
Ken terdiam karena selalu saja mereka berdebat mengenai anak, baginya tak masalah punya anak banyak selagi dirinya mampu. Apalagi mengurusnya bisa menggunakan jasa baby sitter, itu akan semakin mudah. Andai Tari menyetujui permintaannya, tak apa punya anak banyak, tapi kelak itulah investasi terbesar ketika sudah menua dan ada yang mengurus mereka nantinya.
Ken hanya berfokus mengenai sudut pandangnya saja, tapi dia lupa untuk melihat dari sudut sang istri yang lebih mengutamakan kewarasan. Baginya sang istri pasti sanggup melakukannya, bukankah banyak anak banyak rezeki, lalu apa masalahnya dengan itu? Dia beranggapan tidak akan menjadi seperti mantan suami dari istrinya yang terlampau kejam. Melahirkan banyak anak, dan akan di asuh oleh baby sitter selagi mampu untuk membayarnya.
Ken menghela nafas kasar dan beranjak dari tempat tidur, mereka selalu berdebat jika membahas hal yang sama. Memiliki banyak anak adalah keinginan terbesarnya, memang Raja dan Ratu juga anaknya, tapi itu artian yang lain. Dia menginginkan anak-anak untuk menyambutnya dikala pulang bekerja, suara rumah yang dipenuhi gelak tawa dan tangisan anak-anak.
"Mengapa Tari tidak mengerti juga? Dia hanya hamil dan melahirkannya, selebihnya aku bisa membayar jasa baby sitter. Aarghh …." Ken mengacak-acak rambutnya dengan kasar, perbedaan pendapat yang ingin sekali dimenangkan.
Aku tak menyangka, jika suamiku menginginkan banyak anak. Mengapa Ken bisa seperti itu? Harusnya dia mendukungku agar memberikan jarak kehamilan, yang bisa saja beresiko. Apa dia sudah tak menyayangi Raja dan Ratu? Atau tidak menganggap anak yang aku bawa dari pernikahan ku sebelumnya. Mengapa dia berubah sangat cepat? Bahkan anak kami belum lahir ke dunia, tapi dia menginginkan anak keduanya juga dilahirkan. Aku sebenarnya tak masalah, hanya ingin memberikan jarak agar anak-anakku mendapatkan kasih sayang sebelum itu terbagi.
Keesokan harinya aku menyiapkan sarapan, namun aku tak melihat kemana perginya Ken. Aku sudah mencarinya di seluruh sudut ruangan, tapi tak menemukannya. Aku khawatir, dan juga cemas, apakah dia marah dengan keputusanku? Aku panik mencoba untuk menghubunginya, namun teleponnya tidak di angkat semakin membuatku kian panik.
"Kenapa dia seperti ini? Tidak biasanya dia mengabaikan telepon dariku," gumamku yang terus mencoba kembali menghubunginya, namun di menit berikutnya, ponsel Ken tidak mati yang membuatku tak bisa lagi meneleponnya.
Aku menangis dan aku sangat takut jika masa lalu kembali terulang, hanya karena aku menolak permintaannya.
Aku mengantar Raja dan Ratu ke sekolah masing-masing, dan mencoba menghibur diri dengan mengunjungi toko yang sudah lama tidak aku lihat, namun semua laporan sudah di serahkan Ratih.
"Loh, Mba Tari kok malah disini? Bagaimana kalau tuan Ken sampai tahu?" tanya Ratih yang menatapku bingung.
"Aku hanya ingin melihat perkembangan toko secara langsung, itu saja." Aku mengalihkan kesedihan dengan aroma kue yang sudah di panggang, aroma yang membuatku betah berlama-lama. "Bagaimana dengan pemasarannya?"
"Pemasaran cukup baik, diterima berbagai kalangan karena mereka menyukai cita rasa rasa berbagai varian," jawab Ratih bersemangat, karena keberadaan Tari membuat perekonomiannya semakin membaik.
"Bagus. Aku ingin berbagai macam jenis diantarkan ke ruanganku! Aku ingin sekali memakannya," titah ku yang bersemangat, perut lapar akibat mencium aroma kue yang begitu menggugah selera.
Aku menghela nafas lega, sekian lama akhirnya kembali duduk di kursi kebanggaanku. Pencapaian yang mengalami pasang surut mampu memberikan hasil yang sangat baik, hingga aku menuai sendiri apa yang sudah aku tabur.
