Akibat Dilarang KB

Akibat Dilarang KB
Melepaskan kepergian mas Angga


__ADS_3

Sebelum kepergian dari mas Angga, aku menyiapkan semua keperluannya tanpa terlewatkan, memasukkannya ke dalam tas sandang. Air mataku ikut turun di saat sudah selesai berkemas, memikirkan nasibku dan anak-anak untuk ke depannya.


"Apa sudah siap?" tanya mas Angga yang muncul di belakangku, aku segera mengalihkan perhatian dan tersenyum sambil menganggukkan kepala. 


"Sudah Mas." 


"Oh iya, uang yang aku kasih itu jangan di perlihatkan pada ibu dan juga adikku. Simpan itu sebagai uang kebutuhan, karena aku tidak tahu kapan memberikan mu uang bulanan. Tapi kamu jangan khawatir, setiap hari kita akan video call." Jelas mas Angga yang mencium bibirku. 


Kedua anakku masih tertidur di saat ayahnya hendak berangkat pergi ke rantau orang, ciuman yang semakin lama kian menuntut. Aku melayani mas Angga terlebih dahulu sebelum dia pergi, berhubungan badan dengan penuh gairah. 


Setelah satu jam lamanya, aku yang sudah mengenakan pakaian juga mas Angga yang telah bersiap-siap. Ku perhatikan ayah dari anak-anakku mencium Raja dan Ratu seakan tak ingin melepaskan. 


Segera aku menyeka air mata, tak kuasa melihat mas Angga yang menangis, ini kali pertama dia pergi meninggalkanku dan anak-anak.

__ADS_1


"Mas pergi dulu, jaga dirimu dan anak-anak." Mas Angga menatapku serius, aku mengangguk sedih dan menyalami tangannya di iringi air mata dan juga doa agar selamat, tak lupa pula kesehatan di rantau orang. 


Setelah mas Angga memelukku, bergantian dia memeluk ibu dan juga adiknya. 


"Aku pergi dulu! Ibu, tolong bersikap lembut dan jangan menghina istriku saat aku tidak ada di rumah. Dan untuk Lisa, aku ingin kamu jaga keponakan mu, jangan pernah menyulit kan kakak iparmu." Pesan mas Angga memberikan nasehat petuah untuk ibu dan juga adiknya. 


"Iya, kami akan jaga istri dan juga anak-anakmu." 


Aku melihat langkah mas Angga kian menjauh, dia menoleh untuk terakhir kalinya sambil membawa ransel di punggungnya, melambaikan tangan diiringi dengan senyumannya. Aku membalas lambaian itu, ku lihat punggung suamiku yang menjauh dan menghilang dari pandangan. 


Aku menangis di tepi pintu, cobaan berat selalu saja mengujiku. Di saat aku berhasil menyadarkan mas Angga, dia malah pergi merantau jauh. Kini, tinggallah aku dan anak-anak, semoga saja aku bisa merawat anakku seorang diri yang biasa aku lakukan saat dulu suamiku itu masih bersikap acuh.


Aku berbalik dan masuk ke dalam rumah, ku lihat sekilas ibu dan Lisa yang tersenyum dan berbisik yang tidak aku pahami. Tapi aku sangat yakin, kalau mereka sangat senang dan bahagia atas kepergian mas Angga, dengan begitu mereka lebih leluasa menyulitkan aku. 

__ADS_1


Aku menghela nafas panjang dan segera membersihkan rumah seperti biasa, sebelum kedua anakku bangun, aku mengerjakan pekerjaan rumah dengan cepat. 


Semua sudah aku bereskan, tinggal mencuci piring. Kedua mataku selalu berkedip melihat pemandangan tumpukan piring kotor, aku menghela nafas berat karena semua itu ulah Lisa dan ibunya. Bahkan mereka sudah seperti ratu di rumahku, tanpa melakukan apapun. 


"Enak sekali kamu tinggal di sini tanpa melakukan apapun, selalu main ponsel." Aku menatap adik iparku yang bahkan acuh tak acuh, membuatku semakin kesal. "Itu semua piring kotor, tolong di cuci!" titahku. 


"Cuci aja sendiri, enak aja nyuruh-nyuruh … ibu aja gak pernah nyuruh aku mencuci piring." 


"Ini rumahku, dan siapapun yang tinggal disini harus mengikuti peraturan ku." 


"Ngancem terus, mentang-mentang rumahnya." Bukannya membantu tapi Lisa malah keluar rumah, sedangkan aku menahan amarah karenanya. 


"Ini akibatnya memanjakan anak." Gumamku menggelengkan kepala. 

__ADS_1


__ADS_2