS_3

Raja merebahkan dirinya di atas tempat tidur yang sangat empuk, rasa lelah dan ngantuknya sudah tidak bisa di negosiasikan lagi. Minimal dia tidur satu jam, baru kemudian bersiap untuk kembali ke kantor. Kamar yang bernuansa abu-abu putih menjadi warna favoritnya saat masih kecil, tersenyum karena permasalahan kantor bisa teratasi berkat bantuan pamannya. 


Baru saja Raja memicingkan kedua matanya, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu yang sangat mengganggu. Rasa ngantuk terpaksa ditahan, melihat siapa yang menggedor-gedor pintu. 


"Ya ampun, Zayden kurang kerjaan saja," gumamnya sambil beringsut dari tempat tidur, berpikir itu ulah si kembar yang memang selalu jahil padanya. 


Bugh


Raja mengucek matanya saat melihat seorang gadis yang terjatuh saat dia membukakan pintu, melihat dari dekat siapa yang mengganggunya. Sontak kedua matanya langsung segar saat melihat siapa gadis yang jatuh tersungkur. 


"Ratu," ucapnya seraya membantu adiknya untuk berdiri. 


Ratu menepis tangan kakaknya dan menatapnya tajam, sebab mengalami hal yang mengejutkan di kantor. "Aku bisa sendiri!" tegasnya.


"Aku hanya ingin membantu." 


"Tidak perlu." Ratu menolak pinggang menatap kakaknya marah. "Aku pergi ke kantor tempat kakak bekerja, tapi wanita itu terus saja mengoceh memintaku membuat temu janji dengan kakak ku sendiri, apa dia sudah gila? Padahal aku menjelaskan padanya kalau aku ini adikmu, apalagi nama kita itu sepadan." 


"Memangnya apa yang terjadi? Jelaskan pelan-pelan." 


 


Ratu mendengus kesal. "Aku pergi ke kantor untuk bertemu denganmu, tapi sesampainya disana aku tidak diizinkan masuk dengan berdalih sudah buat janji. Apa aku harus bertemu kakak dengan membuat janji dulu? Sangat menyebalkan," jelasnya seraya mengatur nafas, mengingat hal yang membuatnya marah dan di cap sebagai pembuat onar. "Ya, satu lagi. Aku bertemu dengan pria yang sepertinya bekerja disana, dia sama menyebalkannya dari wanita itu." 


Raja tertawa saat Ratu kembali menceritakan pengalaman pahitnya berkunjung ke kantor, apalagi di kejar oleh security dan dianggap sebagai mata-mata oleh pria menyebalkan. 


"Kalau kamu ingin berkunjung ke kantor, setidaknya menelfonku dulu."


"Oh tidak Kak, sepertinya aku masih trauma berkunjung kesana." 


Raja tersenyum. "Terserah kamu saja," ucapnya seraya melirik jam di dinding. "Kakak ingin tidur dulu, semalam begadang." 


"Oke. Kita bicara lagi nanti."


Raja mengangguk dan menutup pintu setelah adiknya keluar, menguap beberapa kali dan langsung menghempaskan tubuhnya agar fit untuk di forsir kembali. 


Adiba menatap Ratu yang baru saja keluar dari kamar, sambil menyiapkan sarapan untuk semua orang. Dia begitu merindukan masakannya sendiri, dan melanggar perkataan suaminya yang tidak memberikannya izin memasak selama mampu membayar pelayan. 


"Ratu, yuk sarapan!" ajaknya dengan suara lembut. 


Ratu yang dipanggil itu mengangguk. "Iya Aunty," sahutnya seraya berlari turun membuat Adiba senam jantung, takut gadis itu terjatuh. 


"Hati-hati Sayang, nanti kamu jatuh gimana?" kata Adiba memberikan nasehat. 


"Aman Aunty, gak perlu cemas." Ratu menunjukkan jempolnya ke udara, supaya auntynya tidak cemas melihat tingkah lakunya yang bar-bar. 


Adiba celingukan mencari keberadaan Raja dan yang lainnya. "Kakak mu mana? Dan semua orang?" 


"Kakak ingin tidur katanya, capek begadang. Dan yang lainnya__." Belum sempat Ratu melanjutkan perkataannya, lebih dulu melihat tiga orang yang sangat mirip itu berjalan menghampiri. 


"Kami sudah siap," sahut Huan, Zayn, dan Zayden serentak. Mereka bertiga sudah rapi dengan pakaian formal. 

