Akibat Dilarang KB

Akibat Dilarang KB
Wanita yang memesan kue ku


__ADS_3

Aku selalu merindukan mas Angga siang dan malam, mencoba menghubunginya tapi ponselnya tidak pernah terhubung. Hal itu malah membuatku sangat kesal dan juga jengkel, seharusnya dia menelponku dan mengatakan kabarnya. Jika tidak ingin menanyakan aku, setidaknya dia menanyakan keadaan anak-anak. 


Aku menangis di setiap berdoa pada sang khalik, selalu aku memanjatkan doa untuk keselamatan dan dalam perlindungan. Aku mencoba untuk menghubungi teman kerjanya, tapi sayangnya teman mas Angga sudah tidak lagi bekerja dalam satu proyek. 


Makan tak enak, mandi tak basah. Pikiranku hanya tertuju pada mas Angga, aku merindukan dirinya, suaranya, dan candanya setiap kami melakukan video call. 


Aku bekerja tanpa lelah, walaupun mas Angga selalu mengirimkan uang setiap bulannya, tapi aku hanya ingin mandiri. Aku bahkan tak mengingat di tanggal berapa suamiku mengirimkan uang. 


Setelah semua pesanan sudah aku buat, aku hendak mengantarkannya pada para pelanggan. Semua aku masukkan ke dalam keranjang khusus, baru saja aku naik ke atas motor butut milik mas Angga, aku merasakan sakit di bagian perutku. 


Aku meringis kesakitan, segera turun dari motor dan duduk di kursi teras. 


"Ya Allah, sakit sekali." Lirihku yang sangat kesakitan, memegang perut menggunakan kedua tangan. Bibirku tak sanggup berbicara, ingin sekali aku berteriak tapi tidak bisa. Aku pasrah dengan apa yang terjadi padaku, namun sekilas aku melihat bayangan Raja dan Ratu yang menangis membuat hatiku merana. "Jangan ambil nyawa hamba … hamba tidak tega meninggalkan anak-anak." Ucapku di dalam hati. 


"Eh, kenapa kamu masih disini? Kerja sana, biar menghasilkan uang, jangan bergantung pada anakku terus." 

__ADS_1


Aku menoleh pelan, wajah ketus dan tidak pernah tersenyum padaku membuatku tersenyum getir. Dia tidak peka sedikitpun, apakah ibu membenciku dan menganggap ku musuhnya? Aku hanya bisa pasrah dan berserah diri, menerima setiap ujian yang di berikan karena aku yakin, setiap kesulitan pasti ada jalannya.


"Perutku sakit Bu." 


"Alah, cuma sakit perut biasa, nanti juga hilang." 


"Aku tidak sedang bercanda Bu." 


"Apa kamu pikir aku pun begitu?" jawab Ibu yang menolak pinggang, hendak berlalu pergi masuk ke dalam rumah. 


Aku berdiri di bangunan mewah dan besar seperti istana, terpukau melihat arsitektur bangunan yang ada di hadapanku. 


Aku tersenyum saat di perbolehkan masuk ke dalam, mengantarkan lima brownies. Baru saja aku masuk, aku di suguhi pemandangan yang suasananya kurang mengenakan. Ya, melihat seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik di usianya, mempersilahkan aku masuk dan dia menatapku dari ujung rambut hingga ke ujung kaki. Di tatap begitu membuat aku mengoreksi penampilanku yang sangat ini sangat sederhana, aku tidak menyangka jika pesananku dipesan oleh orang-orang kaya. 


"Mana pesanan saya?" tanya wanita cantik itu sedang membaca majalah tanpa menoleh, dan hal itu membuatku takut pada tatapan tajamnya. 

__ADS_1


"Ini Nyonya." Aku menyerahkan sama pesanan dari wanita cantik itu, setelah dia membayar aku hendak pergi tapi dihadang olehnya. 


"Kamu mau kemana?"


"Aku mau mengantarkan pesanan yang lainnya."


"Duduk sebentar. Apa kamu kakak ipar Lisa?" 


"Ya, Nona mengenal saya?" 


"Tidak. Tapi aku pernah memperhatikanmu, kamu masih sama seperti yang lalu." 


"Maaf?" Aku tidak mengerti maksud dari ucapannya karena aku tidak mengenal wanita paruh baya itu. 


"Aku istri pertama Rusli. Aku mengenal wajah-wajah keluarga Lisa si pelakor yang sudah merebut suamiku, aku sengaja memesan kue mu yang sebenarnya di jadikan umpan.

__ADS_1


__ADS_2