__ADS_1
Suara ketukan pintu mengalihkan perhatianku, aku beranjak dari kursi dan berjalan membukakan pintu. Senyuman merekah perlahan menguncup saat melihat kedatangan mantan ibu mertua dan juga mantan suamiku, mas Angga. Entah bagaimana kebetulan ini bisa terjadi, namun aku tak ingin bila masa lalu mengganggu masa depanku.
"Ternyata benar, kamu sudah sukses sekarang."
"Sudah lama ibu tidak melihatmu dan juga kedua cucuku, ibu merindukan mereka," sambung bu Weni, mantan mertuaku yang sekarang duduk di kursi roda.
"Apa niat kalian sebenarnya? Mengapa bisa ada di sini?" ketusku yang sudah kehilangan rasa hormat pada mereka.
"Kami kesini ingin meminta maaf mengenai masa lalu, aku dan ibu merasa menyesal memperlakukanmu dengan tidak adil." Mas Angga menatapku dengan tatapan penuh penyesalan, tapi aku tidak bisa menyimpulkan kalau dia berubah, nyatanya aku selalu dibohongi.
Mas Angga juga menatap perutku dan juga tubuhku yang semakin berisi, dia tersenyum. "Selamat ya, sepertinya kamu mendapatkan suami yang lebih baik daripada aku."
Ada nada tersenyum getir yang aku dengar dan lihat, sangat malas berurusan dengan masa lalu yang masih meninggalkan bekas luka yang belum menghilang. "Aku sudah memaafkan kalian, yang lalu biarlah berlalu, semua sudah terjadi dan sekarang aku juga anak-anak sudah bahagia."
Angga mengangguk. "Benar, kamu dan anak-anak sudah bahagia. Apakah aku boleh bertemu dengan mereka? Aku merindukan kedua anakku."
"Baiklah."
Kami saling bertukar nomor telepon bukan bernostalgia melainkan demi kebaikan anak-anak yang perlu mengenal siapa ayah kandung mereka. Aku menatap punggung mereka yang perlahan menjauh dari pandangan, menghela nafas seraya mencoba mengontrol diri.
Setelah itu, aku mencoba untuk menghubungi Ken, namun nomor teleponnya tidak bisa dihubungi. Tidak ada cara lain, aku mencari keberadaannya di kantor. Dengan terpaksa aku meminta Ratih membungkus semua untuk aku dan suamiku cicipi di saat sudah sampai di kantor.
Semua orang menundukkan kepala saat kedatanganku di kantor, aku berjalan menghampiri HRD yang bertugas. "Apa suamiku ada di ruangannya?"
"Ada Nyonya, Tuan Kenzi ada di ruangannya."
Aku tersenyum. "Terima kasih."
__ADS_1
Ku langkahkan kaki berjalan menuju ruangan Ken, membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dulu karena aku sangat mencemaskan keadaannya. Namun apa yang aku lihat membuatku menganga tak percaya, seakan ini mimpi yang sangat buruk terjadi.
"Ken?" Aku memanggilnya, ketika dua orang yang terlihat sangat dekat memberi jarak membuatku sangat cemburu. "Apa semua ini?"
"Oh, perkenalkan … dia sekretaris baruku, namanya Mona."
Aku menatap gadis cantik dan seksi yang berpakaian formal, dia tersenyum sambil berjalan menghampiriku dan mengulurkan tangan sebagai perkenalan.
"Mona."
"Tari." Aku melirik Ken dengan tajam. "Kita butuh bicara!"
"Baiklah."
Aku menarik lengan Ken di saat keluar dari ruangannya, tentu saja menanyakan kedekatannya dengan sekretaris baru yang di luar batas kewajaran. "Ada hubungan apa kamu dengan Mona?"
"Aku bos dan dia sekretarisku."
"Katanya kamu akan setia, tapi apa? Kamu tidak mengangkat telepon padahal aku sudah puluhan kali menghubungi, aku sangat cemas tapi malah melihatmu dekat dengan sekretaris di luar batas kewajaran."
"Kamu berlebihan Tari, Mona tadi hanya membantu memasangkan dasi ku saja."
"Apa karena perdebatan itu kamu menghindariku, Ken?"
"Sudahlah Tari, jangan membahasnya. Dan mengenai hubungan ku dan Mona, tidak seperti yang kamu bayangkan. Sebaiknya kamu pulang, nanti kita bicara di rumah!"
"Aku menunggu penjelasanmu."
__ADS_1