__ADS_1


"Bagus. Duduk dan sarapan dulu sebelum berangkat sekolah, dan pergi bekerja," terangnya menatap si kembar dan suaminya secara bergantian.


Semua orang duduk di kursi masing-masing, mereka ingin menikmati sarapan dengan menu nasi goreng ala kampung. Baru kali ini mereka makan nasi goreng yang terlihat sangat sederhana, membuat tumpak selera makan Zayn dan Zayden yang terkenal pemilih makanan. 


"Eh Umi, ini apa?" tanya Zayden menatap Adiba. 


"Nasi goreng ala kampung, itu sangat enak. Cobalah!" 


"Kenapa tidak nasi goreng yang sering dimakan? Ini terlihat sangat tidak menarik, dari segi warnanya yang pucat," sambung Zayn turut berkomentar. 


"Yang penting enak," sahut Hanna yang menyukai nasi goreng itu. 


Huan juga berpikiran sama dengan kedua anak kembarnya, namun dia menghargai masakan sang istri yang sudah bersusah payah memasak dengan penuh cinta. 


"Jangan berkomentar sebelum kalian mencicipinya, makanlah selagi hangat!" 


"Baik Abi," sahut Zayn dan Zayden patuh. 


Selepas sarapan, satu persatu dari mereka pergi meninggalkan kursi dan meja makan, hanya menyisakan Hanna, Adiba, dan Ratu. 


"Kamu mau ke toko roti?" Adiba menatap Ratu dan menunggu jawaban. 


"Aku mau jalan-jalan dulu Aunty, nanti siang baru singgah ke toko untuk makan brownies coklat," jawabnya dengan penuh semangat. Membayangkan kue favoritnya yang di buatkan oleh ibunya dulu, rasa yang ada di toko masih sama dengan buatan ibunya. Setidaknya rasa rindu itu berkurang dengan memakan brownies dan kue, juga roti di toko milik mendiang ibunya yang sekarang dikelola oleh aunty Adiba. 


"Ya sudah, Aunty juga Hanna pergi dulu. Oh ya, bangunkan kakakmu karena dia harus ke kantor." 


"Siap Komandan," sahut Ratu yang berdiri tegak seraya meletakkan ujung jarinya di pelipis, persis seperti hormat pada upacara bendera di senin pagi. 


Ratu melanjutkan sarapannya yang ingin menambah lagi, masakan aunty Adiba menurutnya enak, tapi lebih enak masakan mendiang ibunya, Tari. 


Seseorang menepuk pundaknya membuatnya terkejut, dan melihat siapa yang mencoba untuk mengganggu lamunannya. "Kak Raja sudah bangun?"


"Tidak perlu heran, aku hanya memerlukan waktu satu jam saja untuk tidur."


"Apa itu cukup?"


"Di kantor aku sudah tidur, satu jam sudah cukup untukku. Kamu sedang apa di sini? Tidak ingin berjalan-jalan?"


"Maunya begitu, tapi tidak tahu mau pergi ke mana."


"Kalau begitu, ikutlah aku ke kantor!"


"Tidak Kak, jangan! Lebih baik aku di rumah daripada harus pergi ke kantor."


Ratu melihat guratan kecewa di wajah kakaknya. "Kakak kenapa?"


"Hari ini aku juga pulang terlambat, nah kita tidak akan bisa bertemu dan berbincang lebih lama. Itu sebabnya aku ingin membawamu pergi ke kantor," ungkap Raja yang sedih.


"Berhenti menunjukkan wajah sedihmu! Baiklah, aku ikut pergi ke kantor."


"Pilihan yang bijak, Adikku." Raja mencubit kedua pipi adiknya dengan gemas, biasa dilakukan saat dia di pesantren. 

__ADS_1


"Sakit Kak," ringis Ratu yang cemberut.


"Maaf." Raja melihat jam di dinding, dia mengirim pesan singkat kepada asistennya jika akan datang terlambat ke kantor. Setelah meletakkan ponsel di atas meja makan, Raja melirik adiknya dengan senyum yang penuh arti, dan hal itu membuat Ratu sedikit takut juga curiga.


"Mengapa menatapku begitu?"


"Tolong buatkan kakakmu ini sarapan, Kakak merindukan masakanmu!" bujuk Raja yang memelas sambil memperlihatkan perutnya yang keroncongan, juga memperlihatkan raut wajah memprihatinkan agar sang adik mau menuruti keinginannya. 


"Besok saja, sekarang aku sedang malas."


"Apa kamu tega membiarkan Kakak pergi dalam perut kosong? Apa kamu lupa ajaran yang diberikan oleh nenek?" 


Dengan terpaksa Ratu melangkahkan kakinya ke dapur dan memasak menu sederhana, menunya ditentu oleh bahan yang dia temukan di kulkas. 


Setelah selesai mengisi perut kosong, dua kakak beradik itu melangkah masuk ke dalam mobil yang dikemudikan oleh sopir, karena Huan tidak membiarkan Raja menyetir.


Sesampainya di kantor, Ratu mengedarkan pandangan menatap bangunan besar itu yang menjulang tinggi ke atas. Sedikit mengalami trauma dengan kejadian tadi yang baru dialami, berharap agar dia tidak bertemu dengan orang-orang yang menyebalkan. 


"Ayo turun!" 


Ratu mengangguk kemudian turun dari mobil, berjalan di sebelah sang kakak untuk masuk ke dalam kantor. Pemandangan itu dilihat oleh beberapa karyawan termasuk wanita yang bekerja sebagai resepsionis, dia terkejut jika gadis yang dicap sebagai pembuat onar memang benar adalah adik dari CEO. 


Raja tersenyum sambil menarik tangan adiknya dan datang menghampiri wanita yang bekerja sebagai resepsionis. "Dia adalah adikku, kapan saja dia ingin datang kamu harus membiarkannya masuk."


"Ba-baik Tuan." Wanita itu menundukkan kepala karena merasa malu, takut dipecat karena sudah mencari perkara dengan adik dari atasannya. 


"Jangan menunduk, lihat wajahku dengan baik-baik dan rekamlah. Aku trauma dengan kejadian tadi," celetuk Ratu yang hanya ingin menunjukkan perasaannya. 


"Maafkan saya, Nona."


"Sudahkah, aku seharusnya berterima kasih padamu, menjalankan tugas dengan sangat baik." Raja memuji wanita itu sedikit membuat Ratu kesal. 


"Terima kasih sudah mengerti, Tuan."


Raja mengangguk dan segera menarik tangan adiknya, dia tahu kalau Ratu akan protes. 


"Apa yang kakak lakukan? Aku ini trauma karena wanita itu."


"Lupakan saja, karena itu memang tugasnya. Dia tidak akan tahu jika aku tidak memperkenalkannya, bisa saja orang lain mengaku sebagai adik ku atau orang lain yang berkaitan denganku, dia hanya menjalankan tugas." 


Ratu menghembus nafas dengan kesal, perkataan dari Raja ada benarnya juga. 


Untuk pertama kalinya Ratu tertegun melihat ruangan kerja sang kakak yang sangat mewah, hingga perhatiannya tertuju pada sebuah foto yang terletak di atas meja kerja. Dia berjalan menghampiri dan meraih foto yang berukuran 5R dengan bingkai yang sangat indah, matanya terasa perih saat melihat kebahagiaan yang tercipta di foto itu. Sebuah kenangan lama bersama dengan ayah dan ibunya, senyuman mereka menandakan keharmonisan dan kebahagiaan di kala itu. 


Raja segera merampas foto itu dan menyimpannya di dalam laci, dia tidak ingin adiknya sedih dan membawanya untuk duduk di sofa. 


"Tunggu di sini! Kakak akan mengambilkan air mineral." Raja melangkah keluar menuju ke ruangan pantry, tidak enak menyuruh orang lain karena sudah terbiasa. 


Ratu sedih bila mengingat kejadian masa lalu yang membuatnya kehilangan ayah dan ibu juga adiknya yang belum lahir ke dunia, namun lamunannya terhenti saat mendengar suara pintu dan mengira itu adalah kakaknya. 


Sontak kedua pasang mata saling bertemu satu sama lain, seolah memiliki dendam pribadi. Ratu sangat terkejut melihat pria yang menyebalkan itu, menatapnya tajam.

__ADS_1


"Bagaimana penyusup sepertimu bisa masuk ke ruangan ini? Dengan siapa kamu bekerja?" tanya Bara dengan penuh selidik berjalan mendekati Ratu dengan penuh waspada. 


"Kamu di sini?" Ratu mendelik kesal, lupa kalau pria itu bekerja di sini. Tapi mengapa dia harus melihat pria itu juga berada di ruangan ini? Dunia memang sangat sempit, itulah yang ada di pikirannya saat ini. 


__ADS_2